Setelah menandai kehadirannya di belantika musik alternatif Indonesia lewat single "Kami adalah Badai", "Agrippina", reinterpretasi berani atas karya klasik Harry Roesli, "Setengah Tiang", dan "The Lady with the Sapphire in Her Eyes", kini Serdadu Sam merilis proyek musikal terbarunya, sebuah album penuh bertajuk Kronik, sebuah rangkaian lagu yang memotret kegelisahan batin, refleksi sosial, dan pencarian eksistensi dalam bentuk audio-naratif yang kaya tekstur.
Dalam Kronik, Serdadu Sam menolak pola album konvensional. Ia memilih merangkai cerita melalui 13 trek yang bukan hanya sekadar lagu, tapi ibarat bab-bab dari sebuah buku hidup, tentang ambisi dan ketamakan, kegagalan, perpisahan, pertobatan, kehilangan, hingga kobaran semangat dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
“Kronik adalah dokumentasi batin. Saya tidak sedang membuat album komersial, saya sedang menulis catatan untuk dipahami, oleh siapa pun yang pernah merasa sendiri, lelah, tidak berdaya dihantam kerasnya kehidupan, dan ditelan kekecewaan di tengah keramaian, namun tetap harus berjuang menjalani hidup yang terus berjalan,” ujar Kenny, sosok di balik Serdadu Sam dalam keterangan resminya.
