Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Prinsip Stoikisme Jadi Solusi Burnout di Era Hustle Culture

ilustrasi menikmati setiap tekanan pekerjaan
ilustrasi menikmati setiap tekanan pekerjaan (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Di tengah budaya kerja cepat dan ambisius yang dikenal sebagai hustle culture, banyak orang merasa terus kelelahan secara fisik maupun mental. Tuntutan untuk selalu produktif membuat kita sulit berhenti, bahkan saat tubuh dan pikiran ingin istirahat. Akibatnya, burnout menjadi hal yang semakin umum dialami pekerja modern.

Stoikisme menawarkan cara berpikir yang menenangkan di tengah tekanan. Prinsipnya menekankan pada pengendalian diri, penerimaan terhadap hal-hal yang tidak bisa diubah, dan fokus pada hal yang dapat dikendalikan. Berikut lima alasan prinsip stoikisme menjadi solusi efektif untuk burnout di era hustle culture.

1. Membantu membedakan hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan

ilustrasi fokus bekerja
ilustrasi fokus bekerja (pexels.com/Thirdman)

Salah satu inti ajaran stoikisme adalah membedakan mana hal yang berada dalam kendali kita dan mana yang tidak. Saat menerapkannya, kita belajar berhenti memaksakan hasil dan mulai fokus pada proses yang dijalani. Pola pikir ini bisa mengurangi stres karena kita tidak lagi terbebani oleh hal-hal di luar kendali.

Dalam dunia kerja yang kompetitif, sering kali kita frustrasi karena tidak bisa mengatur segalanya sesuai keinginan. Dengan prinsip stoikisme, kita bisa menerima kenyataan tanpa kehilangan arah. Energi pun bisa dialihkan untuk hal yang bermanfaat, bukan sekadar kekhawatiran berlebihan.

2. Mengajarkan pentingnya ketenangan dalam bertindak

ilustrasi bekerja dengan tenang
ilustrasi bekerja dengan tenang (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Stoikisme menekankan ketenangan sebagai kekuatan utama manusia. Kita diajak untuk menahan reaksi impulsif dan menilai situasi sebelum mengambil tindakan. Kebiasaan ini membuat kita lebih bijak dalam menghadapi tekanan kerja maupun konflik interpersonal.

Ketenangan bukan tanda pasrah, tetapi cara menjaga kendali atas diri sendiri di tengah kekacauan. Dalam situasi kerja yang penuh target dan tuntutan, kemampuan ini menjadi tameng dari kelelahan emosional. Dengan pikiran yang tenang, kita bisa bekerja lebih fokus tanpa stres berlebihan.

3. Menumbuhkan sikap syukur dan perspektif realistis

ilustrasi minum kopi saat bekerja
ilustrasi minum kopi saat bekerja (pexels.com/Los Muertos Crew)

Prinsip stoikisme mengajarkan kita untuk mensyukuri apa yang dimiliki saat ini. Alih-alih terus mengejar hal yang belum tercapai, kita diajak untuk menghargai proses dan hasil yang sudah didapat. Cara berpikir ini menurunkan ekspektasi berlebihan yang sering menjadi pemicu stres.

Sikap syukur juga membantu kita melihat kehidupan dengan lebih seimbang. Kita jadi sadar bahwa keberhasilan bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan. Dengan menerima realitas apa adanya, tekanan untuk selalu lebih baik bisa berkurang tanpa mematikan semangat berkembang.

4. Melatih ketahanan mental terhadap kegagalan

ilustrasi seseorang dengan mental yang kuat (pexels.com/Alexander Suhorucov)
ilustrasi seseorang dengan mental yang kuat (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Dalam filosofi stoikisme, kegagalan bukanlah hal yang harus dihindari, melainkan bagian alami dari kehidupan. Dengan memahami hal itu, kita menjadi lebih tahan menghadapi kritik, kesalahan, atau hasil yang tidak sesuai harapan. Kegagalan dilihat sebagai kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari perjalanan.

Ketahanan mental sangat penting di era kerja modern yang serba cepat dan penuh kompetisi. Saat kita tidak mudah goyah oleh kegagalan, kita bisa menjaga stabilitas emosi dan semangat kerja. Sikap tenang dalam menghadapi jatuh bangun karier membuat burnout lebih mudah dihindari.

5. Mengajarkan hidup dengan tujuan yang lebih bermakna

ilustrasi perempuan memiliki tujuan jelas (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi perempuan memiliki tujuan jelas (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Stoikisme membantu kita menyadari bahwa hidup tidak selalu diisi dengan pencapaian materi atau prestasi. Fokusnya adalah menjalani kehidupan sesuai nilai dan tujuan yang kita anggap bermakna. Dengan begitu, motivasi bekerja datang dari dalam diri, bukan tekanan eksternal.

Ketika pekerjaan dilakukan dengan makna pribadi, rasa puas akan lebih mudah dirasakan. Kita tidak lagi terjebak dalam siklus produktivitas tanpa arah. Prinsip ini menumbuhkan keseimbangan antara ambisi dan ketenangan batin, dua hal yang penting untuk mencegah burnout.

Burnout bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga krisis makna dan kendali atas diri. Stoikisme menawarkan panduan untuk menata ulang mindset agar lebih tenang dan fokus pada hal yang penting. Dengan menerapkannya, kita belajar menjaga keseimbangan antara bekerja keras dan kesehatan mental.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Latest in Life

See More

8 Fakta Menarik Peristiwa Isra Miraj, Sudah Tahu Belum? 

14 Jan 2026, 17:20 WIBLife