Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara Punya Properti Berubah, Anak Muda Kini Lirik Luar Negeri
Ilustrasi Properti (unsplash.com/Tierra Mallorca)
  • Generasi muda kini memandang properti sebagai bagian dari strategi hidup global, bukan sekadar tempat tinggal atau aset jangka panjang.
  • Kondisi pasar domestik yang melambat dan nilai tukar rupiah melemah mendorong Gen Z serta milenial melirik properti di luar negeri seperti Malaysia.
  • Tren investasi lintas negara mencerminkan perubahan mindset: properti menjadi instrumen mobilitas dan portofolio global, bukan lagi simbol kepemilikan semata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah tren gaya hidup generasi muda yang semakin global, cara memandang properti ikut berubah. Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal atau aset jangka panjang, tetapi bagian dari strategi hidup: dari mobilitas, keamanan finansial, hingga peluang lintas negara.

Menariknya, di saat sebagian orang masih fokus pada pasar properti dalam negeri, mulai muncul arus baru di kalangan Gen Z dan milenial yang melirik negara tetangga. Malaysia menjadi salah satu yang paling sering disebut.

Fenomena ini bukan sekadar ikut tren. Ada faktor ekonomi yang ikut membentuk cara pandang tersebut, termasuk perubahan nilai tukar, kondisi pasar properti, hingga biaya kepemilikan aset yang makin diperhitungkan secara detail oleh generasi muda.

Dalam dua dekade terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap sejumlah mata uang utama.

Data menunjukkan, ringgit Malaysia yang dulu berada di kisaran Rp2.000-an kini berada di level sekitar Rp4.400–Rp4.500. Sementara dolar Amerika Serikat yang dulu di kisaran Rp8.000–Rp9.000 kini menembus sekitar Rp18.000.

Artinya, dalam jangka panjang, daya beli rupiah terhadap mata uang lain terus mengalami penurunan signifikan.

Di saat yang sama, berbagai tekanan global seperti perlambatan ekonomi dan revisi proyeksi pertumbuhan membuat sebagian anak muda mulai lebih berhati-hati dalam menyimpan uang tunai. Banyak yang mulai berpikir bahwa aset perlu “bergerak”, bukan hanya disimpan.

1. Menggerakkan aset dan properti tak lagi sekadar soal lokasi

Ilustrasi Malaysia (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Di tengah perubahan itu, properti tetap menjadi salah satu instrumen yang banyak dipertimbangkan. Namun pendekatannya mulai bergeser. Bukan lagi sekadar "memiliki rumah," tetapi bagaimana aset tersebut bisa bekerja.

Pasar properti di Indonesia dalam beberapa periode terakhir menunjukkan perlambatan. Data Bank Indonesia mencatat transaksi perumahan pada kuartal I 2026 turun sekitar 25,67 persen secara tahunan.

Kondisi ini diperkuat kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen yang ikut mendorong naiknya biaya Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Di level konsumen, situasi ini terasa langsung. Cicilan menjadi lebih berat, sementara imbal hasil sewa di banyak kota besar cenderung terbatas di kisaran 3–5 persen. Dalam banyak kasus, hal ini membuat sebagian investor muda mulai berhitung ulang soal efisiensi aset.

Di tengah perubahan tersebut, muncul kecenderungan baru di kalangan investor muda: melihat properti sebagai bagian dari portofolio lintas negara.

Perkembangan teknologi membuat batas geografis semakin terasa tipis. Informasi mengenai kawasan hunian, tren investasi, hingga perkembangan kota-kota dunia kini bisa diakses hanya melalui ponsel.

Malaysia menjadi salah satu negara yang mulai sering masuk dalam radar. Kedekatan geografis, kemiripan budaya, kenyamanan hidup, akses pendidikan, fasilitas publik, transportasi, hingga peluang memperluas jaringan internasional kini ikut menjadi pertimbangan.

