Kekerasan dalam Hubungan Itu Ada di Sekitar Kita, Saatnya Buka Mata...

Pernah dengar istilah abusive relationship?
Abusive relationship adalah bentuk hubungan yang sering diwarnai kecemburuan, tidak ada kehangatan emosional, kurangnya kualitas hubungan yang erat, pelecehan seksual, ketidaksetiaan, penyiksaan secara verbal, ancaman, dusta dan pengingkaran janji. Berdasarkan data Komnas Perempuan, pada tahun 2012, sedikitnya ada 8.315 kasus dalam setahun. Jumlah itu mengalami peningkatan di tahun 2013 yang mencapai 11.719 kasus atau naik 3.404 kasus dari tahun sebelumnya.
Hampir separuh perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan psikis dan fisik yang dilakukan oleh pasangan mereka. Ini artinya, pasanganmu yang merupakan orang terdekatmu pun bisa melakukan hal yang tak terduga padamu.
Bagaimana ciri-ciri pasangan yang berpotensi melakukan kekerasan?

Banyak korban yang tak pernah menyangka bahwa pasangan mereka akhirnya akan melakukan kekerasan. Dan banyak pula yang berpikir bahwa jika pasangan mereka tak melakukan kekerasan fisik, maka mereka tak benar-benar menjadi korban. Namun tahukah kamu bahwa kekerasan psikis jauh lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik. Luka memar mungkin bisa hilang, tapi luka hati belum tentu bisa hilang dengan mudah.
Penting untuk mengetahui bahwa seberapa baik pasanganmu, ia mungkin memiliki kesempatan untuk melakukan kekerasan. Dan tak ada tanda-tanda khusus yang mengindikasikan bahwa seseorang akan melakukan kekerasan. Kamu akan tahu ketika ia sudah melakukan kekerasan padamu.
Bagaimana kamu bisa mengidentifikasi sebuah hubungan berpotensi untuk menjadi abusive relationship?

Abusive relationship pada umumnya jarang diketahui di tahap awal, namun semakin lama korban akan sadar bahwa pasangan mereka cenderung manipulatif dan sering mengontrol mereka. Pelaku kekerasan biasanya jarang sekali menunjukkan perilaku negatif mereka di awal hubungan. Setelah mendapat kepercayaan korban, secara perlahan ia akan menekan pasangannya hingga mencapai batas maksimal.
Setelah menekan pasangan terus-menerus, pelaku kekerasan ini akan meminta maaf dan menghujani pasangannya dengan berbagai hadian untuk mencegah pasangannya pergi. Di titik ini, korban akan merasa sebagai pihak yang pantas untuk disalahkan sehingga ia akan diam saja ketika pasangannya melakukan kekerasan.
Bagaimana kamu bisa menolong seseorang yang berada dalam abusive relationship?

Butuh keberanian ekstra untuk membuka diri jika kamu terlibat dalam abusive relationship, dan mungkin teman sekitarmu juga sedang mengalami. Ketika seorang teman bercerita tentang kekerasan yang dialami, mungkin kamu penasaran kenapa ia tak segera meninggalkan pasangannya.
Asal kamu tahu, hubungan seperti ini sifatnya kompleks, dan ada banyak alasan kenapa seseorang memilih untuk bertahan: rasa malu, tak percaya diri, takut merasa terluka, takut bahwa orang lain tak akan percaya, berpikir bahwa ini biasa saja, atau kurangnya dukungan.
Bukan kewajiban kita untuk meyakinkan mereka untuk meninggalkan pasangan mereka. Namun kewajiban kita adalah membantu memberi pilihan yang bisa mereka ambil tanpa harus mengorbankan banyak hal.

Yang bisa kita lakukan adalah dengan mendukung apapun pilihannya ketika mereka memutuskan sebuah hal. Memaksa mereka untuk meninggalkan pasangan mereka akan memberatkan, karena kita tak benar-benar ada di dalamnya. Situs seperti thehotline.org bisa memberimu informasi. Banyak organisasi yang menyediakan terapi dan konseling.
Kita semua pantas mendapatkan seseorang yang peduli terhadap perasaan kita, yang menerima setiap kekurangan, yang selalu mendukung setiap langkah.
Karena cinta tak seharusnya meninggalkan luka.