“Dropset 4 dapat menopang kaki saat menahan beban, sekaligus memberi support ketika dipakai berlari dan melompat,” ungkap Jurnalis IDN Times yang merasakan langsung sepatu adidas Dropset 4 saat peluncurannya di GBK, Sabtu (31//1/2026).
Mencoba adidas Dropset 4 di GBK, Sepatu dengan Ragam Zona Nyaman

- Dropset 4 stabil saat angkat beban, luwes saat bergerak dengan Geofit heel cushioning dan Energy Rods di bagian midfoot.
- Midsole responsif membuat lari tak lagi jadi kompromi, dengan Repetitor Midsole dan Foot Adapt Sock Liner untuk kestabilan menyeluruh.
- Dropset 4 tidak membeda-bedakan level, dipakai oleh atlet elit hingga pemula, menjadi partner latihan yang adaptif dan cerdas.
Jakarta, IDN Times - Pagi di kawasan Gelora Bung Karno terasa berbeda pada Sabtu, 31 Januari 2026. Bukan hanya karena hujan yang jatuh tepat di atas lintasan Senayan, tetapi karena denyut energi ratusan tubuh yang siap bergerak, melompat, mengangkat, dan berlari dalam satu tarikan napas. Di Empire Fit Club, adidas Indonesia meluncurkan Dropset 4, bukan dengan pidato panjang, melainkan lewat keringat dan adrenalin.
Sebagai sepatu training lintas fungsi, Dropset 4 diuji di habitat aslinya, lantai gym, box jump, hingga lintasan lari pendek. Dari impresi pertama saat mengikat tali, satu hal terasa jelas, bahwa ini bukan sepatu yang meminta kita memilih. Ia seolah mengajak kaki bekerja di semua spektrum latihan, tanpa kompromi. Sebuah janji besar untuk sepatu yang datang dengan slogan “All You Need”.
Table of Content
1. Stabil saat angkat beban, luwes saat bergerak

Dropset sebelumnya dikenal sebagai sepatu angkat beban yang kokoh, stabil, tapi cenderung “diam”. Namun, Dropset 4 terasa seperti evolusi yang lebih berani. Saat digunakan untuk deadlift dan squat, tumit terasa planted ke lantai. Tidak ada goyang yang mengganggu fokus. Geofit heel cushioning bekerja seperti sabuk pengaman mikro, menjaga tumit tetap terkunci tanpa terasa kaku.
Begitu sesi berpindah ke gerakan dinamis, sepatu ini tidak tertinggal. Energy Rods di bagian midfoot memberi dorongan yang terasa nyata saat berpindah arah dan melompat. Dari angkat beban ke box jump, transisinya halus, seolah sepatu ini memang tidak keberatan diajak keluar dari zona nyaman.
2. Midsole yang responsif, sehingga lari tak lagi jadi kompromi

Salah satu tantangan sepatu training adalah ketika lari biasanya terasa berat, datar, dan melelahkan. Namun di relay AI-You-Need Game Day, Dropset 4 diuji dalam sprint pendek dan lari transisi. Di sinilah Repetitor Midsole menunjukkan karakternya yang responsif tanpa memantul berlebihan.
Bukan sensasi “running shoes”, tapi cukup nyaman untuk functional run. Energi dikembalikan secukupnya, membuat langkah tetap efisien tanpa mengorbankan stabilitas. Ditambah Foot Adapt Sock Liner, kaki jadi terasa lebih “sadar posisi”, yang penting ketika gerakan cepat dan arah berubah mendadak.
“Sebagai evolusi dari Dropset 3, Dropset 4 menghadirkan kestabilan menyeluruh dan pengembalian energi dinamis di seluruh gerakan latihan fungsional,” tulis adidas, dalam keterangan Siaran Pers yang diterima IDN Times.
3. Sepatu yang tak membeda-bedakan level

Menariknya, Dropset 4 tidak diposisikan eksklusif untuk atlet elit, meski faktanya dipakai juara. Nama Laura Horvath, atlet kompetitif asal Hungaria yang memenangkan kompetisi kebugaran elit di Aberdeen pada Oktober 2025, menjadi bukti bahwa sepatu ini sanggup bertahan di level tertinggi.
Namun di GBK, sepatu ini dipakai juga oleh publik, komunitas gym, selebriti, hingga influencer. Tidak ada rasa “overkill” bagi pemula dan tidak terasa “kurang” bagi yang sudah advance. Dropset 4 seperti partner latihan yang adaptif, mengikuti ritme pemakainya, bukan memaksakan gaya tertentu.
“Sepatu ini sesuai untuk atlet dari semua level, dari mereka yang latihan di gym hingga atlet elit,” tegas adidas dalam kampanye peluncurannya.
Setelah satu sesi penuh berkeringat di Empire Fit Club GBK, satu kesan tertinggal, bahwa Dropset 4 bukan sepatu spesialis yang sempit, melainkan generalist yang cerdas. Ia tahu kapan harus diam dan stabil, kapan harus lentur dan responsif.
Dalam dunia latihan fungsional yang semakin hibrid, di mana satu sesi bisa berisi angkat, lompat, dan lari, Dropset 4 hadir sebagai jawaban logis. Bukan sepatu yang berisik dengan klaim, tetapi yang berbicara lewat rasa di telapak kaki. Jika benar ada sepatu training yang bisa disebut all you need, Dropset 4 datang sangat dekat dengan definisi tersebut.


















