5 Tipe MBTI yang Menyimpan Trauma Bonding dalam Diam, Jarang Disadari!

- INFJ memiliki empati yang mendalam dan kepekaan tinggi terhadap perasaan orang lain, membuat mereka rentan terhadap trauma bonding.
- ISFJ dikenal sebagai pribadi setia dan penuh tanggung jawab, yang membuat mereka bertahan dalam hubungan meski mengalami tekanan emosional berulang.
- INFP memiliki idealisme tinggi dan pandangan romantis terhadap hubungan, sehingga trauma bonding muncul dari keyakinan bahwa cinta dapat menyembuhkan segala luka.
Fenomena keterikatan emosional yang terbentuk dari pengalaman relasi tidak sehat kerap terjadi tanpa disadari. Kondisi ini dikenal sebagai trauma bonding, yaitu ikatan psikologis yang muncul akibat pola hubungan penuh tekanan, manipulasi, atau luka emosional berulang. Banyak individu terlihat baik-baik saja di permukaan, padahal di dalam batin tersimpan konflik yang belum terselesaikan.
Beberapa tipe MBTI dikenal memiliki kecenderungan reflektif dan tertutup dalam mengelola emosi. Mereka cenderung memprioritaskan stabilitas, makna, atau tanggung jawab dibandingkan kebutuhan emosional pribadi. Pola ini membuat trauma bonding tersimpan rapi di balik sikap tenang dan rasional. Lingkungan sekitar sering kali tidak menyadari beban psikologis yang dipikul.
Bagi kamu yang penasaran kepribadian apa saja itu, yuk simak kelima tipe MBTI yang menyimpan trauma bonding dalam diam. Keep scrolling!
1. INFJ

INFJ dikenal memiliki empati yang sangat mendalam dan kepekaan tinggi terhadap perasaan orang lain. Karakter ini membuat INFJ sering menempatkan kebutuhan pihak lain di atas kepentingan pribadi. Dalam relasi yang tidak sehat, kecenderungan tersebut dapat berkembang menjadi trauma bonding karena adanya dorongan untuk terus memahami dan memaafkan. Luka batin dipendam demi menjaga keharmonisan semu yang dianggap penting.
Di sisi lain, INFJ memiliki dunia batin yang kaya dan tertutup. Proses refleksi yang intens membuat rasa sakit diolah sendiri tanpa banyak dibagikan. Ketika ikatan trauma terbentuk, INFJ cenderung menginternalisasi penderitaan sebagai bagian dari perjalanan hidup. Sikap diam ini membuat lingkungan sekitar jarang menyadari adanya keterikatan emosional yang merugikan.
2. ISFJ

ISFJ dikenal sebagai pribadi yang setia, penuh tanggung jawab, dan menghargai stabilitas. Sifat ini membuat ISFJ bertahan dalam hubungan meski menghadapi tekanan emosional berulang. Trauma bonding dapat tumbuh karena adanya keyakinan bahwa pengorbanan adalah bentuk cinta yang tulus. Rasa aman sering kali lebih diprioritaskan dibandingkan kesejahteraan emosional pribadi.
Selain itu, ISFJ memiliki kecenderungan menyimpan perasaan demi menjaga ketertiban sosial. Emosi negatif jarang diekspresikan secara terbuka karena dianggap dapat mengganggu keseimbangan. Luka yang tidak tersampaikan akhirnya menumpuk dan memperkuat ikatan trauma. Keheningan menjadi cara bertahan yang terasa paling wajar bagi tipe ini.
3. INFP

INFP memiliki idealisme tinggi dan pandangan romantis terhadap hubungan. Ketika terjebak dalam relasi yang menyakitkan, harapan akan perubahan sering membuat INFP bertahan. Trauma bonding muncul dari keyakinan bahwa cinta dapat menyembuhkan segala luka. Nilai-nilai personal yang kuat justru membuat penderitaan dimaknai sebagai pengorbanan bermakna.
Kepekaan emosional INFP juga membuat rasa sakit dirasakan secara mendalam. Namun, perasaan tersebut lebih sering disimpan dalam ruang batin daripada dibagikan. Konflik batin antara idealisme dan realitas memperkuat ikatan trauma. Diam menjadi pilihan karena adanya ketakutan merusak makna hubungan yang telah dibangun.
4. INTJ

INTJ dikenal rasional dan strategis, tetapi memiliki sisi emosional yang jarang diperlihatkan. Dalam hubungan yang kompleks, INTJ dapat terjebak trauma bonding karena kecenderungan menganalisis dan membenarkan situasi. Ikatan emosional dipertahankan dengan logika bahwa setiap masalah memiliki solusi jangka panjang. Pendekatan ini membuat penderitaan emosional kurang mendapat perhatian.
Di balik ketegasan berpikir, INTJ sering memendam emosi secara mandiri. Ketergantungan emosional tidak selalu disadari karena tertutup oleh perencanaan dan tujuan besar. Luka batin dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi sendiri. Sikap tertutup ini membuat ikatan trauma berkembang tanpa banyak disadari.
5. ENFJ

ENFJ dikenal sebagai penggerak sosial yang peduli dan penuh empati. Dorongan untuk membantu dan membimbing orang lain dapat berubah menjadi trauma bonding ketika batas diri terabaikan. ENFJ sering merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan emosional pasangan. Rasa keterikatan semakin kuat ketika pengorbanan dianggap sebagai bentuk kasih yang luhur.
Di sisi lain, ENFJ jarang menunjukkan kelemahan karena ingin tampil kuat bagi lingkungan sekitar. Luka emosional disimpan agar peran sebagai pendukung tetap terjaga. Ketika hubungan menjadi sumber penderitaan, keheningan dipilih demi menjaga citra keharmonisan. Ikatan trauma pun bertahan dalam diam tanpa banyak disadari.
Memahami kecenderungan ini membantu membuka kesadaran tentang pentingnya kesehatan emosional. Dengan pengenalan diri yang lebih mendalam, ikatan yang merugikan dapat dikenali dan perlahan dilepaskan.


















