Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tantangan Perempuan di Era Sekarang, Tak Kasat Mata tapi Nyata
Ilustrasi perempuan di stasiun kereta (unsplash.com/Photo by Philipp Hubert)

Di banyak aspek kehidupan—mulai dari dunia kerja, pendidikan, hingga ruang domestik—perempuan sering kali dihadapkan pada tantangan yang terasa tidak kasat mata, tetapi nyata dampaknya. Bukan sekadar soal kemampuan atau pilihan pribadi, melainkan bagaimana aturan, norma, dan kebiasaan yang sudah lama terbentuk ikut membentuk pengalaman mereka. Sistem yang seharusnya menjadi penopang justru kadang terasa seperti batasan yang mempersempit ruang gerak.

Ketika perempuan harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama, atau merasa bersalah saat memilih antara karier dan keluarga, pertanyaannya bukan lagi “kenapa perempuan sulit,” melainkan “kenapa sistem terasa menyulitkan?” Artikel ini mengajak kita melihat lebih dalam, bahwa banyak kesulitan yang dialami perempuan bukan muncul begitu saja, tetapi berakar dari struktur yang belum sepenuhnya adil.

1. Sistem tak seimbang, perempuan jadi korban paling rentan

Ilustrasi menyendiri (unsplash.com/Photo by Anastasiia Nelen)

Banyak sistem sosial dan kerja masih belum sepenuhnya mendukung kebutuhan perempuan. Hal ini membuat perempuan harus beradaptasi lebih keras dibanding laki-laki.

“Ketidaksetaraan gender tertanam dalam sistem, institusi, dan norma sosial,” sebagaimana dijelaskan oleh UN Women dalam laporannya.

"Mulai dari perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender hingga upah yang setara, perempuan dan anak perempuan tetap tidak setara di bawah hukum, karena impunitas atas pelanggaran hak-hak mereka terus berlanjut di seluruh dunia," lanjutnya.

Jadi, ketimpangan ini bukan hanya soal individu, tapi sudah tertanam dalam sistem. Akibatnya, perempuan sering berada di posisi paling rentan dalam berbagai situasi.

2. Fasilitas terbatas, beban jadi berlipat

Ilustrasi kelelahan saat bekerja (unsplash.com/Photo by Vasilis Caravitis)

Tidak semua tempat kerja menyediakan fasilitas seperti daycare atau ruang laktasi, yang juga jarang terlihat di tempat umum. Ini membuat perempuan harus mencari solusi sendiri yang belum tentu aman. Data UN Women menunjukkan bahkan perempuan melakukan lebih banyak pekerjaan domestik tanpa dibayar.

“Survei menunjukkan bahwa perempuan melakukan pekerjaan perawatan dan pekerjaan rumah tangga tanpa bayaran tiga kali lebih banyak daripada laki-laki, rata-rata 4,2 jam sehari dibandingkan dengan 1,7 jam yang dilakukan laki-laki," tulis dalam laporan tersebut. 

"Beban yang tidak adil ini, dan kebutuhan konstan untuk beradaptasi dengan sistem yang kaku, adalah salah satu pendorong terbesar ketidaksetaraan di tempat kerja. Ini juga salah satu yang paling mudah untuk diperbaiki," lanjutnya.

Kondisi ini membuat perempuan harus membagi energi antara pekerjaan dan keluarga tanpa dukungan yang cukup. Tentunya perempuan menjadi memiliki banyak peran yang harus dijalani.

3. Bagi seorang ibu yang bekerja, pikiran terbagi antara anak dan pekerjaan

Ilustrasi daycare (unsplash.com/Photo by Matiinu Ramadhan)

Kasus daycare Jogja menjadi pengingat bahwa keamanan anak tidak bisa dianggap sepele. Daycare harus benar-benar terjamin kualitas dan pengawasannya. Menurut riset perkembangan anak, kualitas pengasuhan sangat memengaruhi tumbuh kembang. Jika tidak aman, dampaknya bukan hanya pada fisik, tapi juga psikologis anak dalam jangka panjang.

"Pengalaman awal memengaruhi perkembangan otak anak. Mulai dari periode prenatal hingga tahun-tahun pertama kehidupan, otak mengalami perkembangan paling pesat, dan pengalaman awal menentukan apakah arsitekturnya kokoh atau rapuh,” dijelaskan dalam penelitian The Impact of Early Adversity on Children's Development dari Harvard University Center on the Developing Child.

Karena adanya kasus daycare Jogja, tak sedikit juga komentar miring yang menyalahkan ibu. Seolah-olah pengasuhan anak hanya dititikberatkan pada peran ibu, bukan ayah. Padahal, tumbuh kembang anak merupakan tanggung jawab berdua.

