Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi toxic productivity
ilustrasi toxic productivity (pexels.com/Tiger Lily)

Intinya sih...

  • Alokasikan waktu untuk istirahat tanpa rasa bersalah

  • Ikuti sinyal tubuh jika sudah lelah, jadikan istirahat sebagai bahan bakar untuk lebih produktif

  • Hindari menganggap sibuk bekerja sebagai pencapaian hidupmu

  • Kuasai kemampuan manajemen waktu yang baik

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi produktif atau memiliki produktivitas tinggi, sering menjadi salah satu acuan pria yang dipercaya bakal sukses di masa depan. Namun, ada istilah toxic productivity di mana seorang bisa terlalu produktif hingga merugikan diri sendiri. Misalnya ketika kamu merasa bersalah saat bersantai-santai dan gak mengerjakan suatu hal yang produktif, hingga mengabaikan sinyal tubuh yang sudah lelah demi tetap produktif.

Jika kamu sedang mengalami toxic productivity seperti ciri-ciri di atas, dan ingin mengatasinya agar hidup lebih seimbang, maka kamu bisa cek cara mengatasinya di bawah ini ya, bro. Karena, IDN Times bakal bahas pada artikel kali ini!

1. Alokasikan waktu untuk istirahat tanpa rasa bersalah

ilustrasi toxic productivity (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Terkadang, perasaan bersalah saat bersantai muncul karena memang kamu gak menjadwalkan waktu untuk istirahat dari pekerjaan. Sehingga rasanya kamu menggunakan waktu bekerja untuk beristirahat, dan itu bisa mengganggu hati dan pikiranmu. Maka, kamu perlu membuat jadwal khusus yang memang ditujukan untuk beristirahat atau bersantai dari pekerjaan.

Alokasikan waktu khusus, dan gunakan untuk bersantai, istirahat, atau melakukan hal yang menyenangkan tanpa perasaan bersalah. Jika kamu kepikiran tentang pekerjaan, maka pikirkan bahwa waktu untuk bersantai saat ini merupakan bagian dari jadwal yang kamu buat dan perlu kamu ikuti. Sehingga tak ada lagi rasa bersalah karena kamu hanya melaksanakan jadwal yang dibuat.

2. Ikuti sinyal tubuh jika sudah lelah, jadikan istirahat sebagai bahan bakar untuk lebih produktif

ilustrasi toxic productivity (pexels.com/Edward Jenner)

Ketika tubuh sudah lelah dan mengantuk, kamu perlu tahu bahwa itu sinyal tubuh untuk meminta kamu beristirahat dari pekerjaan. Meski pekerjaan belum selesai, kamu perlu mengikuti tubuhmu untuk beristirahat, bro. Alokasikan waktu untuk istirahat yang cukup agar tubuh menjadi fit kembali.

Memang, mungkin ada perasaan bersalah karena harus menghentikan pekerjaan untuk berisitirahat. Namun, pikirkan bahwa dengan tubuh yang fit ketika beristirahat dengan cukup, maka kamu bisa lebih produktif lagi kok, bro. Meski ada waktu yang terbuang untuk istirahat yang cukup, tetapi kamu bisa lebih fokus dan bisa mengerjakan pekerjaan dengan lebih cepat karena tubuh sudah fit kembali.

3. Hindari menganggap sibuk bekerja sebagai pencapaian hidupmu

ilustrasi toxic productivity (pexels.com/Edmond Dantès)

Sebagian pria merasa bahwa menjadi sibuk adalah pencapaian hidup yang keren. Bahkan sebagian pria membanggakan bagaimana mereka sibuk bekerja dengan mengunggahnya di sosial media. Namun, ketika kamu merasa produktivitas justru merusak kualitas hidupmu, maka kamu harus mengubah pandangan.

Alih-alih menganggap sibuk dan produktif adalah suatu kebanggaan, cobalah untuk berpandangan bahwa kehidupan yang seimbang antara pekerjaan, istirahat, dan melakukann hal yang menyenangkan itu lebih membanggakan dan memuaskan. Pikirkan bahwa memiliki waktu tidur malam yang cukup itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa karena kamu mengalokasikan waktu untuk kebutuhan alami tubuh. Sehingga kamu gak merasa insecure ketika sedang gak menyibukkan diri dengan pekerjaan.

4. Kuasai kemampuan manajemen waktu yang baik

ilustrasi toxic productivity (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Coba lihat kembali kesibukan dan produktivitas yang kamu lakukan setiap hari. Apakah kamu melakukannya dengan maksimal? Atau jangan-jangan masih banyak waktumu yang terbuang karena distraksi? Terkadang seorang pria merasa setiap hari sibuk dan kehabisan waktu, padahal jika dilihat dengan lebih detail, ada banyak distraksi yang menyita waktunya ketika bekerja.

Misalnya distraksi digital seperti notifikasi smartphone, sering cek media sosial, hingga bekerja sambil menonton tayangan di internet. Selain itu, juga ada distraksi lingkungan kerja, misalnya ketika bekerja di rumah bisa terganggu dengan aktivitas dan orang yang ada di rumah, hingga bekerja di open space bisa terganggu dengan suara obrolan orang lain. Kamu perlu berstrategi dan mengatur diri agar waktu yang kamu alokasikan benar-benar untuk fokus bekerja tanpa distraksi, apalagi yang disebabkan oleh kebiasaan diri sendiri. Maka kamu akan merasakan waktu yang lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa mengorbankan waktu istirahat atau menikmati hidup.

Menjadi produktif tentu hal yang baik dan bisa membawa seorang pria menuju kesuksesan atau impian yang ingin diraih. Namun, jangan sampai lupa kendali hingga menjadi toxic productivity. Kamu bisa terapkan cara-cara di atas agar menjadi pria yang produktif secara sehat, bro!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team