Ilustrasi pertemanan saling mendukung (pexels.com/Photo by Mental Health America (MHA))
Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh perempuan sendiri. Dibutuhkan dukungan dari sistem, keluarga, dan lingkungan sosial. Pendekatan kolektif sangat penting untuk menciptakan keseimbangan. Sesama perempuan juga perlu saling mendukung, bukan saling menghakimi.
Hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan telah mapan dalam psikologi sosial. Dalam jurnal Thriving together: the benefits of women's social ties for physical, psychological and relationship health, menunjukkan bahwa manfaat ini sangat menonjol di kalangan perempuan.
"Ketika menghadapi stresor lingkungan, perempuan lebih cenderung mengadopsi strategi tend-and-befriend (merawat dan berteman) daripada fight-or-flight (melawan atau melarikan diri)," tulis laporan yang diterbitkan National Library of Medicine.
Lebih lanjut, persahabatan perempuan cenderung lebih terbuka dan lebih sering diandalkan untuk dukungan sosial, yang dikaitkan dengan manfaat fisik dan psikologis. Mereka juga lebih efektif dalam memberikan dukungan sosial, yang semakin meningkatkan manfaat tersebut.
Dari kasus daycare Jogja hingga kecelakaan KRL Bekasi, terlihat bahwa perempuan masih sering berada di posisi yang rentan. Ini bukan hanya soal individu, tetapi tentang sistem yang belum sepenuhnya mendukung. Sudah saatnya kita melihat masalah ini secara lebih luas.
Perempuan tidak seharusnya terus berada dalam situasi serba sulit. Dengan perubahan sistem, dukungan sosial, dan kesadaran bersama, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman, adil, dan manusiawi untuk semuanya.