Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dari Trauma Insiden Daycare Jogja ke Healing, 6 Cara Orangtua dan Anak Bangkit

Dari Trauma Insiden Daycare Jogja ke Healing, 6 Cara Orangtua dan Anak Bangkit
Ilustrasi anak mengalami trauma (unsplash.com/Photo by ART_of_ROSH)

Kasus kekerasan di daycare yang ramai di Jogja beberapa waktu terakhir ini bukan hanya menyisakan kemarahan, tapi juga luka yang mendalam-terutama bagi anak-anak yang mengalaminya. Di usia yang seharusnya dipenuhi rasa aman dan kasih sayang, justru muncul pengalaman yang membingungkan dan menakutkan.

Bagi banyak orangtua, kejadian ini terasa seperti mimpi buruk yang sulit diterima, apalagi ketika kepercayaan terhadap tempat penitipan anak ikut runtuh. Namun di balik trauma tersebut, selalu ada jalan untuk pulih bersama.

1. Memahami luka: trauma pada daycare bukan sekadar kejadian biasa

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)

Kasus kekerasan di daycare bukan hanya peristiwa sesaat, tapi bisa meninggalkan dampak jangka panjang pada anak. Menurut studi dalam jurnal berjudul Maltreatment in Daycare Settings: A Review of Empirical Studies in the Field yang diterbitkan oleh National Library of Medicine (NLM), trauma di daycare termasuk jenis attachment trauma.

Hal ini karena terjadi pada figur pengasuh yang dipercaya anak. Mereka menyebut, “daycare maltreatment… involves impairments in the healthy bonding between the child and caregivers.” Artinya, luka yang muncul bukan hanya rasa takut, tapi juga rusaknya rasa percaya. Anak bisa menjadi lebih mudah cemas, sulit merasa aman, bahkan menunjukkan perilaku agresif atau menarik diri sebagai bentuk respons trauma.

2. Dampak ganda: Anak terluka, orangtua ikut trauma

ilustrasi memeluk anak (unsplash.com/Zahra Amiri)
ilustrasi memeluk anak (unsplash.com/Zahra Amiri)

Trauma daycare tidak hanya dirasakan anak, tapi juga orangtua. Banyak orangtua mengalami rasa bersalah, marah, hingga kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan sekitar. Dalam studi yang sama, orangtua disebut sebagai secondary victims atau korban sekunder dari kejadian tersebut.

Peneliti menjelaskan, “parents… reported significantly more psychological distress and symptoms consistent with PTSD.” Jadi, orangtua juga bisa mengalami stres berat bahkan gejala trauma setelah mengetahui anaknya disakiti.

Hubungan antara anak dan orangtua juga saling memengaruhi. Jika orangtua terlihat cemas atau marah berlebihan, anak bisa semakin merasa tidak aman. Sebaliknya, dukungan yang tenang dan konsisten dari orangtua dapat membantu mempercepat proses pemulihan anak.

3. Tanda-tanda trauma pada anak yang perlu disadari

ilustrasi anak sendirian (pexels.com/Tanya Gorelova)
ilustrasi anak sendirian (pexels.com/Tanya Gorelova)

Anak yang mengalami trauma tidak selalu bisa mengungkapkan apa yang terjadi. Banyak dari mereka menunjukkan tanda melalui perilaku, seperti tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, atau takut berpisah dari orangtua.

"Beberapa gejala trauma pada anak-anak (dan orang dewasa) sangat mirip dengan depresi, termasuk terlalu banyak atau sedikit tidur, kehilangan nafsu makan atau makan berlebihan, mudah tersinggung dan marah tanpa sebab, serta kesulitan berkonsentrasi pada proyek, pekerjaan sekolah, dan percakapan," jelas psikolog Jerry Bubrick, PhD dikutip dari Child Mind Institute.

"Terkadang gejalanya lebih mirip gangguan kecemasan-kekhawatiran obsesif atau terus-menerus, kesulitan berpisah dari orangtua," tambahnya.

