Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pilihan Finansial Pria di Usia 20-an dan 30-an, Efeknya Jangka Panjang

ilustrasi atur ulang anggaran bulanan (pexels.com/kaboompics)
ilustrasi atur ulang anggaran bulanan (pexels.com/kaboompics)
Intinya sih...
  • Cara mengelola penghasilan pertamaBanyak pria menganggap gaji awal hanya batu loncatan. Fokusnya menikmati hasil kerja tanpa terlalu memikirkan pengelolaan. Pola ini sering terbawa hingga penghasilan naik.
  • Keputusan berutang di usia produktifUtang sering terlihat sebagai solusi cepat. Cicilan gadget, kendaraan, atau gaya hidup terasa wajar karena “masih muda”. Namun, banyak yang lupa menghitung beban jangka panjangnya.
  • Prioritas antara gaya hidup dan asetUsia 20–30 identik dengan upgrade gaya hidup. Nongkrong, liburan, dan barang branded jadi simbol pencapaian. Tidak salah, tapi ser
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Usia 20-an dan 30-an sering dianggap masa eksplorasi. Penghasilan mulai stabil, gaya hidup meningkat, dan keputusan finansial terasa masih bisa diperbaiki nanti. Padahal, banyak dampak jangka panjang justru berakar dari pilihan keuangan di fase ini.

Masalahnya, efek dari keputusan finansial jarang terasa langsung. Baru setelah usia bertambah, konsekuensinya muncul perlahan. Berikut beberapa pilihan finansial yang kelihatannya sepele, tapi pengaruhnya bisa panjang.

Table of Content

1. Cara mengelola penghasilan pertama

1. Cara mengelola penghasilan pertama

ilustrasi pria memasukkan uang ke dompet (pexels.com/EVG Kowalievska)
ilustrasi pria memasukkan uang ke dompet (pexels.com/EVG Kowalievska)

Banyak pria menganggap gaji awal hanya batu loncatan. Fokusnya menikmati hasil kerja tanpa terlalu memikirkan pengelolaan. Padahal, pola ini sering terbawa hingga penghasilan naik.

Jika sejak awal terbiasa mengatur arus masuk dan keluar uang, kenaikan gaji tidak otomatis habis. Sebaliknya, tanpa kebiasaan ini, penghasilan berapa pun terasa selalu kurang. Efeknya bukan di jumlah uang, tapi di kontrolnya.

2. Keputusan berutang di usia produktif

ilustrasi dikejar hutang (pexels.com/Nicola Barts)
ilustrasi dikejar hutang (pexels.com/Nicola Barts)

Utang sering terlihat sebagai solusi cepat. Cicilan gadget, kendaraan, atau gaya hidup terasa wajar karena “masih muda”. Namun, banyak yang lupa menghitung beban jangka panjangnya.

Utang konsumtif mengurangi fleksibilitas finansial di masa depan. Saat peluang datang, ruang gerak sudah terikat cicilan. Di usia yang seharusnya bisa ambil risiko sehat, justru terjebak kewajiban rutin.

3. Prioritas antara gaya hidup dan aset

ilustrasi liburan ke luar negeri (pexels.com/nappy)
ilustrasi liburan ke luar negeri (pexels.com/nappy)

Usia 20-an hingga 30-an identik dengan upgrade gaya hidup. Nongkrong, liburan, dan barang branded jadi simbol pencapaian. Tidak salah, tapi sering tanpa batas yang jelas.

Masalah muncul saat semua penghasilan habis untuk hal yang nilainya turun. Tanpa aset atau tabungan, kerja keras hanya terasa di momen, bukan di stabilitas. Dalam jangka panjang, ini bikin start usia 30-an terasa berat.

4. Sikap terhadap tabungan dan investasi

ilustrasi sisihkan tabungan (pexels.com/tima)
ilustrasi sisihkan tabungan (pexels.com/tima)

Banyak pria menunda menabung dengan alasan penghasilan belum besar. Padahal yang krusial bukan jumlahnya, tapi konsistensinya. Waktu adalah faktor yang tidak bisa dikejar ulang.

Menunda berarti kehilangan efek akumulasi. Saat sadar pentingnya investasi, waktu sudah jauh berkurang. Dampaknya bukan hanya di angka, tapi di tekanan finansial yang lebih tinggi.

5. Cara memandang keamanan finansial

ilustrasi dana darurat (pexels.com/designer491)
ilustrasi dana darurat (pexels.com/designer491)

Sebagian pria merasa aman selama masih bisa bekerja. Asuransi, dana darurat, dan proteksi dianggap belum perlu. Pola pikir ini cukup umum di usia muda.

Masalahnya, risiko tidak menunggu usia. Tanpa perlindungan dasar, satu kejadian bisa mengacaukan rencana bertahun-tahun. Keamanan finansial bukan soal takut, tapi soal kesiapan.

Pilihan finansial di usia 20-an dan 30-an jarang terasa berat di awal. Justru karena itu sering diremehkan. Padahal dampaknya baru benar-benar terasa saat tanggung jawab hidup meningkat.

Bukan berarti harus serba kaku dan menahan diri. Kuncinya ada pada kesadaran dan keseimbangan. Semakin awal pria memahami konsekuensi jangka panjang, semakin ringan beban finansial di fase hidup berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan
Follow Us

Latest in Men

See More

Ciri-Ciri Lampu Gantung Kuno Asli, Jangan Salah Beli!

07 Jan 2026, 20:24 WIBMen