ilustrasi mubazir (vecteezy.com/architectphd)
Perbedaan antara dua konsep ini dapat dipahami melalui dua ukuran utama, yaitu kuantitas penggunaan dan nilai manfaat. Israf menilai seberapa jauh penggunaan melampaui kebutuhan, sedangkan mubazir menilai apakah penggunaan tersebut masih memiliki tujuan yang benar atau justru tidak memiliki manfaat sama sekali. Misalnya, kamu membeli sepuluh pasang sepatu ketika dua pasang sudah mencukupi termasuk perilaku berlebihan karena jumlahnya tidak proporsional, sehingga masuk kategori israf. Situasi tersebut berubah menjadi mubazir apabila sepatu-sepatu itu tidak pernah dipakai hingga rusak atau akhirnya dibuang tanpa manfaat.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa seseorang dapat melakukan israf tanpa menjadi mubazir selama barang masih digunakan secara benar. Sebaliknya, mubazir selalu melibatkan hilangnya nilai manfaat, sehingga kesalahannya ada pada tujuan penggunaan, bukan sekadar jumlah. Pemahaman yang tepat mengenai batas ini membantu kamu menilai keputusan konsumsi secara lebih bijak. Kesadaran tersebut penting karena dua perilaku tersebut sama-sama menunjukkan kurangnya rasa syukur, tetapi memiliki karakter kesalahan yang tidak sama dalam etika penggunaan harta.
Perbedaan israf dan mubazir bukan perkara istilah yang bisa dipertukarkan sembarangan. Melainkan batas etik yang menentukan apakah seseorang sekadar berlebihan atau sudah benar-benar menyia-nyiakan nikmat. Kesadaran atas perbedaan ini menuntut ketelitian dalam menilai setiap pengeluaran, sebab tidak semua konsumsi otomatis salah, tetapi setiap penyia-nyiaan jelas menunjukkan kelalaian. Setelah memahami perbedaan israf dan mubazir, apakah kamu masih akan menganggap keduanya sama?