Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
seorang pria sedang berdiskusi dengan pasangannya
ilustrasi seorang pria sedang berdiskusi dengan pasangannya (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Memberi nama pada emosi membuat otak lebih tenang dan memindahkan emosi dari wilayah reaktif ke reflektif.

  • Memberi jeda 10-30 detik sebelum merespons memberi ruang bagi sistem saraf untuk turun dari mode "darurat" ke mode "berpikir".

  • Belajar mengekspresikan perasaan dalam bentuk kalimat sederhana adalah keterampilan dewasa yang sangat berharga.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pria tumbuh dengan pesan diam-diam bahwa emosi adalah sesuatu yang harus ditahan, dikunci, dan disembunyikan rapat-rapat. Marah jangan kelihatan, sedih jangan terdengar, takut jangan diakui. Padahal emosi itu seperti arus listrik dalam tubuh, kalau dialirkan dengan benar ia memberi energi, kalau ditahan terlalu lama ia justru bisa menyetrum ke mana-mana.

Manajemen emosi bukan soal menjadi dingin atau selalu tenang seperti batu di dasar sungai. Ini soal menjadi sadar, hadir, dan bertanggung jawab pada apa yang kita rasakan, tanpa melukai diri sendiri atau orang lain. Berikut tujuh cara pria mengelola emosi dengan bijak agar lebih stabil dan dewasa. Let's scrolling!

1. Kenali nama emosinya

ilustrasi ekspresi kesal seorang pria (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Banyak pria hanya mengenali dua kondisi: “baik-baik saja” dan “kesal”. Padahal di antara keduanya ada banyak warna emosi seperti kecewa, cemas, iri, sedih, lelah emosional, atau merasa tidak dihargai. Memberi nama yang tepat pada emosi membuat otak lebih tenang karena ketidakjelasan berubah menjadi sesuatu yang bisa dipahami.

Saat kamu bisa berkata, “Aku bukan marah, aku sebenarnya kecewa,” atau “Ini bukan benci, ini rasa takut ditinggalkan,” kamu sedang memindahkan emosi dari wilayah reaktif ke wilayah reflektif. Di situlah kendali mulai kembali ke tanganmu.

2. Beri jeda sebelum bereaksi

ilustrasi seorang pria yang sedang kelelahan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Emosi sering muncul lebih cepat daripada kesadaran. Mulut ingin langsung bicara, tangan ingin langsung membanting, pikiran ingin langsung menyimpulkan. Memberi jeda 10–30 detik sebelum merespons memberi ruang bagi sistem saraf untuk turun dari mode “darurat” ke mode “berpikir”.

Jeda ini bisa berupa menarik napas dalam, minum air, berjalan sebentar, atau hanya diam sambil menghitung. Jeda bukan berarti lari dari emosi, tapi menunda reaksi agar respon yang keluar bukan sekadar letupan, melainkan pilihan.

3. Ekspresikan emosi dalam bahasa

ilustrasi seorang pria yang sedang berkomunikasi dengan pasangannya (pexels.com/Alena Darmel)

Emosi yang tidak diberi jalan keluar akan mencari jalannya sendiri, dan sering kali jalannya adalah kemarahan, sindiran, atau jarak emosional. Belajar mengekspresikan perasaan dalam bentuk kalimat sederhana adalah keterampilan dewasa yang sangat berharga.

Bahasa memberi bentuk pada emosi. Ia mengubah kabut menjadi garis, mengubah tekanan menjadi pesan. Dengan berbicara jujur tanpa menyerang, kamu memberi kesempatan bagi orang lain untuk memahami, bukan bertahan.

4. Punya ruang aman untuk melepas emosi

ilustrasi seorang pria sedang melihat dirinya pada cermin (pexels.com/Vlada Karpovich)

Tidak semua emosi harus dibagikan ke semua orang. Tapi semua emosi perlu ruang untuk keluar. Ruang aman bisa berupa satu sahabat, pasangan, jurnal pribadi, terapis, atau bahkan rekaman suara untuk diri sendiri.

Ruang ini adalah tempat kamu boleh rapuh tanpa harus tampil kuat, boleh bingung tanpa harus tahu jawabannya. Di sanalah emosi bisa turun dari dada ke kata-kata, lalu perlahan kehilangan bebannya.

5. Bedakan emosi dari identitas

ilustrasi pasangan yang sedang bertengkar (freepik.com/bearfotos)

Merasa marah bukan berarti kamu orang pemarah. Merasa sedih bukan berarti kamu lemah. Emosi adalah cuaca, bukan iklim. Ia datang dan pergi, sementara dirimu lebih luas dari apa yang kamu rasakan hari ini.

Dengan memisahkan emosi dari identitas, kamu berhenti menghakimi diri sendiri setiap kali perasaan tidak nyaman muncul. Ini membuatmu lebih berani menghadapi emosi, karena ia tidak lagi terasa sebagai ancaman terhadap harga diri.

6. Rawat tubuh untuk menjaga emosi

ilustrasi seorang pria yang berlatih yoga (pexels.com/Ivan S)

Kurang tidur, lapar, kelelahan, dan stres fisik membuat emosi lebih mudah meledak. Tubuh adalah panggung tempat emosi menari. Jika panggungnya rapuh, tariannya pun jadi kacau.

Tidur cukup, makan seimbang, bergerak, dan memberi tubuh waktu pulih bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi juga stabilitas emosional. Pria yang merawat tubuhnya sedang merawat kejernihan batinnya.

7. Izinkan diri sendiri tidak selalu kuat

ilustrasi seorang pria yang duduk di tepi tempat tidur sambil merenung (pexels.com/Alex Green)

Kekuatan bukan berarti selalu tahan banting, tapi tahu kapan harus menurunkan perisai. Mengizinkan diri untuk sedih, takut, atau tidak tahu arah justru membuatmu lebih utuh sebagai manusia.

Dengan mengakui keterbatasan, kamu membuka ruang untuk belajar, bertumbuh, dan terhubung lebih dalam dengan orang lain. Di sanalah emosi tidak lagi menjadi musuh, melainkan penunjuk arah.

Mengelola emosi bukan tentang menjadi pria yang dingin, kaku, atau selalu terkendali seperti mesin. Ini tentang menjadi pria yang hidup penuh, yang mampu merasakan tanpa tenggelam, mampu tegas tanpa melukai, dan mampu jujur tanpa kehilangan martabat.

Emosi bukan beban yang harus dipikul sendirian, tapi bahasa batin yang ingin didengarkan. Ketika kamu belajar mendengarnya, kamu bukan hanya lebih tenang, tapi juga lebih utuh sebagai manusia dewasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team