Riestya Estika (founder MGB Garden) di Kebun Dapur miliknya yang berlokasi di Depok (IDN Times/Adyaning Raras)
Sekalipun berbeda negara karena mengikut suami yang sedang tugas belajar di Melbourne, Riestya tetap mencari segala cara supaya bisa tetap berkebun. Selama dua tahun itulah, ia semakin belajar banyak hal tentang tanaman, cara merawat, dan pengelolaan pangan.
Tempat parkir flat yang ia tinggali pun, berubah menjadi kebun kecil. Ia bahkan membuat pot seadanya dari kaleng-kaleng susu bekas. Riestya sengaja tidak membeli perlengkapan berkebun karena sadar masa tinggalnya terbatas.
Pengalamannya berkebun di negara orang mengajarkan Riestya banyak hal baru, salah satunya kapan waktu terbaik untuk berkebun di Australia. Semua tanaman biasanya akan dipotong sebelum musim semi supaya tumbuh lagi.
“Indonesia kan bisa sepanjang tahun kita berkebun, mau musim hujan atau panas. Kalau di sana (Melbourne), gak, ada winter-nya. Pokoknya udah masuk ke autumn itu, tanaman udah berubah warna, daunnya kecokelatan terus gugur. Kalau winter, pertumbuhan tanamannya stuck meskipun gak ada salju di Melbourne. Tetap saja tanamannya gak tumbuh dengan baik,” ceritanya.
Di Melbourne, Riestya merasa pemerintah sangat memfasilitasi warganya dengan berbagai ruang hijau publik hingga acara-acara khusus gardening. Di setiap wilayah, banyak sekali community garden yang mengadakan gathering atau pelatihan berkebun hingga ada food forest di mana warga bisa mengambil sumber makanan dari kebun tersebut.
“Ada namanya bank benih. Jadi, warga yang punya benih lebih disetorin ke situ. Kalau ada warga lain yang membutuhkan, tinggal ambil terus tanda tangan. Kalau berhasil, nanti dibalikin lagi buat orang lain,” ujarnya dengan antusias.
Ilmu berkebunnya semakin terasah dengan mengikuti berbagai kelas berkebun, kelas memasak dari bahan-bahan yang ada di kebun, hingga menjadi relawan pengolahan makanan dari bahan pangan yang nyaris terbuang.
Bukan hanya berkebun, Riestya juga belajar bagaimana hidup keberlanjutan. Contoh kecilnya dari memanfaatkan sisa-sisa bahan makanan. Ia bercerita bahwa pernah terlibat dalam kegiatan lembaga nonprofit yang fokus pada pencegahan food waste.
Lembaga ini rutin mengambil buah dan sayur dari supermarket atau pasar, terutama bahan pangan yang sudah tidak dijual lagi. Umumnya kurang sempurna karena tampak layu, busuk di bagian tertentu, padahal masih layak konsumsi.
Para relawanlah yang membawa bahan tersebut ke community garden. Di sana, buah dan sayur dimasak dalam skala besar untuk kemudian dibagikan kepada lansia dan masyarakat yang membutuhkan.
“Aku pernah ikut volunteer itu. Gempor banget, orang Indonesia masak bisa sambil duduk. Nah, ini sambil berdiri berjam-jam, 6 jam atau lebih karena masak skala banyak,” kenangnya.
Riestya menyebut pengalaman ini sangat berkesan karena melibatkan relawan dari berbagai negara, seperti Tiongkok, Thailand, hingga Afrika, yang bekerja bersama selama berjam-jam. Dua tahun yang sangat memberikan pengalaman bagi Riestya, bagaimana bahan pangan bisa dimanfaatkan secara maksimal tanpa menyisakan limbah, atau diolah kembali menjadi kompos.