TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Beatrix Tapoona, Sosok di Balik Pondok Baca PALem di Tanah Lembata

#AkuPerempuan Kegigihannya patut menginspirasi kita semua

Instagram.com/beatrix_tapoona

Angin sore di Pantai Glagah Yogyakarta seakan membawa mimpi-mimpi yang ikut terbang bersamanya. Duduk santai di tepian pantai, membuat Beatrix Tapoona bersyukur akan kenikmatan serta anugerah yang telah Ia berikan untuk mewujudkan salah satu mimpi di tanah kelahirannya.

Di pulau seberang, tepatnya di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, beliau berhasil mewujudkan mimpinya untuk membangun sebuah pondok baca bagi masyarakat sekitar, terutama anak-anak.

***

Suatu siang, angin laut dan panasnya mentari menyapa kedatangan beliau di Pulau Lembata - NTT. Lamalera, yang terletak di Pulau Lembata menjadi saksi hidup perjuangan Ibu Beatrix Tapoona atau sering disapa Ibu Beatrix untuk mendirikan sebuah pondok baca di kota kecil ini.

Menempuh perjalanan dari Yogyakarta ke Kupang dengan pesawat, kemudian dilanjutkan jalur udara 45 menit dari Kupang ke Lamalera dan akhirnya perjalanan kurang lebih 3 jam dengan menggunakan jalur darat untuk sampai di kampung halaman. Ibu Beatrix, sosok pantang menyerah yang berhasil menginspirasi proses berdirinya Pondok Baca PALem di Tanah Lembata.

1. Kecintaan Ibu Beatrix pada buku menjadi inspirasi utama

Dok. Pribadi PALem/Beatrix Tapoona

Buku adalah jendela dunia yang bisa membawa para pembaca untuk menikmati keindahan dunia tanpa harus mendatangi lokasi aslinya karena cukup dengan berimajinasi, manusia tentu akan bisa membayangkan dunia mereka sendiri. Begitulah yang ada di dalam benak Ibu Beatrix.

Ibu Beatrix merupakan sosok yang gemar membaca, dari buku fiksi hingga non-fiksi pun menjadi koleksi di rak bukunya. Hal tersebut juga Ibu Beatrix tularkan sendiri kepada putera tunggal beliau, Raymondus Braja Restu, yang kini sedang mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.

Buku menjadi gudang inspirasi Ibu Beatrix untuk mengimajinasikan mimpi-mimpinya, salah satunya untuk membangun sebuah Pondok Baca PALem yang ada di Kabupaten Lembata. Untuk sampai ke Lembata, Ibu Beatrix harus menempuh perjalanan laut dari kampung halaman beliau di Lamalera.

Tentu saja bukan perjalanan yang mudah untuk ditempuh, apalagi untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tadinya nyaris menjadi wacana. Ibu Beatrix mengerahkan seluruh tenaga untuk bisa memajukan kampung halaman beliau tersebut.

Kecintaan Ibu Beatrix terhadap buku, membuat beliau paham akan banyak kisah inspiratif yang menggoda untuk mewujudkan niatan Ibu Beatrix yang sudah lama terpendam, yaitu membangun sebuah tempat baca bagi anak-anak kampung nelayan dari mana beliau berasal.

“Rasa itu semakin kencang bergetar ketika mengikuti petualangan Santiago. Dikisahkan begitu hidup oleh Paulo Coelho dalam Sang Alkemis, buku yang sangat maksud. Mimpi mendapatkan “harta karun” di Piramida memberi dia nyali baru setiap kali dia mengalami kesulitan, dibohongi dan kehilangan uang, harus membantu di toko dan berjalan melintasi padang gurun menuju Mesir tempat Piramida berada," kisahnya.

"Dalam pengembaraan di padang gurun melewati peperangan antar suku dan nyaris menjadi mangsa pedang musuh, mendapat pengalaman luar biasa tentang  cinta dan hakikat kehidupan,” pungkas Ibu Beatrix.

Baca Juga: Semangat Ima Novita Siregar Mengabdi untuk Anak-anak Samosir

2. Belajar dari tanah rantau di Yogyakarta

Dok. Pribadi PALem/Beatrix Tapoona

Ibu Beatrix tidak pernah berdiam diri untuk mewujudkan mimpinya mendirikan sebuah pondok baca di Tanah Lembata. Pada tahun 1987, Ibu Beatrix merantau dari kampung halamannya di Lamalera menuju Yogyakarta. Ada banyak hal yang beliau temukan di Yogyakarta.

Di Yogyakarta, Ibu Beatrix memutuskan untuk berkeluarga dan akhirnya juga menyekolahkan puteranya dengan tujuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak agar nanti ilmunya bisa digunakan di kampung halaman, kata beliau. Karena sudah lama tinggal di Yogyakarta, Ibu Beatrix pun dengan fasih berbincang dalam bahasa Jawa di setiap kesempatan.

