Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-19 at 19.48.27 (1).jpeg
Foto profil Serdadu Sam (Dok. Serdadu Sam)

Intinya sih...

  • Materi Kronik dirancang sejak 2021, dilandasi pengalaman pribadi dan cerita orang terdekat.

  • Reinterpretasi "Setengah Tiang" karya Harry Roesli dan single unggulan "Dan Akhirnya Selamanya" menjadi titik penting dalam album.

  • Serdadu Sam melibatkan banyak kolaborator ternama dalam proses kreatifnya, dengan harapan memberikan pengalaman musikal yang berbeda kepada pendengar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah menandai kehadirannya di belantika musik alternatif Indonesia lewat single "Kami adalah Badai", "Agrippina", reinterpretasi berani atas karya klasik Harry Roesli, "Setengah Tiang", dan "The Lady with the Sapphire in Her Eyes", kini Serdadu Sam merilis proyek musikal terbarunya, sebuah album penuh bertajuk Kronik, sebuah rangkaian lagu yang memotret kegelisahan batin, refleksi sosial, dan pencarian eksistensi dalam bentuk audio-naratif yang kaya tekstur.

Dalam Kronik, Serdadu Sam menolak pola album konvensional. Ia memilih merangkai cerita melalui 13 trek yang bukan hanya sekadar lagu, tapi ibarat bab-bab dari sebuah buku hidup, tentang ambisi dan ketamakan, kegagalan, perpisahan, pertobatan, kehilangan, hingga kobaran semangat dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

Kronik adalah dokumentasi batin. Saya tidak sedang membuat album komersial, saya sedang menulis catatan untuk dipahami, oleh siapa pun yang pernah merasa sendiri, lelah, tidak berdaya dihantam kerasnya kehidupan, dan ditelan kekecewaan di tengah keramaian, namun tetap harus berjuang menjalani hidup yang terus berjalan,” ujar Kenny, sosok di balik Serdadu Sam dalam keterangan resminya.

1. Dilandasi oleh pengalaman pribadi

Foto profil Serdadu Sam (Dok. Serdadu Sam)

Materi Kronik telah dirancang sejak 2021. Penulisannya dilandasi oleh pengalaman pribadi, hasil observasi, dan cerita orang-orang terdekat. Semua lagu (kecuali "Setengah Tiang") diciptakan dan ditulis oleh Kenny dalam Bahasa Indonesia, dengan pendekatan lirik yang naratif namun tetap puitis.

“Menulis dalam Bahasa Indonesia punya tantangan tersendiri. Saya berusaha menghindari klise, tapi juga tidak ingin terlalu bersayap,” ujar Kenny.

Beberapa lagu dalam album ini berdurasi tidak biasa, seperti "Kalibut", sebuah nomor  progresif rock yang bercerita tentang konflik Gaza dengan durasi lebih dari 12 menit.

“Saya tak ingin dibatasi aturan industri soal durasi. Cerita sebuah lagu selesai saat ia selesai, bukan saat timer berhenti,” jelasnya.

2. Dari “Agrippina” ke “Setengah Tiang”: Merayakan Keberanian dan Warisan

Foto cover album Kronik dari Serdadu Sam (Dok. Serdadu Sam)

Salah satu titik penting dalam Kronik adalah reinterpretasi "Setengah Tiang", lagu karya maestro Harry Roesli. Dengan restu keluarga almarhum, lagu ini dihidupkan kembali melalui sentuhan brass dan emosi kontemporer.

“Kami tidak ingin meng-cover. Kami ingin berdialog dengan masa lalu,” ujar Kenny.

Sementara "Agrippina", yang dirilis dalam EP Rencana Tiga Belati, pernah masuk nominasi AMI Awards 2022 untuk kategori Karya Produksi Progressive Terbaik. Lagu ini menjadi fondasi gaya musik Serdadu Sam: progresif, melankolis, dan eksperimental.

Album ini juga menghadirkan single unggulan "Dan Akhirnya Selamanya", kolaborasi dengan Bemby Gusti (drummer band Sore Ze Band). Lagu ini menjadi pesan personal Kenny untuk kedua putrinya, tentang menerima hidup, menghadapi kekecewaan, dan menemukan makna dari kebahagiaan yang disyukuri.

“Saya menganggap lagu ini sebagai My Way-nya Serdadu Sam," tegasnya.

Dalam album Kronik ini, Serdadu Sam merambah berbagai genre dan mengeksplorasi berbagai instrumen musik untuk menerjemahkan semua ide dan visi musikalnya secara maksimal.  

3. Produksi kolaboratif

Foto profil Serdadu Sam (Dok. Serdadu Sam)

Dalam proses kreatifnya, Serdadu Sam melibatkan banyak kolaborator ternama seperti Rama Moektio, Dave Lumenta, Bemby Gusti, Mondo Gascaro, Denny Chasmala, Fajar Adi Nugroho, Indro Hardjodikoro, Andre Dinuth, Adra Karim, Yai Item, Noldy Benyamin, Achi Hardjakusumah, Diki Satya, Vari Rivano (Band Rimba), Aufa Kantadiredja, Ibnu Aliph, Brury Effendi, Wahyu Hidayat, Matahari Macallo, hingga Moscow Metropolitan Session Orchestra. Produksi sebagian besar dilakukan di Studio 168, diproduseri oleh Serdadu Sam bersama Fay Ismail, dengan mixing oleh Fay dan mastering oleh Dimas Pradipta.

“Kolaborasi adalah pola kerja yang saya nikmati karena setiap musisi dapat menyuntikkan nyawa pada lagu-lagu saya," katanya.

Tentunya, kolaborasi di studio rekaman akan lengkap bila disandingkan dengan rencana showcase promo album ini. Rencana untuk memperkenalkan Kronik secara langsung kepada para pendengar, yang akan disusul dengan perilisan dalam format fisik dan digital, sudah ada di dalam wishlist Serdadu Sam.

“Saya berharap album ini dapat memberikan pengalaman musikal yang berbeda kepada para pendengar yang bersedia memberikan waktu untuk mendengarkan dan mengenal karya ini lebih jauh," harapnya.

Editorial Team