Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cerita Anis Masita Merawat Dunia Anak Lewat Mainan Edukasi Pobee

Anis Diah Ayu Masita, Founder CV Pobee Indonesia (dok. Anis Masita).jpg
Anis Diah Ayu Masita, Founder CV Pobee Indonesia (dok. Anis Masita)
Intinya sih...
  • Anis Diah Ayu Masita memiliki akar kecintaan terhadap dunia anak-anak sejak remaja, dari menjadi pengajar TPA hingga relawan bencana.
  • Pobee lahir dari kerinduan Anis terhadap dunia anak-anak, tumbuh selaras dengan kebutuhan tumbuh kembang anak dan perjalanan personalnya sebagai ibu.
  • Setiap produk Pobee dibuat berdasarkan riset perkembangan anak, fokus pada tahapan perkembangan anak, dan melibatkan interaksi orangtua dalam proses tumbuh kembang anak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Terkadang, seseorang menemukan panggilan hidupnya bukan melalui momen besar melainkan hal-hal kecil yang mereka temukan setiap hari. Begitu pula dengan Anis Diah Ayu Masita yang sejak remaja sudah terbiasa bergaul dan membantu anak-anak kecil. Dunia anak-anak seperti tak pernah berhenti mengetuk pintu hatinya.

Dari pengajar TPA hingga relawan bencana, setiap langkahnya menuntun Anis melalui perjalanan merawat tumbuh kembang anak lewat karya. Ketika kebutuhan anak-anak, pengalaman personal, dan naluri kreatifnya bertemu, lahirlah Pobee. Bukan sekadar brand mainan anak-anak, Pobee hadir sebagai ruang bermain, belajar, dan bertumbuh yang dibangun dari hati.

Obrolan hangat IDN Times dengan Anis ini, membawa kita menyelami bagaimana cinta dan ilmu membentuknya sebagai Founder Pobee. Ini kisah hangatnya sebagai perempuan, ibu, sekaligus pebisnis yang hadir untuk menemani tumbuh kembang setiap anak.


1. Akar kecintaannya terhadap dunia anak-anak sudah tumbuh sejak remaja

Anis membaca nyaring di TBM Rejosari RHI.JPG
Anis membaca nyaring di TBM Rejosari RHI (Rumah Hebat Indonesia) (dok. Anis Masita))

Jika menengok ke belakang, kecintaan Anis terhadap dunia anak-anak sudah terpupuk sejak ia duduk di bangku SMP. Dari dulu, ia sudah menjadi pengajar Taman Pendidikan Al’Quran (TPA). Ketika masuk SMA, jiwa sosialnya semakin tergugah dengan menjadi kakak pendamping pramuka dan siswa-siswi baru saat itu.

Dorongan untuk mendampingi anak-anak hadir begitu alami, tanpa tujuan besar, hanya naluri untuk membantu. Di bangku perkuliahan, Anis semakin aktif memberikan waktunya mengikuti beragam kegiatan. Salah satunya menjadi relawan korban bencana Gunung Merapi meletus di tahun 2010.

“Saya secara sukarela sendirian, datang ke posko-posko anak di beberapa titik yang ada di Klaten. Saya ajak mereka main, menyanyi, menggambar. Saya ngasih psychology first aid untuk anak-anak dalam kondisi trauma, khususnya yang waktu itu adalah bencana Gunung Merapi,” ceritanya kepada IDN Times pada Rabu (26/11/2025) secara daring.

Berkat pengalamannya, Anis merasa jalan hidup membawanya menjadi terapis di Autism Care Indonesia. Ia terlibat langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Bukan hanya itu, Anis tetap menjadi relawan di berbagai situasi, seperti relawan untuk anak-anak penyintas kanker, anak-anak di bantaran sungai, hingga pendamping anak-anak jalanan. 

“Di tahun 2011-206, saya mendirikan sebuah komunitas untuk anak-anak di bantaran sungai Kalianyar. Namanya Rumah Hebat Indonesia. Saya mengontrak sebuah rumah dua lantai. Waktu itu, yang bawah saya gunakan untuk taman baca. Saya kumpulkan ribuan buku untuk anak-anak membaca. Di lantai atas ada perkusi, teater, kelas pintar,” sambungnya.

Namun, Anis memilih mengembalikan komunitas tersebut kepada masyarakat. Pengalaman mendirikan komunitas memperluas pandangannya terhadap perkembangan anak. Namun, ia merasa akan lebih baik untuk bisa mandiri secara finansial dulu. Pemikiran itulah yang akhirnya membukakan jalan Anis terjun sebagai wirausahawan hingga sekarang.

2. Pobee lahir dari kerinduan terhadap dunia anak yang tak pernah padam

Display Booth Pobee (3).jpg
Display Booth Pobee (dok. Anis Masita)

Setelah tidak lagi mengurus komunitas, Anis bersama suami mendirikan CV Binar Berkarya yang bergerak di industri kriya seperti kado ulang tahun, dekorasi pernikahan, dan suvenir kayu. Namun di perjalanannya, Anis sebenarnya punya kerinduan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan anak-anak. Lalu, lahirlah Pobee, yang menjadi wadah untuk menumpahkan kerinduannya terhadap dunia anak-anak.

“Pobee muncul awal mulanya bukan untuk jual beli sebenarnya. Pobee muncul sebagai wadah saya untuk berbagi cerita parenting dengan putri saya. Saya bagi cerita tentang parenting dan pengasuhan. Jadi ada printable, worksheets, gambar-gambar untuk stimulasi gratis,” katanya.

COVID-19 menjadi titik balik yang tak terduga. Saat usaha dekorasi pernikahan yang ia jalankan tutup karena pembatasan keramaian, justru printable yang ia bagikan berlanjut menjadi usaha. Dari kebutuhan sederhana itu, Pobee (Produksi Bulik dan Paklik) perlahan tumbuh menjadi unit usaha CV Pobee Indonesia.

Lewat ceritanya, Anis menyebut bahwa Pobee tumbuh selaras dengan kebutuhan tumbuh kembang anak dan perjalanan personalnya sebagai ibu. Secara garis besar, setiap produk yang dikeluarkan Pobee dibuat sesuai dengan tahapan perkembangan anak. 

“Untuk anak baru lahir, sebenarnya kebutuhannya apa? Oh, kebutuhannya stimulasi visual yang perlunya high contrast. Kenapa hitam putih? Hal seperti itu yang saya pelajari teorinya,” ungkap lulusan Psikologi Universitas Sebelas Maret ini.


3. Bukan tanpa alasan setiap produk Pobee yang dibuatnya fokus pada tahapan perkembangan anak

anis.jpg
Anis dan display produk mainan Pobee, salah satunya Mini Laptop Magnetic (dok. Anis Masita)

Desain produk Pobee dibuat berdasarkan riset perkembangan anak. Proses kreatifnya melahirkan suatu produk sangatlah panjang. Sebelum menjadi suatu produk, Anis harus tahu tahapan perkembangan anak usia dini. Semua produk dibuat dengan tujuan, stimulasi, dan sasaran yang berbeda-beda. 

Dari warna hingga material pun menjadi aspek yang sangat ia perhatikan saat membuat mainan anak. Ia juga perlu menentukan apakah produk yang ia buat perlu mendapatkan pendampingan atau tidak. Ia tidak terpaku pada satu teori psikologi, melainkan mengambil esensi dari berbagai pendekatan seperti Montessori. Baginya, media stimulasi dan belajar harus disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak dan bisa membantu tumbuh kembang anak secara optimal.

“Setelah bikin layout, kalau sudah cocok, baru bikin prototype dulu. Bikin prototype berarti belum dijual. Nanti, kita uji coba dulu, biasanya ke anak saya. Nanti setelah dimainkan oleh anak saya tuh, ternyata butuh evaluasi. Lebih ke cara respons anak terhadap mainan itu gimana, banyak distraksi di warnanya atau apa gitu,” tuturnya.

Ada satu mainan yang sangat personal untuk Anis, yaitu mini laptop magnetic. Produk mini laptop dibuat saat anaknya berusia dua tahun.