Hal ini tentu saja sebagai bentuk kecintaan beliau dengan Yogyakarta yang sudah memberikan banyak kontribusi untuk mengembangkan dan menginspirasi yang bisa beliau gunakan untuk menjadi motivasi dan tonggak awal berdirinya Pondok Baca PALem. Belajar itu tidak mengenal usia, asal ada kemauan, maka pengetahuan itu sendiri bisa di raih, jelas beliau.

Yogyakarta juga sudah memberikan banyak pengalaman bagi Ibu Beatrix misalnya saja era globalisasi yang berkembang pesat, banyaknya toko buku yang bisa dijangkau dengan menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi, akses transportasi yang mudah, serta banyaknya sekolah atau universitas yang mempengaruhi kemajuan teknologi di Yogyakarta dan beliau sendiri tidak heran apabila kota ini dijuluki sebagai Kota Pelajar. Dari situlah Ibu Beatrix belajar untuk terus mengembangkan pengalaman yang beliau lihat serta rasakan di tanah rantau.

Meskipun kini Ibu Beatrix lebih memilih untuk tinggal di Kupang, ada banyak perkembangan yang Ibu Beatrix saksikan di Yogyakarta yang jauh berbeda dengan Lembata dan terkadang membuat beliau sedih, prihatin juga sedikit iri. Fasilitas-fasilitas yang jauh lebih memadai dibandingkan di Lembata.

“Buku dan bahan bacaan di Yogyakarta sangat melimpah serta mudah didapat. Ingin rasanya saya pindahkan Yogyakarta ke Lembata,” canda beliau disela-sela percakapan.

Ada banyak pelajaran berharga yang ingin Ibu Beatrix bawa pulang untuk bisa membuat kampung halaman beliau menjadi lebih maju. Pesan yang disampaikan Ibu Beatrix pun menarik untuk diterapkan ketika beliau mengatakan,

“Belajarlah dengan tekun di tanah rantau agar apa yang kamu dapat di sana bisa kau bawa pulang ke kampung halaman untuk dikembangkan, dibagikan, dan dijadikan inspirasi.”

3. Rasa penasaran dan pantang menyerah membuat Ibu Beatrix ingin terus berbagi

Dok. Pribadi PALem/Beatrix Tapoona

Berawal dari kecintaan Ibu Beatrix dengan dunia pendidikan menjadi tonggak awal proses berdirinya Pondok Baca PALem. Melihat begitu banyak perkembangan di era modern terutama ketika Ibu Beatrix merantau ke Yogyakarta, mencerahkan dan menginspirasi beliau untuk bisa memajukan tanah kelahirannya.

Ibu Beatrix mengakui bahwa pendidikan di Tanah Lembata masih kurang. Ibu Beatrix pernah bercerita ketika beliau membawa beberapa buku dari Yogyakarta, anak-anak Lamalera belum paham dengan materi-materi yang disampaikan melalui buku tersebut.

Dan melalui Pondok Baca PALem inilah, Ibu Beatrix berharap bahwa anak-anak Lamalera bisa mengenyam pendidikan yang layak seperti mereka yang belajar di Kota Pelajar. Karena hal besar berawal dari hal kecil bukan? ujar Ibu Beatrix.

Masalah pendidikan tentu saja bukan masalah pribadi melainkan menjadi masalah bersama, hal ini yang tentu saja dirasakan oleh Ibu Beatrix. Masalah pendidikan adalah masalah yang cukup pelik terutama bagi anak-anak yang merupakan penerus bangsa.

Rasa penasaran Ibu Beatrix yang tinggi membuat beliau mengadakan berbagai kegiatan di Pondok Baca PALem, salah satunya adalah dengan cara membaca buku sendiri atau bersama di sore hari. Hal ini tentu saja bisa membuat anak-anak akan menjadi paham bagaimana penggunaan bahasa yang baik.

“Tentunya kegiatan membaca bersama ini tidak setiap sore bisa dilakukan karena beberapa anak setiap pulang sekolah harus membantu orang tua mereka bekerja,” cerita Ibu Beatrix.

Rasa penasaran yang dimiliki oleh Ibu Beatrix menjadi kunci utama beliau untuk bisa terus berbagi. Membagikan pengalaman-pengalaman yang pernah Ibu Beatrix dapatkan ketika tinggal di Yogyakarta. Kegiatan membaca sendiri atau bersama dilaksanakan sesuai jenjang yang sedang ditempuh karena belum semua anak-anak Lamalera paham penggunaan bahasa Indonesia, jadi proses membaca bersama ini adalah jalan utama untuk membuka masa depan anak-anak Lamalera, tambah Ibu Beatrix.

Rasa prihatin dengan minimnya fasilitas pendidikan di NTT pada umumnya dan Lembata terkadang membuat Ibu Beatrix gemas, tetapi prinsip beliau yakni daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan tersebut.

Baca Juga: Bukan Formalitas, 7 Alasan Kenapa Pendidikan itu Penting bagi Wanita

Writer

Maria Ardianti Kurnia Sari

My personality is 75% the last book I read.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya