Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Hedonic Adaptation Bikin Kebahagiaan dari Hal Baru Memudar

5 Alasan Hedonic Adaptation Bikin Kebahagiaan dari Hal Baru Memudar
ilustrasi wanita traveling (unsplash.com/Look Studio)
Share Article

Mendapatkan sesuatu yang baru biasanya terasa sangat menyenangkan, terutama setelah melewati proses panjang untuk memilikinya. Barang baru, pengalaman baru, pekerjaan baru, atau pencapaian tertentu dapat menghadirkan rasa puas yang begitu kuat pada awalnya. Namun seiring waktu berjalan, kebahagiaan tersebut perlahan dapat memudar dan berubah menjadi sesuatu yang terasa biasa saja.

Fenomena ini dikenal sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali pada tingkat kebahagiaan yang relatif stabil setelah mengalami perubahan positif dalam hidup. Hal yang dahulu terasa istimewa perlahan menjadi bagian dari rutinitas sehingga sensasi bahagianya gak lagi sekuat saat pertama kali hadir. Supaya lebih memahami kenapa hal baru gak selalu mampu membuat bahagia selamanya, yuk simak beberapa alasannya berikut.

1. Otak terbiasa dengan rangsangan yang sama

ilustrasi membeli hp baru
ilustrasi membeli hp baru (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Salah satu alasan utama kebahagiaan dari hal baru dapat memudar adalah karena otak manusia memiliki kemampuan beradaptasi terhadap rangsangan yang terus berulang. Saat pertama kali mendapatkan sesuatu yang diinginkan, otak menerima pengalaman tersebut sebagai hal yang istimewa dan berbeda dari rutinitas. Rasa antusias yang muncul biasanya terasa kuat karena ada unsur kejutan dan pengalaman baru.

Namun ketika hal tersebut terus hadir setiap hari, otak mulai menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan. Rumah baru, ponsel baru, atau pekerjaan yang dahulu terasa sangat membahagiakan perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa. Akibatnya, rasa puas yang dulu begitu kuat mulai menurun meskipun kondisi yang dimiliki sebenarnya masih tetap menyenangkan.

2. Ekspektasi sering naik setelah keinginan tercapai

ilustrasi kerja bahagia
ilustrasi kerja bahagia (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Manusia sering memiliki kecenderungan untuk menaikkan standar setelah berhasil mendapatkan sesuatu yang sebelumnya sangat diinginkan. Sebelum memiliki barang atau mencapai tujuan tertentu, hal tersebut terlihat seperti sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup. Namun setelah berhasil mendapatkannya, perhatian perlahan beralih pada sesuatu yang lebih tinggi atau lebih menarik.

Pola ini dapat membuat rasa puas terasa singkat karena pencapaian lama segera digantikan oleh keinginan baru. Seseorang yang dahulu bahagia setelah memiliki kendaraan baru mungkin mulai memimpikan kendaraan yang lebih mahal beberapa waktu kemudian. Tanpa disadari, kebahagiaan akhirnya terasa bergantung pada pencapaian berikutnya, bukan pada kemampuan untuk menghargai hal yang sudah dimiliki.

3. Hal baru perlahan masuk ke dalam rutinitas

ilustrasi wanita traveling di danau
ilustrasi wanita traveling di danau (pexels.com/Sueda Dilli)

Sesuatu yang baru biasanya terasa menarik karena memberikan warna berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pengalaman tersebut mulai dilakukan berulang kali, unsur kejutan dan keunikannya perlahan menghilang. Aktivitas yang dahulu terasa spesial akhirnya berubah menjadi bagian dari jadwal biasa.

Perubahan ini dapat terjadi pada berbagai hal, termasuk liburan, pekerjaan, hubungan, maupun gaya hidup. Perjalanan yang dahulu terasa sangat berkesan mungkin akhirnya terasa biasa ketika seseorang terlalu sering melakukan perjalanan serupa. Karena itu, kebahagiaan dari hal baru sering kali gak hilang sepenuhnya, tetapi sensasinya berubah karena otak sudah terbiasa dengan pengalaman tersebut.

4. Perbandingan sosial membuat kepuasan mudah berkurang

ilustrasi aktif media sosial
ilustrasi aktif media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Kebahagiaan seseorang gak hanya dipengaruhi oleh apa yang dimiliki, tetapi juga oleh apa yang dilihat dari kehidupan orang lain. Media sosial membuat proses membandingkan diri dengan orang lain menjadi semakin mudah dalam kehidupan sehari-hari. Saat melihat orang lain memiliki sesuatu yang dianggap lebih menarik, rasa puas terhadap pencapaian sendiri dapat ikut menurun.

Seseorang yang baru membeli rumah mungkin awalnya merasa sangat bahagia dan bangga dengan pencapaiannya. Namun, perasaan tersebut dapat berubah ketika melihat rumah orang lain yang lebih besar, lebih mewah, atau memiliki fasilitas yang lebih lengkap. Perbandingan seperti ini membuat hal yang dahulu terasa luar biasa perlahan terlihat kurang istimewa.

5. Kebahagiaan terlalu bergantung pada pencapaian eksternal

ilustrasi wanita dan uang
ilustrasi wanita dan uang (pexels.com/www.kaboompics.com)

Kebahagiaan yang terlalu bergantung pada hal-hal eksternal cenderung lebih mudah berubah seiring waktu. Barang, status, penghasilan, dan pencapaian memang dapat memberikan rasa puas, tetapi efek emosionalnya sering gak bertahan selamanya. Ketika sumber kebahagiaan tersebut berubah menjadi sesuatu yang biasa, seseorang dapat kembali merasa kosong atau kurang puas.

Kondisi ini membuat seseorang terus mencari pencapaian baru demi mendapatkan kembali rasa bahagia yang pernah dirasakan sebelumnya. Masalahnya, siklus tersebut dapat berlangsung tanpa akhir jika gak disertai kemampuan untuk menikmati proses dan menghargai hal-hal sederhana. Pada akhirnya, kebahagiaan yang lebih stabil sering muncul ketika seseorang mampu menemukan makna dalam kehidupan, bukan hanya mengejar sensasi dari sesuatu yang baru.

Hedonic adaptation menunjukkan bahwa kebahagiaan dari hal baru memang dapat memudar seiring waktu, tetapi hal tersebut merupakan bagian alami dari cara manusia beradaptasi. Memiliki pencapaian baru tetap penting, tetapi rasa puas akan lebih bertahan ketika seseorang mampu menghargai apa yang sudah dimiliki. Jadi, kebahagiaan gak selalu harus datang dari sesuatu yang lebih besar, lebih mahal, atau lebih baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More