ilustrasi air (pexels.com/Augustinus Martinus Noppé)
Larangan keramas saat Imlek juga berkaitan dengan kepercayaan mengenai unsur air dalam kepercayaan Tionghoa. Hari pertama dan kedua tahun baru dipercaya bertepatan dengan momen penghormatan terhadap dewa yang berkaitan dengan air, sehingga penggunaan air secara berlebihan dianggap tidak tepat. Air dalam filosofi Tionghoa dipandang sebagai simbol aliran rezeki, keberuntungan, serta energi kehidupan yang harus dijaga kestabilannya. Aktivitas seperti keramas dinilai berpotensi “membuang” energi baik yang baru datang pada awal tahun. Keyakinan tersebut membuat banyak keluarga memilih menunda keramas agar keberuntungan tidak dianggap ikut hanyut.
Tradisi itu juga berkaitan dengan kebiasaan persiapan sebelum malam pergantian tahun baru Imlek. Banyak orang justru melakukan keramas, mandi besar, serta pembersihan rumah pada malam sebelum Imlek sebagai simbol membuang kesialan. Hal ini menunjukkan bahwa larangan keramas bukan untuk menolak kebersihan, melainkan mengatur waktu penggunaannya agar sesuai makna yang selama ini mereka yakini. Prinsip tersebut sejalan dengan konsep keseimbangan energi dalam ajaran Taoisme yang menekankan harmoni antara tindakan manusia dan siklus alam. Praktik menunda keramas akhirnya dipahami sebagai bentuk menjaga stabilitas simbol keberuntungan pada hari pertama tahun baru.
Pantangan tersebut berkaitan langsung dengan cara masyarakat Tionghoa memaknai awal tahun sebagai titik penentu keberuntungan. Sehingga, setiap tindakan pada hari pertama dipilih secara hati-hati agar tidak dianggap mengganggu kemakmuran. Pemahaman tersebut membuat banyak keluarga tetap memilih menunda keramas sebagai bentuk menghormati tradisi leluhur.