Kawasan seperti Kuala Lumpur dan Johor, misalnya, berkembang menjadi pusat aktivitas yang menarik perhatian kalangan profesional muda, keluarga muda, hingga pekerja yang memiliki mobilitas tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Karena itu, tren kepemilikan properti lintas negara semakin sering dikaitkan dengan perubahan gaya hidup dan kebutuhan generasi modern yang lebih fleksibel.

2. Properti tak lagi sekadar “Punya Rumah”

Ilustrasi Gen Z di persimpangan jalan antara Rupiah Digital yang terpusat dan Aset Kripto yang terdesentralisasi.

Bagi generasi sebelumnya, memiliki rumah di kota besar sudah dianggap pencapaian utama.

Namun bagi banyak Gen Z dan milenial, cara pandang itu mulai berubah. Properti kini tidak hanya dinilai dari status kepemilikan, tetapi juga dari fungsinya dalam portofolio keuangan.

Faktor seperti arus kas dari sewa, potensi kenaikan nilai, hingga stabilitas mata uang menjadi bagian dari pertimbangan utama.

Di Malaysia, beberapa segmen properti high-rise disebut memiliki imbal hasil sewa di kisaran 5–8 persen pada lokasi tertentu, dengan skema pembiayaan yang dinilai lebih ringan dibanding beberapa pasar regional lainnya.

Di beberapa kawasan berkembang, data menunjukkan adanya pergerakan nilai properti yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Di kawasan Iskandar Puteri, Johor, salah satu unit tercatat mengalami kenaikan sekitar 44,2 persen dari sisi capital gain, ditambah penguatan nilai mata uang yang turut berkontribusi terhadap total pengembalian.

Sementara di Desa Park City, Kuala Lumpur, nilai properti tercatat naik 77 persen capital gain, dengan total pengembalian yang disebut bisa melampaui 100 persen ketika dikombinasikan dengan faktor mata uang.

Meski begitu, para pelaku pasar menekankan bahwa performa seperti ini sangat bergantung pada lokasi, waktu masuk, dan harga beli awal.

Di kawasan Medini, Johor, harga sewa juga dilaporkan naik dengan imbal hasil yang disebut bisa menembus lebih dari 8 persen pada kondisi tertentu.

Namun, hasil seperti ini sangat bergantung pada waktu masuk dan pemilihan unit.

3. Bukan soal negara, tapi tren global bagi generasi muda

ilustrasi properti (freepik.com/freepik

Meski Malaysia mulai dilihat sebagai peluang, para ahli menekankan satu hal penting: bukan negaranya yang menentukan hasil investasi, tetapi cara masuknya. Sebab, jika asal masuk tanpa data, sama dengan mengundang kerugian.

CEO FAR Capital, Faizul Ridzuan, menilai banyak investor gagal karena masuk di harga yang tidak tepat atau tanpa memahami struktur pasar.

“Kedua kawasan ini memiliki ekosistem yang sudah sangat matang. Namun, imbal hasil investasi yang maksimal hanya bisa dicapai jika investor masuk di posisi harga yang tepat,” ujarnya.

Menurutnya, kesalahan umum investor adalah terburu-buru membeli karena tren, bukan berdasarkan analisis.

Yang menarik dari fenomena ini bukan hanya soal angka, tetapi perubahan mindset.

Generasi muda tak lagi melihat properti sebagai tujuan akhir, melainkan bagian dari gaya hidup yang lebih fleksibel. Mobilitas antar negara, akses kerja lintas wilayah, hingga keinginan membangun portofolio global mulai memengaruhi cara mereka mengambil keputusan finansial.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, batas antara investasi lokal dan internasional perlahan memudar. Dan bagi banyak anak muda, pertanyaannya kini bukan lagi “beli rumah di mana”, tetapi “bagaimana aset itu bisa ikut tumbuh bersama hidup yang ingin mereka bangun.”

Editorial Team

Related Article