“Dia sebelum usia dua tahun kan zero screen time. Jadi, kita memang tidak pernah kasih dia screen apa pun, mau itu layar, mau itu gadget. Sampai sekarang, saya masih membatasi berkaitan dengan penggunaan gadget ke dia,” ceritanya. 

Ia menambahkan, “Dia mulai tertarik sama laptop, dia mulai kejar laptop, dia mulai ingin pura-pura bekerja seperti ibunya gitu. Akhirnya, kemudian saya buatlah sebuah produk miniatur laptop kecil untuk dia."

Sebagai seorang ibu yang bekerja, Anis gak bisa lepas dari laptop sebagai kebutuhan sehari-hari. Maka dari itu, lahirlah produk miniatur laptop kecil dengan magnet yang bisa ditempel-tempel. Justru, produk ini yang laris saat pandemik karena bersamaan dengan fenomena WFH. 

“Anak saya lagi belajar membaca, saya bikin produk belajar membaca. Jadi, hampir semua (produk Pobee) selaras sama usia tahapan perkembangan dia,” kenang Anis.

4. Di tengah beragam tantangan sebagai pelaku usaha, kolaborasi keluargalah yang menghidupkan Pobee

IMG_20210517_091534.jpg
CV Pobee Indonesia (dok. Anis Masita)

Pobee adalah usaha yang berdiri dari harmoni keluarga kecil Anis. “Semua hal di Pobee ini isinya kami bertiga. Saya, putri saya namanya Binar Kinasih yang sekarang sudah lulus masa keemasannya, dia udah 6 mau 7 tahun, dan suami,” ujarnya. 

Menurut Anis, peran keluargalah yang menjadi pendorong berdirinya Pobee. Suaminya yang berlatarbelakang Pendidikan Luar Biasa menjadi pengkonkret ide mulai dari kriya, video, desain produk, hingga pengembangan media. Kemudian, didukung Anis sebagai konseptor dari semua produk maupun program-program mereka.

“Misalnya pengen bikin dongeng anak-anak konsepnya anti bullying. Nanti yang satu fabel, yang satu begini-begini. Terus nanti yang mengkonkretkan untuk jadi panggung, jadi kostum gajah, jadi kostum bebeknya, itu suami saya,” ucapnya.

Selain itu, semua produk Pobee hampir semuanya lahir bersamaan dengan tumbuh kembang Binar, sang anak. Saat anaknya bayi, Pobee mengeluarkan produk high contrast. Ketika belajar berdiri, Pobee mengeluarkan papan magnetic standing. Ketika belajar menulis, Pobee menjual meja lipat bulat. Kolaborasi ini memperlihatkan keautentikan dari Pobee. Setiap produk lahir dari interaksi nyata antara ibu, ayah, dan anak.

5. Menjaga langkah di tengah gempuran produk impor

Display Booth Pobee (1) rv.jpg
Anis Diah Ayu Masita, Founder CV Pobee Indonesia (dok. Anis Masita)

Sebagai pelaku UMKM, Anis gak menutup mata bahwa industri mainan lokal menghadapi tantangan besar. Gak menjadi masalah yang berarti untuk Anis memiliki kompetitor-kompetitor lokal. Justru, ia merasa sedang berjalan dan berjuang bersama.

“Dengan rekan-rekan yang tertarik sama dunia anak dan ingin terlibat dalam pendidikan anak, saya berterima kasih kalau mereka mau bikin media-media edukasi keren,” katanya.

Soal mainan-mainan impor, Anis merasa cukup kesulitan karena harus berperang harga. Produksi mainan lokal jadi kalah karena barang-barang impor yang produksinya massal dengan harga yang oke di pasaran. Namun, hal itu gak menjadi alasannya untuk menyerah.

“Namanya usaha, dikatakan menyerah atau tidak, sempat ada pikiran apakah kita ganti usaha, ya? Tapi balik lagi, COVID-19 dulu kita bisa lalui kok. Bahkan, COVID-19 itu kita sama sekali gak keluar. Kita bisa melaluinya dan Pobee justru bisa lumayan, ibaratnya dulu orang merangkak, Pobee bisa berlari,” imbuhnya.

