Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan untuk Tidak Mendukung Perselingkuhan

perselingkuhan
ilustrasi perselingkuhan (pexels.com/Alina Zahorulko)
Intinya sih...
  • Perbuatan perselingkuhan tetap salah, tak peduli alasan apa pun yang dikemukakan
  • Perselingkuhan memberikan dampak buruk pada banyak korban, termasuk keluarga dan instansi tempat pelaku bekerja
  • Ucapan pelaku perselingkuhan tidak bisa dipercaya, karena mereka cenderung pandai berdusta
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Berselingkuh sekarang mulai dianggap biasa. Ini tak lepas dari banyaknya kasus perselingkuhan yang terangkat ke media sosial. Ada orang yang berselingkuh dengan teman kerja, saudara ipar, atau sahabat pasangannya.

Setelah pelaku perselingkuhan dihujat banyak orang, sebagian dari mereka tidak tinggal diam. Mereka juga berusaha buat membela diri serta membersihkan namanya. Siapa pun yang berbuat serong, sebaiknya kamu tak menunjukkan dukungan padanya.

Kamu hanya orang luar. Lebih dari itu, semestinya dirimu menunjukkan empati yang besar pada korban. Bahkan jika pelakunya orang terdekatmu, memiliki gender yang sama denganmu, atau idolamu bersikaplah tegas terkait perbuatan tercela ini. Lantas, kenapa kita seharusnya tidak mendukung perselingkuhan? Yakinkan dirimu melalui beberapa alasan berikut ini.

1. Apa pun alasannya, perbuatannya tetap salah

perselingkuhan
ilustrasi perselingkuhan (pexels.com/Seljan Salimova)

Orang yang berselingkuh punya sejuta alasan. Beda dengan orang yang berbuat baik sering kali tak punya dalih apa-apa selain merasa sudah kewajibannya. Sementara pelaku perselingkuhan berusaha membuat perbuatannya terlihat tidak terlalu buruk.

Biasanya, dia akan menyudutkan pasangan resminya. Ada saja kekurangan pasangan yang dianggap pantas mendorongnya berselingkuh. Kadang ia juga menyalahkan partner selingkuhnya. Pasangan serongnya itu dituduh menggoda duluan dan terus-menerus.

Apa pun alasan yang dikatakannya tidak menghapus kesalahan yang sudah dilakukan. Perbuatan baik dan buruk tak bisa dicampuradukkan. Kamu gak perlu menggubris ucapannya. Cukup fokus pada tindakannya supaya pendirianmu tak goyah.

2. Perselingkuhan makan banyak korban

kesedihan
ilustrasi kesedihan istri (pexels.com/Vodafone x Rankin everyone.connected)

Perselingkuhan sangat menyakitkan bagi korban-korbannya. Artinya, korbannya lebih dari satu. Selain pasangan, ada anak serta keluarga besar. Bahkan bukan cuma keluarga besar pasangannya yang terdampak.

Keluarga pelaku perselingkuhan sendiri juga kena getahnya. Mereka ikut menanggung malu atas perbuatan serong tersebut. Orangtuanya misal, dapat merasa gagal mendidik anak untuk menjadi suami atau istri yang baik.

Bahkan instansi tempat pasangan selingkuh bekerja juga dapat terimbas. Meski hubungan pribadi bukan tanggung jawab kantor, image perusahaan atau lembaga dapat tercoreng. Masyarakat yang telanjur geram dengan perbuatan selingkuh itu dapat mengaitkannya ke budaya organisasi yang membiarkan terjadinya perselingkuhan.

3. Ucapan pelaku perselingkuhan tidak bisa dipercaya

kesedihan istri
ilustrasi kesedihan istri (pexels.com/cottonbro studio)

Orang yang berselingkuh sangat jago berdusta. Pada pasangan yang dinikahinya atas nama Tuhan saja, dia berani berbohong berkali-kali sampai berbuat zina. Apalagi di depanmu dan orang lain.

Tidak satu pun perkataannya pantas dijadikan pegangan. Orang yang gak jujur kalau diberi kepercayaan sedikit saja hanya akan makin suka berbohong. Betapa pun hatimu sempat tersentuh oleh ceritanya, ingat bahwa dia bukan orang jujur.

Apalagi dia gak punya bukti apa-apa yang menunjukkan tuduhan itu salah. Perkataan orang yang merasa menjadi korban perselingkuhan saja masih perlu diperiksa kebenarannya. Apalagi terduga pelaku serong.

Tidak ada orang yang berselingkuh dalam keadaan gak sadar. Setiap tindakan bermesraan dengan orang lain sampai ke perbuatan zina jelas membutuhkan kesadaran tinggi. Dia bahkan memikirkan berbagai siasat agar tak ketahuan oleh pasangannya.

4. Jangan sampai suatu saat kamu juga diselingkuhi

kesedihan istri
ilustrasi kesedihan istri (pexels.com/Ron Lach)

Kamu mungkin dengan mudahnya mendukung perselingkuhan karena belum pernah merasakan diselingkuhi. Dirimu selalu menyepelekan rasa sakit yang ditanggung korbannya. Kamu pun menggampangkan solusi buatnya.

Seperti, apa susahnya dia gantian berselingkuh biar adil? Atau, makanya jaga penampilan biar pasangannya gak serong. Kamu tak bakal bisa mengatakan hal yang sama buat diri sendiri apabila kelak mengalami hal serupa.

Orang yang mentertawakan orang lain pada akhirnya bakal ditertawakan. Meski kamu merasa cuma menjadi penonton yang bebas berkomentar, jangan lupa karma itu ada. Lebih baik jaga sikap ketika dirimu mendengar kabar perselingkuhan.

Memang jaga sikap pun tidak menjamin kamu aman dari peluang suatu saat menjadi korban perselingkuhan. Namun, paling gak dirimu menjadi lebih sadar dan waspada. Hal serupa dapat terjadi pada siapa saja.

5. Atau, justru jadi pelaku perselingkuhan yang mengacaukan hidupmu

perselingkuhan
ilustrasi perselingkuhan (pexels.com/Hameen Reynolds)

Sikap mendukung perselingkuhan sama dengan membuka peluang untuk kamu sendiri melakukannya. Ini memang belum tentu terjadi. Setidaknya sampai sekarang dirimu masih setia pada satu pasangan.

Akan tetapi, nilai moralmu sudah longgar. Hanya butuh sedikit alasan, pengaruh, serta situasi yang mendukung untukmu juga berbuat serong. Beda halnya apabila sejak awal kamu bersikap tegas mengutuk perselingkuhan.

Itu seperti benteng buat diri sendiri agar tidak melakukan perbuatan serupa. Minimal ada rasa malu kalau kamu hendak menjilat liur sendiri. Masa kemarin dirimu sibuk mengecam perselingkuhan orang lain lalu melakukan hal yang sama? Nikmatnya perbuatan serong tak ada apa-apanya dengan kekacauan yang timbul kemudian.

Tidak mendukung perselingkuhan bukan maknanya kamu mesti memaki-maki pelakunya. Cukup dengan gak membenarkan perbuatannya pun sudah tanda penolakanmu terhadap ketidaksetiaan. Siapa pun pelakunya, katakan salah bila memang ia keliru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

50 Contoh Soal PAS IPAS Kelas 5 Semester 1, Coba Kerjakan!

29 Nov 2025, 12:53 WIBLife