Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Sepatu Kulit Bisa Retak meski Jarang Dipakai?
ilustrasi sepatu kulit (unsplash.com/Davinder Singh)
  • Sepatu kulit bisa retak meski jarang dipakai karena kehilangan minyak alami dan kelembapan, membuat materialnya kering serta kurang lentur saat digunakan kembali.
  • Penyimpanan yang tidak ideal seperti tempat panas, lembap, atau tertutup rapat mempercepat kerusakan kulit dan memicu munculnya jamur maupun retakan.
  • Pemakaian berkala serta penggunaan kondisioner khusus kulit membantu menjaga fleksibilitas dan mencegah sepatu cepat rusak meski disimpan lama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pemilik sepatu kulit sengaja jarang menggunakan sepatunya dengan harapan akan lebih awet. Logikanya sederhana: semakin sedikit dipakai, semakin sedikit pula gesekan, tekanan, atau risiko terkena hujan dan debu.

Namun, kenyataannya justru sering bikin bingung. Ada sepatu kulit yang hampir tidak pernah dipakai, disimpan rapi di lemari selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, lalu ketika dikeluarkan lagi ternyata permukaannya sudah retak-retak.

Kalau kamu pernah mengalami hal ini, sebenarnya kamu tidak sendirian. Sepatu kulit memang termasuk barang yang membutuhkan perawatan aktif. Menariknya, terlalu lama disimpan justru mempercepat kerusakan pada material kulit. Jadi, sepatu kulit tidak selalu rusak karena terlalu sering dipakai, tetapi juga bisa rusak karena terlalu lama menganggur.

1. Kulit membutuhkan kelembapan alami

ilustrasi sepatu kulit (unsplash.com/Noah Smith)

Kulit, baik kulit asli maupun kulit sintetis, memiliki kandungan minyak dan kelembapan tertentu yang membuat permukaannya tetap lentur. Seiring waktu, minyak alami tersebut perlahan menguap, terutama jika sepatu disimpan dalam kondisi yang kurang ideal.

Ketika kadar minyak dalam material berkurang, kulit menjadi kering dan kehilangan elastisitas. Akibatnya, saat sepatu akhirnya dipakai dan mulai menekuk mengikuti gerakan kaki, permukaannya tidak lagi cukup lentur untuk mengikuti lipatan tersebut. Hasilnya adalah retakan-retakan kecil yang lama-kelamaan semakin jelas. Mirip seperti kulit manusia yang bisa pecah-pecah saat terlalu kering, sepatu kulit pun mengalami hal yang serupa.

2. Penyimpanan yang salah menjadi penyebab utama

ilustrasi sepatu kulit (pexels.com/Dominika Roseclay)

Lokasi penyimpanan memiliki pengaruh besar terhadap umur sepatu kulit. Menyimpan sepatu di tempat yang terlalu panas dapat membuat material kehilangan kelembapan lebih cepat. Sebaliknya, tempat yang terlalu lembap dapat memicu jamur dan merusak struktur kulit.

Paparan sinar matahari secara tidak langsung juga dapat mempercepat pengeringan permukaan kulit. Bahkan, lemari yang berada dekat jendela terkadang cukup untuk menyebabkan kerusakan perlahan selama bertahun-tahun.

Selain itu, menyimpan sepatu di dalam plastik yang tertutup rapat juga tidak selalu baik. Sepatu membutuhkan sedikit sirkulasi udara agar kelembapan tidak terjebak di dalamnya.

3. Sepatu kulit sebenarnya "suka" dipakai sesekali

ilustrasi sepatu kulit (pexels.com/Michael Morse)

Yap, sepatu kulit justru cenderung lebih awet jika digunakan secara berkala. Saat dipakai, kulit mengalami pergerakan dan sirkulasi udara yang membantu menjaga fleksibilitas materialnya. Tentu saja ini bukan berarti sepatu harus dipakai setiap hari sampai aus. Menggunakannya sesekali, misalnya, satu atau dua kali dalam sebulan, sering kali lebih baik daripada membiarkannya terkurung di dalam kotak selama bertahun-tahun. 

4. Produk perawatan kulit juga memiliki peran penting

ilustrasi sepatu kulit (pexels.com/Umar Ali)

Sepatu kulit memerlukan perawatan tambahan berupa kondisioner atau pelembap khusus kulit. Produk ini membantu menggantikan minyak alami yang hilang seiring waktu sehingga material tetap lentur. Tanpa perawatan tersebut, kulit perlahan menjadi keras dan rapuh.

Ketika akhirnya mendapat tekanan atau lipatan, retakan pun lebih mudah muncul. Hal ini terutama berlaku pada sepatu kulit premium yang menggunakan kulit asli berkualitas tinggi. Semakin alami materialnya, biasanya semakin besar pula kebutuhan perawatannya.

5. Tidak semua sepatu kulit memiliki daya tahan yang sama

ilustrasi sepatu kulit (unsplash.com/Davinder Singh)

Kadang-kadang, sepatu yang dijual sebagai sepatu kulit ternyata menggunakan bahan, seperti PU leather atau bonded leather, yang merupakan campuran serat kulit dan bahan sintetis. Material seperti ini umumnya lebih murah, tetapi umur pakainya cenderung lebih pendek dibandingkan dengan kulit asli berkualitas baik.

Salah satu ciri kerusakan yang paling sering muncul adalah permukaan yang mengelupas atau retak meski sepatu jarang digunakan. Karena itu, dua pasang sepatu yang sama-sama jarang dipakai belum tentu memiliki daya tahan yang sama. Jenis material yang digunakan juga sangat menentukan.

Pada akhirnya, sepatu kulit membutuhkan perhatian agar tetap dalam kondisi baik. Terlalu sering dipakai memang bisa membuat sepatu cepat aus, tetapi terlalu lama disimpan juga bisa membuatnya menua sebelum waktunya. Jadi, kalau kamu punya sepatu kulit favorit yang sudah lama menganggur di lemari, mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengeluarkannya dan menggunakannya lagi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article