Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Cara Menjadi Performative Male Tanpa Pencitraan, Tetap Autentik!
ilustrasi performative male (pexels.com/cottonbro studio)
  • Artikel membahas konsep “performative male”, gaya maskulin lembut yang menonjolkan sisi empati dan estetika tanpa kehilangan jati diri pria.
  • Ditekankan pentingnya menyesuaikan gaya performative male dengan preferensi pribadi agar tetap autentik dan tidak terkesan pencitraan semata.
  • Menjadi performative male sejati berarti konsisten menjalani gaya tersebut di berbagai situasi tanpa rasa takut kehilangan image atau validasi orang lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Performative male merupakan cara baru para cowok untuk menunjukkan sisi maskulin yang lebih lembut. Umumnya mereka akan bergaya lebih lembut dengan memakai totte bag dengan boneka Labubu, mendengarkan musik bergenre edgy dengan earphone kabel, menggunakan pakaian thrifting dengan fitting baggy, meminum matcha dan makan cokelat Dubai, dan membaca buku dengan topik feminisme sebagai bentuk dukungan terhadap perempuan, tetapi tanpa kehilangan kesan maskulin. Meski terkesan positif, tetapi tipe cowok seperti ini sering dianggap hanya pencitraan saja agar dianggap lebih lembut.

Nah, jika kamu ingin menjadi performative male tanpa kesan pencitraan, kali ini IDN Times bakal kasih tahu caranya. Sehingga bisa coba kamu ikuti sesuai dengan kesukaan kamu yang sebenarnya. Jadi, simak cara-caranya di bawah ini ya, bro!

1. Tetap sesuaikan dengan preferensi pribadi

ilustrasi performative male (pexels.com/MART PRODUCTION)

Performative male memiliki kriteria yang spesifik seperti yang sudah dijelaskan di atas. Namun, sebenarnya kamu tetap terbuka untuk menyesuaikannya degan preferensi pribadimu. Misalnya kamu kurang suka pakai totte bag, maka pakai tas selempang kulit atau tas lain yang kamu suka bisa menjadi pilihan yang lebih baik.

Begitu juga dengan kriteria lainnya, bisa kamu sesuaikan dengan preferensi pribadimu tanpa terlalu keluar jauh dari kesan performative male. Karena, jika terlalu mengikuti kriteria, justru penampilanmu jadi terasa kurang orisinal, dan terkesan seperti 'template' gaya performative male tanpa terasa benar-benar menjiwainya. Kamu jadi terkesan hanya ikut-ikutan dan pencitraan saja.

2. Perdalam performative male hingga kamu menyukai beberapa aspeknya

ilustrasi performative male (pexels.com/Stefan)

Hal yang membedakan pencitraan dan gaya yang benar-benar asli adalah seberapa dalam kamu menyukai gaya tersebut. Cobalah untuk mendalami dan berusaha menyukai karakteristik khas performative male. Bisa saja kamu jadi benar-benar menyukai membaca buku dengan topik-topik seperti feminisme atau mendengarkan musik yang edgy dan anti mainstream ala performative male, bukan?

Terkadang, semakin sering kamu melakukan berbagai kriterianya, semakin kamu benar-benar menyukainya. Tentu saja, tak harus semua kriteria kamu sukai, tetap sesuaikan dengan kenyamanan kamu. Jika kamu menyukainya, maka performative male tidak hanya sekadar gaya untuk pencitraan, tetapi memang benar-benar kamu sukai dan kamu pahami.

3. Jadilah performative male di mana pun kamu berada, jangan hanya di hadapan orang lain saja

ilustrasi performative male (pexels.com/Uriel Mont)

Menjadi performative male yang autentik artinya kamu melakukan ciri khas mereka di mana pun berada. Jadi, bukan hanya melakukannya karena ingin dinilai oleh orang lain saja, bro. Saat tidak ada yang melihat pun, misalnya sedang berada di rumah atau sedang sendirian, kamu tetap melakukan ciri khas performative male.

Seperti membaca buku dengan topik tertentu, mendengarkan musik pakai earphone kabel, hingga minum matcha jika kamu memang menyukainya. Maka, kamu benar-benar punya jiwa performative male sebagai karakter dirimu, bukan hanya pencitraan saja, bro. Sehingga, saat berada di hadapan orang lain pun, karakter yang kamu miliki tidak dibuat-buat, karena memang sudah kamu lakukan setiap hari saat tidak ada yang melihat.

4. Tidak merasa takut jika tidak sesuai image

ilustrasi performative male (pexels.com/Pedram Sepaha)

Jika performative male-mu hanya image atau pencitraan, maka kamu akan merasa cemas dan khawatir ketika dihadapkan dengan kondisi yang harus melepaskan image performative male. Misalnya kamu sedang mengikuti kegiatan olahraga atau bahkan sedang menghadiri acara formal yang membuat kamu tidak bisa menggunakan outfit khas performative male. Namun, ketika performative male memang sudah menjadi karakter diri kamu, maka kamu gak akan khawatir melepaskan image itu sesaat ketika situasi tidak mendukung.

Kamu seharusnya gak merasa insecure ketika harus melepas semua outfit khas performative male dan menggantinya dengan outfit yang lebih sesuai situasi yang kamu hadiri. Karena performative male sudah menjadi bagian dari dirimu, bukan hanya pencitraan. Jadi, coba rasakan apa ada rasa khawatir ketika kamu tampil tanpa atribut khas performative male? Jika kamu tetap merasa tenang bahwa image kamu berubah sementara di mata orang lain, maka artinya performative male yang kamu usung bukan hanya pencitraan saja.

Memilih performative male menjadi jati diri memang bukan hal yang buruk kalau kamu memang benar-benar menyukainya dan nyaman. Ada banyak hal yang seru dengan menjadi performative male. Sehingga, ada baiknya memahami cara-cara di atas agar performative male-mu bukan hanya pencitraan, bro.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team