Penelitian jangka panjang menemukan bahwa anak korban kekerasan daycare tetap menunjukkan dampak hingga bertahun-tahun kemudian. Dalam studi Children's adjustment 15 years after daycare abuse yang diterbitkan National Library of Medicine, disebutkan bahwa anak-anak mengkonfirmasi melalui perilakunya, bahwa sesuatu yang menyedihkan telah terjadi.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk peka terhadap perubahan kecil. Misalnya, anak yang dulu ceria menjadi sering menangis tanpa sebab, atau menolak pergi ke tempat tertentu. Ini bisa jadi cara anak 'berbicara' tentang trauma yang belum bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.

4. Langkah healing anak: Rasa aman jadi kunci utama

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Keira Burton)
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Keira Burton)

Proses penyembuhan anak dimulai dari rasa aman. Anak perlu tahu bahwa mereka sekarang berada di lingkungan yang melindungi dan mendukung. Hal ini bisa dibangun melalui rutinitas yang stabil, sentuhan kasih sayang, dan komunikasi sederhana yang menenangkan.

"Penyembuhan dari trauma masa kecil bukanlah proses linier, itu terjadi dalam beberapa tahap. Sebelum menyelami kenangan menyakitkan, penting untuk menciptakan rasa aman," jelas terapis pernikahan dan keluarga Melina Alden, MA, LMFT dikutip dari Melina Alden Mft.

Lingkungan yang konsisten dan penuh empati membantu anak memproses pengalaman buruknya. Dukungan emosional adalah fondasi utama pemulihan. Selain itu, terapi atau konseling anak juga sangat dianjurkan. Metode ini membantu anak mengekspresikan perasaan tanpa tekanan, sehingga luka batin bisa perlahan dipahami dan dilepaskan.

5. Healing untuk orangtua: Pulih dulu, baru bisa menguatkan anak

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Arina Krasnikova)
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Arina Krasnikova)

Sering kali orangtua fokus pada pemulihan anak, tapi melupakan kondisi dirinya sendiri. Padahal, kesehatan mental orangtua sangat memengaruhi proses healing anak. Jika orangtua masih diliputi emosi negatif, anak akan ikut merasakannya.

Masih dalam studi terbitan National Library of Medicine, penelitian menunjukkan bahwa reaksi orangtua bisa memengaruhi tingkat keparahan trauma anak. Di dalam penelitian itu disebutkan tingkat keparahan gejala anak dapat berubah berdasarkan lingkungan dan dukungan keluarga.

Karena itu, orangtua juga perlu ruang untuk pulih-baik melalui konseling, dukungan keluarga, atau komunitas. Dengan kondisi emosional yang lebih stabil, orangtua bisa menjadi “safe place” yang benar-benar dibutuhkan anak.

6. Bangkit bersama: Dari trauma ke ketahanan (resilience)

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Photo by Vlada Karpovich)
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Photo by Vlada Karpovich)

Meski trauma meninggalkan luka, bukan berarti tidak bisa pulih. Banyak anak menunjukkan kemampuan untuk bangkit jika mendapat dukungan yang tepat. Dalam studi yang sama, sekitar 40 persen anak mampu beradaptasi dengan baik setelah mengalami kekerasan di daycare. Ini menunjukkan bahwa healing bukan hal mustahil.

Kunci utamanya ada pada kombinasi dukungan emosional, lingkungan yang aman, dan intervensi profesional jika diperlukan. Bangkit dari trauma bukan tentang melupakan, tapi belajar hidup kembali dengan rasa aman. Dengan pendampingan yang tepat, anak dan orangtua bisa membangun kembali kepercayaan-dan melangkah maju dengan lebih kuat bersama.

Kasus trauma akibat insiden daycare di Jogja memang menyakitkan, tapi juga menjadi pengingat pentingnya perlindungan anak dan kesehatan mental keluarga. Healing bukan proses instan, namun bisa terjadi jika dijalani bersama dengan penuh kesabaran dan dukungan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

Dari Trauma Insiden Daycare Jogja ke Healing, 6 Cara Orangtua dan Anak Bangkit

26 Apr 2026, 00:01 WIBLife