Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi memakai baju hitam saat Imlek
ilustrasi memakai baju hitam saat Imlek (pexels.com/Felix Young)

Intinya sih...

  • Warna hitam identik dengan suasana berkabung dalam budaya Tionghoa

  • Kepercayaan feng shui memandang hitam sebagai warna yang berat

  • Kepercayaan hari pertama Imlek menentukan nasib setahun

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah, dekorasi cerah, serta suasana penuh harapan yang menandai awal kehidupan baru. Di tengah kemeriahan tersebut, larangan memakai warna tertentu masih dipertahankan karena berkaitan erat dengan simbol budaya yang diwariskan turun-temurun, termasuk alasan kenapa saat imlek tidak boleh memakai baju hitam.

Aturan ini tidak muncul secara kebetulan, melainkan terbentuk dari sistem kepercayaan, filosofi keseimbangan energi, serta etika sosial dalam tradisi Tionghoa. Makna di baliknya jauh lebih kompleks daripada sekadar pilihan warna pakaian, sehingga menarik untuk dipahami lebih dalam. Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

1. Warna hitam identik dengan suasana berkabung dalam budaya Tionghoa

ilustrasi suasana berkabung (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Dalam tradisi Tionghoa, warna tidak sekadar soal selera berpakaian, melainkan bagian dari simbol kehidupan yang dipercaya memiliki makna tertentu. Hitam sejak lama dilekatkan pada suasana duka karena sering digunakan saat upacara pemakaman maupun masa berkabung keluarga. Persepsi tersebut akhirnya melekat kuat hingga membuat warna hitam dianggap membawa nuansa kesedihan.

Imlek justru dipahami sebagai momen penuh harapan baru, sehingga suasana yang ingin dibangun selalu berkaitan dengan kebahagiaan, keberuntungan, serta semangat memulai siklus kehidupan berikutnya. Kehadiran warna hitam dinilai tidak sejalan karena secara simbolik dianggap mewakili akhir, bukan awal yang baru. Pemakaian warna berkabung di tengah perayaan pun kerap dipersepsikan kurang pantas karena seolah membawa energi kesedihan ke dalam suasana yang seharusnya meriah.

2. Kepercayaan feng shui memandang hitam sebagai warna yang berat

ilustrasi memakai baju hitam saat Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Dalam kepercayaan feng shui, warna diyakini memengaruhi keseimbangan energi di sekitar manusia. Hitam sering dikaitkan dengan elemen air yang memiliki karakter dalam, gelap, serta cenderung melambangkan kondisi yang tidak stabil apabila muncul secara berlebihan. Karena itulah, dominasi warna hitam dianggap mampu menciptakan kesan berat dan kurang menguntungkan dalam momen tertentu.

Perayaan Imlek justru menekankan energi positif yang identik dengan pertumbuhan, keberuntungan, dan kelancaran rezeki. Warna cerah seperti merah dipercaya mampu menghadirkan aura hangat dan optimistis, sehingga penggunaannya lebih dianjurkan. Kontras tersebut membuat warna hitam dipandang kurang tepat karena dinilai tidak mendukung suasana penuh semangat yang menjadi inti perayaan tahun baru.

3. Kepercayaan hari pertama Imlek menentukan nasib setahun

ilustrasi memakai baju hitam saat Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Larangan memakai pakaian hitam juga berkaitan dengan kepercayaan bahwa hari pertama Imlek menjadi penentu bagi perjalanan hidup sepanjang tahun. Banyak keluarga meyakini segala hal yang dilakukan, disantap, dilihat, maupun dikenakan pada hari tersebut dapat memengaruhi keberuntungan di bulan-bulan berikutnya, sehingga orang cenderung memilih warna, benda, serta aktivitas yang dianggap membawa pertanda baik. Keyakinan ini membuat pilihan warna pakaian tidak dipandang sekadar soal estetika, melainkan sebagai representasi harapan terhadap masa depan.

Warna hitam dinilai kurang tepat karena diasosiasikan dengan kesan suram, tertutup, serta tidak mencerminkan semangat awal yang diharapkan saat memasuki tahun baru. Pemakaiannya dipercaya dapat menciptakan simbol pembuka yang kurang menguntungkan, seolah memulai tahun dalam suasana berat, sehingga banyak keluarga menyarankan menghindarinya terutama pada hari pertama perayaan agar harapan tentang keberuntungan, kelancaran, serta peluang baru tetap terjaga.

Larangan tersebut memperlihatkan bahwa kenapa saat imlek tidak boleh memakai baju hitam berakar pada simbol duka hingga etika sosial yang dijaga turun-temurun dalam budaya Tionghoa. Imlek dipahami sebagai awal yang bersih dan penuh harapan, sehingga warna pakaian dipilih untuk mencerminkan doa akan keberuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan sepanjang tahun. Memahami makna ini membantu kamu menghargai tradisi bukan sekadar sebagai aturan berpakaian, melainkan sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dalam perayaan tahun baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team