Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Acara lari bersama komunitas dan peluncuran ulang sepatu adidas Adizero EVO SL di M Bloc Space
Acara lari bersama komunitas dan peluncuran ulang sepatu adidas Adizero EVO SL di M Bloc Space. 14 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Intinya sih...

  • Adidas memperkenalkan kembali Adizero EVO SL sebagai simbol pergerakan budaya lari masa kini.

  • Pameran visual mengabadikan spirit lari modern dengan potret pelari dan figur inspiratif komunitas.

  • Adizero EVO SL bukan hanya sepatu lari, tapi juga daily statement yang stylish untuk aktivitas sehari-hari.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sabtu pagi, (14/2/2026), di M Bloc Space terasa berbeda. Bukan sekadar titik kumpul pelari, ruang kreatif ini berubah menjadi panggung di mana olahraga bertemu seni, komunitas, dan gaya hidup urban. Di sinilah adidas memperkenalkan kembali sepatu Adizero EVO SL. Bukan hanya sebagai gear performa, tetapi sebagai simbol pergerakan budaya lari masa kini.

Lewat rangkaian community run, pameran visual, hingga sesi diskusi, adidas seolah ingin menegaskan bahwa lari bukan lagi aktivitas soliter. Ia telah menjelma menjadi bahasa kolektif yang menghubungkan identitas, kreativitas, dan ekspresi diri.

1. Ketika sepatu lari menjadi titik temu antara seni dan komunitas

Acara lari bersama komunitas dan peluncuran ulang sepatu adidas Adizero EVO SL di M Bloc Space. 14 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

adidas Indonesia memandang sepatu lari bukan hanya sebagai alat olahraga, melainkan sebagai medium budaya. Ibarat sesuatu yang bisa dikenakan di lintasan, sekaligus di kehidupan sehari-hari.

Dalam acara lari bersama komunitas di M Bloc SPace, yang juga menandakan pengenalan kembali sepatu adidas Adizero EVO SL , Gracia Putri selaku Brand Communication Manager adidas Indonesia, menekankan bahwa peluncuran ulang Adizero EVO SL bukan sekadar soal produk.

“Kami ingin memperkenalkan kembali sepatu running kalcer yang terkenal dengan kombinasi antara seni dan komunitas. Jadi bukan cuma lari, tapi juga ada exhibition, talk show, sampai custom shoes,” ujarnya sebelum melepas para pelari.

2. Pameran visual mengabadikan spirit lari modern

Acara lari bersama komunitas dan peluncuran ulang sepatu adidas Adizero EVO SL di M Bloc Space. 14 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Acara ini juga menghadirkan karya dari fotografer Alif Ghifari dan Bill Satya, yang menampilkan potret pelari dan figur inspiratif komunitas. Visual-visual tersebut seakan membingkai lari sebagai perjalanan personal sekaligus narasi kolektif.

Lewat instalasi ini, adidas menunjukkan bahwa kecepatan bukan satu-satunya cerita dalam dunia lari. Ada dedikasi, karakter, dan identitas yang ikut berlari bersama setiap langkah.

3. Dari lintasan ke jalanan, sepatu Adizero EVO SL juga bisa jadi daily statement

Acara lari bersama komunitas dan peluncuran ulang sepatu adidas Adizero EVO SL di M Bloc Space. 14 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Gracia kembali menegaskan tujuan utama acara ini bahwa Adizero EVO SL sebagai sepatu yang melampaui fungsi performa. Ia hadir sebagai bagian dari gaya hidup yang ringan untuk berlari dan cukup stylish untuk menemani aktivitas sehari-hari.

“Intinya, kami mau mengenalkan lagi Adizero EVO SL sebagai sepatu lari yang gak hanya bisa dipakai untuk lari, tapi juga daily,” tuturnya.

Melalui acara di M Bloc Space, adidas seakan merajut ulang makna lari yang bukan sekadar olahraga, melainkan gerakan budaya yang hidup di antara komunitas, seni, dan gaya personal. Adizero EVO SL pun muncul bukan hanya sebagai sepatu, tetapi sebagai simbol bahwa setiap langkah bisa menjadi pernyataan tentang siapa kita, ke mana kita bergerak, dan bagaimana kita memilih untuk mengekspresikannya.

Editorial Team