"Ayah memiliki peran penting dalam kesejahteraan anak. Ayah yang peka, suportif, dan terlibat berkontribusi pada perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak. Ayah juga memengaruhi kesejahteraan anak bersama dengan ibu dan pengasuh lainnya, sehingga penting untuk memahami hubungan ayah-anak sebagai bagian dari keseluruhan sistem keluarga." seperti yang dijelaskan oleh Jennifer E. Lansford, Ph.D., Profesor Riset di Sanford School of Public Policy serta Faculty Fellow di Center for Child and Family Policy, Duke University dalam laman Psychology Today.

4. Tuntutan sosial perempuan: Harus kuat, harus bisa semuanya

Ilustrasi kelelahan (pexels.com/Photo by cottonbro studio)

Perempuan sering dibebani ekspektasi untuk menjalankan banyak peran sekaligus, baik di rumah maupun di tempat kerja. Tekanan ini membuat perempuan harus terus kuat, bahkan ketika kondisi tidak memungkinkan.

“Ketidaksetaraan gender adalah salah satu masalah yang paling mengakar dan signifikan di zaman kita,” kata Jocelyn Chu, direktur program di UN Women.

Dalam laporan UN Women, perempuan bekerja lebih lama dan hanya mendapatkan sepertiga (32 persen) dari apa yang didapatkan laki-laki per jam. Bahkan jika pekerjaan berbayar dan tidak berbayar, seperti pekerjaan rumah tangga diperhitungkan.

"Jika pekerjaan rumah tangga yang tidak berbayar tidak disertakan, perempuan hanya mendapatkan 61 persen dari apa yang didapatkan laki-laki," menurut laporan tersebut.

5. Dampak nyata: Burnout, lelah fisik, luka batin

Ilustrasi kelelahan (pexels.com/cottonbro studio)

Beban yang terus menumpuk bisa menyebabkan kelelahan fisik dan emosional. Banyak perempuan mengalami burnout karena harus menjalani peran ganda. Akibatnya, mereka sering kehilangan waktu untuk diri sendiri dan kesehatan mentalnya.

Konsep “time poverty” juga menunjukkan bagaimana waktu perempuan lebih banyak tersita untuk memenuhi tanggung jawab. Menurut laporan UN Women, hal ini muncul sebagai dimensi ketidaksetaraan gender yang kritis dan terukur.

"Pola multitasking dan mobilitas mengungkapkan kendala tersembunyi pada waktu perempuan. Komposisi rumah tangga, khususnya tinggal bersama anak-anak, merupakan pendorong utama ketidaksetaraan waktu," tulis keterangan dalam laporan tersebut.

6. Solusi bersama, dukungan nyata

Ilustrasi pertemanan saling mendukung (pexels.com/Photo by Mental Health America (MHA))

Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh perempuan sendiri. Dibutuhkan dukungan dari sistem, keluarga, dan lingkungan sosial. Pendekatan kolektif sangat penting untuk menciptakan keseimbangan. Sesama perempuan juga perlu saling mendukung, bukan saling menghakimi.

Hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan telah mapan dalam psikologi sosial. Dalam jurnal Thriving together: the benefits of women's social ties for physical, psychological and relationship health, menunjukkan bahwa manfaat ini sangat menonjol di kalangan perempuan.

"Ketika menghadapi stresor lingkungan, perempuan lebih cenderung mengadopsi strategi tend-and-befriend (merawat dan berteman) daripada fight-or-flight (melawan atau melarikan diri)," tulis laporan yang diterbitkan National Library of Medicine.

Lebih lanjut, persahabatan perempuan cenderung lebih terbuka dan lebih sering diandalkan untuk dukungan sosial, yang dikaitkan dengan manfaat fisik dan psikologis. Mereka juga lebih efektif dalam memberikan dukungan sosial, yang semakin meningkatkan manfaat tersebut.

Memahami bahwa sistem memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman perempuan adalah langkah awal untuk menciptakan perubahan. Kesadaran ini membantu kita berhenti menyalahkan individu, dan mulai melihat apa saja yang perlu diperbaiki bersama—baik itu kebijakan, budaya kerja, hingga cara kita memandang peran perempuan di masyarakat.

Perubahan mungkin tidak terjadi dalam semalam, tetapi selalu dimulai dari cara kita melihat dan membicarakan masalah. Ketika lebih banyak orang berani mempertanyakan dan memperbaiki sistem yang ada, ruang bagi perempuan untuk berkembang akan semakin terbuka. Dan pada akhirnya, sistem yang adil bukan hanya menguntungkan perempuan, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan setara bagi semua.

Editorial Team