Istilah pria sigma belakangan semakin populer, terutama di kalangan generasi muda yang tertarik pada topik pengembangan diri dan maskulinitas modern. Sosok ini kerap digambarkan sebagai pria mandiri, tenang, dan tidak terikat pada struktur sosial yang kaku, sehingga sering disandingkan sebagai alternatif dari konsep pria alfa atau beta. Namun, di balik citra tersebut, terdapat fondasi filosofis yang jarang dibahas secara mendalam, yakni Stoisisme.
Filsafat kuno yang dipraktikkan tokoh seperti Marcus Aurelius dan Epictetus ini menekankan kendali diri, rasionalitas, serta kebebasan batin dalam menghadapi tekanan hidup. Nilai-nilai tersebut ternyata sangat selaras dengan cara berpikir dan bersikap yang melekat pada sosok pria sigma di era modern. Untuk memahaminya lebih jauh, berikut sepuluh karakteristik Stoik dari pria sigma yang membentuk mentalitasnya sebagai individu tangguh dan berprinsip.
