Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Face Taping Bisa Hilangkan Kerutan? Ini Penjelasannya!
lustrasi perempuan menggunakan tape perekat di wajah (pexels.com/babydov)
  • Face taping adalah teknik lama yang kini viral di media sosial, digunakan untuk menahan kulit agar tampak lebih halus dan kencang sementara waktu.
  • Para dermatolog menjelaskan bahwa efek face taping hanya bersifat sementara karena tidak memperbaiki penyebab utama kerutan seperti hilangnya kolagen atau perubahan struktur kulit.
  • Penggunaan face tape terlalu sering dapat menyebabkan iritasi, kemerahan, dan merusak skin barrier terutama pada area wajah yang sensitif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau kamu sering scroll media sosial untuk mencari tren perawatan wajah terbaru, mungkin kamu pernah melihat orang tidur dengan potongan-potongan tape yang menempel di wajah. Tren yang dikenal sebagai face taping ini diklaim bisa mengurangi garis halus, mencegah kerutan, bahkan membuat wajah tampak lebih kencang saat bangun tidur.

Sekilas, cara ini mungkin terdengar menarik karena terlihat sederhana dan jauh lebih murah dibanding berbagai perawatan anti-aging. Namun, benarkah face taping bisa menghilangkan kerutan? Atau sebenarnya efeknya hanya sementara? Berikut fakta yang perlu kamu tahu menurut para dermatolog.

1. Face taping sebenarnya bukan tren baru

ilustrasi wanita bercermin (pexels.com/olly)

Face taping adalah teknik menempelkan tape atau patch khusus pada area wajah yang rentan mengalami garis halus, seperti dahi, bawah mata, pipi, dan garis senyum. Tujuannya adalah menahan kulit dan membatasi gerakan otot agar wajah tampak lebih halus.

Meski baru tren di media sosial, metode ini sebenarnya sudah digunakan selama bertahun-tahun di dunia hiburan. Makeup artist, aktor, hingga performer drag juga sering memanfaatkannya untuk menciptakan efek wajah yang lebih terangkat saat tampil di depan kamera atau menghadiri acara penting.

"Face taping mungkin belum sepenuhnya menjadi arus utama, tetapi ini bukan hal baru. Dari drag performer hingga bintang film, face taping telah digunakan untuk membantu mengangkat kulit secara instan dan menyamarkan kerutan di area tertentu," kata Anthony Rossi, MD, seorang dokter kulit, dikutip dari Byrdie.

2. Banyak orang menggunakannya saat tidur

ilustrasi wanita tertidur (pexels.com/olly)

Cara yang paling populer adalah menempelkan tape sebelum tidur dan membiarkannya semalaman. Ide di balik metode ini cukup sederhana: jika kulit dan otot wajah tidak banyak bergerak saat tidur, garis-garis yang terbentuk akibat ekspresi wajah atau tekanan dari bantal dianggap bisa diminimalkan.

Karena alasan itu, face taping sering dipromosikan sebagai cara untuk mencegah munculnya kerutan baru. Beberapa orang juga menggunakannya sebelum acara tertentu karena memberikan efek wajah yang tampak lebih kencang dalam waktu singkat.

"Prosesnya kira-kira seperti ini, saat tidur kita berguling, menekan wajah ke bantal, dan tetap menggunakan otot-otot wajah. Jadi jika semuanya bisa ditahan pada tempatnya, seharusnya kerutan tidak terbentuk," jelas Ivy DeRosa, MD, seorang dokter kulit medis dan kosmetik bersertifikasi, dikutip dari Byrdie.

3. Kerutan memang tampak lebih halus, tapi hanya sementara

ilustrasi menyentuh wajah (pexels.com/shinydiamond))

Inilah fakta yang sering luput dari berbagai video viral. Para ahli sepakat, bahwa face taping memang bisa membuat kulit terlihat lebih halus selama tape masih menempel atau sesaat setelah dilepas. Namun, efeknya tidak bertahan lama.

Sederhananya, tape hanya menahan kulit untuk sementara waktu. Face taping tidak memperbaiki penyebab utama munculnya kerutan, seperti berkurangnya kolagen, perubahan struktur kulit, atau kontraksi otot yang terjadi seiring bertambahnya usia.

"Produk-produk ini dapat memberikan perbaikan sementara pada tampilan garis-garis halus, tetapi sekali lagi, efeknya hanya sementara," ujar Dr. DeRosa.

4. Face taping bukan pengganti Botox

ilustrasi botox treatment (pexels.com/cottonbro)

Di media sosial, face taping sering disebut sebagai alternatif alami botox. Padahal, menurut para ahli, cara kerja keduanya juga sangat berbeda.

Botox bekerja dengan melemahkan kontraksi otot yang menyebabkan kerutan sehingga hasilnya dapat bertahan selama beberapa bulan. Sementara itu, face tape hanya memberikan efek ketika sedang digunakan. Begitu tape dilepas, otot wajah kembali bergerak seperti biasa.

"Neuromodulator bekerja 24 jam sehari, sedangkan face tape hanya bekerja saat sedang digunakan," kata Kiran Mian, MD, seorang dokter spesialis kulit bersertifikasi di Hudson Dermatology, dikutip dari Newyork Magazine.

5. Penggunaan terlalu sering bisa mengiritasi kulit

ilustrasi menyentuh wajah (pexels.com/olly)

Meski terlihat tidak berbahaya, penggunaan tape secara berulang ternyata dapat menimbulkan masalah pada kulit. Perekat pada tape berisiko menyebabkan kemerahan, iritasi, kulit kering, hingga reaksi alergi pada sebagian orang.

Risiko ini semakin besar karena area yang paling sering ditempeli tape, seperti bawah mata dan sekitar pipi, termasuk bagian wajah yang memiliki kulit tipis dan sensitif. Jika dilakukan terus-menerus, proses menempelkan dan melepaskan tape bisa mengganggu skin barrier.

"Perekat saat pemasangan dan pelepasan dapat merusak skin barrier sehingga menyebabkan iritasi, kulit kering, dan justru memperburuk tampilan kulit seiring waktu," jelas Dr. DeRosa.

Face taping mungkin bisa jadi trik cepat untuk kulit tampak lebih halus sebelum acara penting, tetapi efeknya hanya sementara dan tidak benar-benar menghilangkan kerutan. Jadi daripada mengandalkan tren viral, lebih baik fokus rawat kesehatan kulit, seperti rutin memakai sunscreen dan skincare yang sesuai kebutuhan kulitmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article