Dua dekade setelah dirilis, "Wake the Dead" kembali menghentak pencinta musik di Jakarta. Album yang menandai era penting dalam sejarah hardcore modern itu dirayakan secara penuh oleh sang empunya, Comeback Kid, dalam sebuah konser intim namun intens di Zoo SCBD, Jakarta, Selasa (27/1/2026) yang dipromotori oleh Ageless Galaxy.
Saat petang menghampiri, Zoo perlahan bergetar dari dalam perutnya sendiri. Sekitar 500 lebih penonton sudah berdiri rapat menunggu idolanya mentas dalam perayaan dua dekade album "Wake the Dead." Sebagian mengobrol dan beberapa menghisap rokok guna mengusir penat sambil menantikan Comeback Kid unjuk gigi.
Wajah-wajah lintas generasi semringah menanti dengan memoar masing-masing dari album ikonik itu. Tidak ada jarak usia yang kentara. Semua berdiri setara, menunggu album yang telah menjadi semacam kompas emosional bagi banyak orang.
Bagi sebagian penonton, malam itu adalah pertemuan ulang dengan musik yang menemani masa muda. Tak sedikit yang mengaku tak pernah absen menyaksikan Comeback Kid saat mentas di tanah air, tepatnya saat bermain di Stardust Cafe Sarinah pada 2008 silam dan saat Hammersonic 2022.
Namun, tak sedikit pula muka-muka belia hadir langsung, penikmat "Wake the Dead" yang tumbuh belakangan namun menganggap karya itu sebagai kitab wajib.
Sebelum unit hardcore asal Kanada itu tampil, penonton kompak menikmati sajian musik dari jagoan lokal yang turut naik panggung, mulai dari Outrage, Alone at Last, Modern Gun, hingga Final Attack.
Ketika pukul 21.30 WIB, seluruh venue memerah oleh efek lampu yang berpendar, diikuti raungan distorsi gitar Jeremy Hiebert dan Stu Ross, menandai intro lagu andalan “False Idols Fall.” Dalam hitungan detik, dentumannya memecah ruang, tubuh-tubuh bergerak spontan membentuk mosh pit tak beraturan.
Setelahnya, sang frontman Andrew Neufeld (vokal) tak berkata apa-apa. Comeback Kid langsung menyambar dengan “My Other Side.” Menggedor ritme, lagu ini membawa energi liar yang membuat Zoo terasa seperti medan perang.
Tanpa jeda, “The Trouble I Love” hadir sebagai peluru selanjutnya. Musik mengalun lebih intens, kepakan jantung massa berubah menjadi gelombang pekik. Penonton terus merangsek bak pasukan dalam moshing. Walau peluh bercucuran, sebagian bergerak melakukan crowd surfing.
Usai Comeback Kid menghentak dengan beberapa lagu, Andrew sempat menyapa penonton untuk mendinginkan suasana.
“Terima kasih,” katanya menggunakan bahasa Indonesia.
"Ketika kami tampil di Hammersonic, jarak kita sangat jauh. Tapi malam ini tidak ada jarak di antaran kita [di Zoo],” lanjut dia, yang menyiratkan preferensinya tampil di venue yang lebih intim.