Sayangnya, daya beli masyarakat sekarang sedang melemah. Apalagi Pobee menyediakan produk yang menjadi kebutuhan tersier, bukan primer. Meski perjalanannya cukup naik dan turun, Anis bersyukur setidaknya daya beli Pobee masih ada dan bukan benar-benar nol.

Meski harus lebih realistis, Anis menyimpan cita-cita jangka panjang, yaitu membangun platform edukasi digital yang berisi lagu, dongeng, hingga materi belajar yang bisa dimanfaatkan guru PAUD. 

“Entah itu dalam bentuk dongeng atau workshop karena kita dulu suka sering sama anak-anak dari zaman dulu. Kita balik lagi ke tujuan usaha waktu zaman komunitas. Kita menyadari betul bahwa untuk berbuat baik itu, gak bisa dimungkiri butuh keberlanjutan.," ujar Anis.

6. Lewat Pobee, Anis ingin orangtua lebih terlibat dalam proses tumbuh kembang anak, termasuk bermain bersama

Anis dan adik RHI.JPG
Anis dan adik RHI (dok. Anis Masita)

Sebagai seseorang yang berasal dari latar belakang Psikologi, Anis paham betapa pentingnya keterlibatan orangtua dalam proses tumbuh kembang anak. Ini juga yang menjadi filosofi Pobee, di mana Anis sengaja membuat produk-produk mainan anak yang bisa dimainkan bersama orangtua.

“Mau itu produk bukan free-to-play atau produk belajar membaca dan menulis, belajar menggunting sekalipun, kalau orang beli produknya Pobee, itu pasti dicatatkan pendampingannya,” ujar Anis.

Meskipun gak ada catatan pendampingan, anak gak seharusnya bermain sendiri. Anis menjelaskan bahwa ia sengaja membuat media yang mengharuskan ada interaksi anak dengan orangtua.

Ia menerangkan, “Saya pengen ada saat anak-anak bermain, entah itu bermainnya dalam bentuk untuk interaksi sosial-emosi dengan orang tuanya, entah freeplay, atau konteksnya itu bermain untuk belajar, tapi harus ada kehadiran orang tuanya di situ, main bareng-bareng sama anaknya, belajar bareng-bareng sama anaknya."

Hal ini juga tercermin dari bagaimana Anis menyebarkan ilmunya. Bukan sekadar pelaku usaha dan seorang orangtua, Anis juga Co-Founder Rumah Tumbuh yang berlokasi di Solo. Ia bersama rekannya mengelola daycare yang juga memiliki kelas stimulasi anak.

Seperti namanya, Rumah Tumbuh, Anis menghadirkan rumah untuk bertumbuh bagi anak-anak usia dini. Anak-anak punya kesempatan untuk mengeksplorasi bayak hal. Rumah Tumbuh pun mengakomodasi layanan konsultasi dengan psikolog, psikoedukasi, sampai ke asesmen pemeriksaan psikologis.

7. Mengenalkan misi perlindungan kepada anak sejak dini melalui Kesatria Anak

Mini Workshop Edukasi Cegah Kekerasan Seksual.jpg
Mini Workshop Edukasi Cegah Kekerasan Seksual (dok. Anis Masita)

Anis juga mengembangkan wadah edukasi perlindungan diri bernama Kesatria Anak sekitar tahun 2022-2023. Dari pengalamannya sebagai pendamping anak di kawasan rentan, Anis merasa perlu mengembangkan program ini, untuk meningkatkan awareness anak terhadap berbagai kejahatan dan bagaimana mereka bisa melindungi dirinya sendiri.

“Jadi, anak-anak itu diajarkan bagaimana mereka bisa berdaya dan berani melindungi diri dari ancaman kekerasan. Jadi, di edukasinya itu ada banyak breakdown-nya, banyak aspeknya yang akan mereka pelajari. Salah satunya, mereka mengenali tanda bahaya,” ungkap Anis.

