ilustrasi memakai baju hitam saat Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)
Larangan memakai pakaian hitam juga berkaitan dengan kepercayaan bahwa hari pertama Imlek menjadi penentu bagi perjalanan hidup sepanjang tahun. Banyak keluarga meyakini segala hal yang dilakukan, disantap, dilihat, maupun dikenakan pada hari tersebut dapat memengaruhi keberuntungan di bulan-bulan berikutnya, sehingga orang cenderung memilih warna, benda, serta aktivitas yang dianggap membawa pertanda baik. Keyakinan ini membuat pilihan warna pakaian tidak dipandang sekadar soal estetika, melainkan sebagai representasi harapan terhadap masa depan.
Warna hitam dinilai kurang tepat karena diasosiasikan dengan kesan suram, tertutup, serta tidak mencerminkan semangat awal yang diharapkan saat memasuki tahun baru. Pemakaiannya dipercaya dapat menciptakan simbol pembuka yang kurang menguntungkan, seolah memulai tahun dalam suasana berat, sehingga banyak keluarga menyarankan menghindarinya terutama pada hari pertama perayaan agar harapan tentang keberuntungan, kelancaran, serta peluang baru tetap terjaga.
Larangan tersebut memperlihatkan bahwa kenapa saat imlek tidak boleh memakai baju hitam berakar pada simbol duka hingga etika sosial yang dijaga turun-temurun dalam budaya Tionghoa. Imlek dipahami sebagai awal yang bersih dan penuh harapan, sehingga warna pakaian dipilih untuk mencerminkan doa akan keberuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan sepanjang tahun. Memahami makna ini membantu kamu menghargai tradisi bukan sekadar sebagai aturan berpakaian, melainkan sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dalam perayaan tahun baru.