Lahirnya platform ini juga merupakan bentuk kepeduliannya terhadap anak-anak usia dini. Anis berharap banyak anak-anak paham dengan tanda-tanda bahaya yang ada di sekitar mereka. Hal ini menjadi bentuk tindakan preventif yang ia gencarkan untuk anak-anak.

“Jadi, preventif itu bukan setelah kemudian jadi bahaya, lalu kemudian kasih intervensi. Itu bukan preventif. Tapi, preventif adalah anak-anak sedari dini mereka dikenalkan ada tanda bahaya yang eksternal, yang mungkin akan menjadi ancaman kekerasan bagi mereka,” tegasnya.

Salah satunya, Anis mendukung orangtua untuk mengajarkan konsep dasar perlindungan diri dari ancaman kekerasan. Menurutnya, pendidikan seksualitas di Indonesia masih tergolong tabu. Banyak orang beranggapan pendidikan seksualitas berkaitan dengan hubungan intim.

Padahal, Anis mengatakan, “Pendidikan seksualitas itu tentang bagaimana dia merawat tubuhnya, bagaimana dia mengenal gendernya, bagaimana mereka melindungi dirinya, dengan cara berpakaian yang mungkin menutup bagian privat, bagaimana mereka mengenal bagian privat, yang itu tidak ada, yang itu mungkin tidak familier, untuk keluar ke Indonesia, untuk mengajarkan sejak dini.”

Kesatria Anak hadir dalam bentuk buku cerita, poster, kartu skenario, dongeng, hingga workshop. Namun, perjuangannya tidak mudah. Edukasi perlindungan anak masih belum menjadi prioritas negara sehingga sulit mendapatkan dukungan. Banyak orangtua merasa ini penting, tetapi tidak segera mendesak. Meski demikian, Anis tetap menjalankan misinya. Ia percaya pendidikan perlindungan diri adalah fondasi penting bagi anak untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks.

8. Makna perempuan berdaya menurut Anis

Edukasi Orangtua Cegah Kekerasan Seksual.JPG
Edukasi Orangtua Cegah Kekerasan Seksual (dok. Anis Masita)

Cukup lama untuknya menjawab bagaimana ia memaknai perempuan yang berdaya. Terlalu banyak hal kompleks dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh perempuan.

“Karena perempuan berdaya itu (maknanya) dalam ya. Bukan selalu tentang dia bisa bermanfaat untuk sosial,” tuturnya.

Dari kacamatanya, perempuan berdaya bukan soal seberapa banyak prestasi dan seberapa luas kebermanfaatannya. Menurutnya, ini tentang bagaimana bisa memberdayakan dirinya sendiri sebagai seorang perempuan dan individu.

“Jadi, dia mampu memberdayakan dirinya sebagai seorang individu perempuan. Yang boleh berdaya di bidang apa pun. Tapi, dia berdaya atas ide-idenya, berdaya atas pikirannya, berdaya atas cita-cita dan mimpinya. Dia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, tapi dia berdaya. Berdaya dengan segala kemampuannya mengasuh anaknya penuh cinta, misalnya. Hadir sepenuhnya untuk bermain sama anaknya, gitu. Misalnya ini ceritanya dia, dia perempuan dan dia ingin menjadi ibu rumah tangga,” lanjutnya.

Ada banyak hal yang bisa menjelaskan bagaimana sosok perempuan yang berdaya terlepas dari segala profesi, status, atau latar belakang lainnya. Ketika perempuan punya kebebasan untuk berpikir dan menentukan jalan hidupnya, maka dia juga berdaya.

“Yang pasti ketika dia berdaya, sudah gak perlu kita sampaikan kebermanfaatannya. Pasti dia sangat bermanfaat karena dia berdaya di titik mana pun. Entah untuk anaknya, orangtuanya, suaminya, atau lingkungan kerjanya,” tutup Anis.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Jika Kamu Satu Kelas dengan Upin Ipin, Apa Kecerdasanmu yang Paling Diandalkan?

30 Nov 2025, 18:00 WIBLife