Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Modifikasi Cuaca
Petugas ketika siap menaburkan Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO) untuk modifikasi cuaca. (Dokumentasi BNPB)

Intinya sih...

  • Modifikasi cuaca adalah campur tangan manusia dalam mengendalikan sumber daya air di atmosfer untuk mengurangi intensitas curah hujan di daerah tertentu.

  • Metode utama modifikasi cuaca adalah cloud seeding dengan menaburkan garam ke awan untuk mempercepat proses penggabungan uap air menjadi tetesan-tetesan air yang lebih besar.

  • Manfaat modifikasi cuaca antara lain menekan potensi banjir, membantu pemadaman kebakaran hutan, dan mendukung pertanian serta memenuhi kebutuhan air.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperkirakan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan kota di sekitarnya hingga akhir Januari 2026. Menanggapi hal ini, upaya mitigasi proaktif terus dilakukan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan dilaksanakan untuk mengurangi dampak hujan deras yang berpotensi memicu banjir.

"OMC sekali lagi kami lihat cuaca yang ada. Hasil BMKG memang sekarang ini ada kemungkinan sampai dengan 1 Februari cuacanya kurang lebih harus dilakukan OMC," ujar Pramono di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (27/1/2025).

Berikut lima hal terkait modifikasi cuaca yang perlu kamu ketahui.

1. Apa itu modifikasi cuaca?

Momen persiapan modifikasi cuaca (OMC) untuk ditaburkan di langit Jakarta dan Jawa Barat. (Dokumentasi BNPB)

Mengutip laman Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN), Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) adalah implementasi dari Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Modifikasi cuaca didefinisikan sebagai usaha campur tangan manusia dalam pengendalian sumber daya air di atmosfer, dengan memanfaatkan parameter cuaca untuk tujuan menambah atau mengurangi intensitas curah hujan pada daerah tertentu.

Dalam situasi akhir-akhir ini, modifikasi cuaca yang digelar BMKG bersama TNI AU dan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) bertujuan utama untuk mengurangi curah hujan ekstrem di wilayah daratan, khususnya Jabodetabek, dengan cara memicu hujan lebih cepat di atas laut atau menghambat pertumbuhan awan.

2. Bagaimana cara kerja modifikasi cuaca dan mengapa menggunakan garam?

Momen persiapan modifikasi cuaca untuk ditaburkan di langit Jakarta dan Jawa Barat. (Dokumentasi BNPB)

Dikutip dari laman resmi IPB University, Sekretaris Pusat Pengelolaan Peluang dan Risiko Iklim Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik (CCROM-SEAP) IPB University, I Putu Santikayasa, mengatakan metode utama modifikasi cuaca adalah cloud seeding atau penyemaian awan. Caranya dengan menaburkan bahan semai biasanya garam (NaCl) ke dalam awan yang memiliki potensi hujan.

Lebih jauh, garam dipilih karena sifatnya yang higroskopis, atau mampu menarik dan menyerap uap air di sekitarnya. Partikel garam berfungsi sebagai inti kondensasi buatan. Saat disemai, partikel ini mempercepat proses penggabungan uap air di awan menjadi tetesan-tetesan air yang lebih besar dan berat.

Dengan demikian, hujan bisa dipaksa turun lebih cepat dari proses alaminya. Jadi, hujan deras diharapkan terjadi di atas laut sebelum mencapai wilayah padat penduduk, mengurangi risiko banjir di darat.

Selain itu, Putu mengatakan, modifikasi cuaca juga dapat dilakukan dengan metode penyemaian darat melalui menara Ground Based Generator (GBG). Kendati, sejauh ini baru diimplementasikan untuk pengisian waduk. Hal ini karena menara ditempatkan di daerah topografi tinggi, metode ini dapat dilakukan hanya jika awan target berada di jangkauan menara.

Selain garam, bahan yang umum digunakan dalam modifikasi cuaca adalah Perak Iodida (AgI), bahan ini meniru struktur es dan membantu pembentukan kristal es dalam awan serta bahan lain yang mengandung klorida dengan struktur yang memiliki kemampuan penyerapan air awan. 

3. Apa saja manfaat modifikasi cuaca?

Pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM bersiap untuk lepas landas dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/10/2025). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Tak hanya  menekan potensi banjir dengan mengurangi intensitas hujan di area rawan, dikutip dari BMKG, modifikasi cuaca juga dapat membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan menciptakan hujan di sekitar lokasi kebakaran. Selain itu, modifikasi cuaca juga memastikan kelancaran acara-acara besar kenegaraan atau olahraga, seperti yang pernah dilakukan dan KTT G20 2022 pada Rabu, 16 November 2022 dan Sea Games 2011 di Palembang.

Lebih lanjut, modifikasi cuaca dapat dimanfaatkan untuk menambah curah hujan guna mengisi waduk, mendukung pertanian, dan memenuhi kebutuhan air. Sedangkan secara global, teknologi serupa juga digunakan untuk memperkecil ukuran hujan es dan meredam intensitas badai.

4. Bagaimana penerapan modifikasi cuaca di negara lain?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). (Dok. Bpbd DKI)

Teknologi modifikasi cuaca telah digunakan berbagai negara untuk menangani tantangan iklim mereka. Dikutip dari The Guardian, Tiongkok secara ekstensif menggunakan modifikasi cuaca untuk mengatasi kekeringan, mengurangi kabut asap, dan bahkan memastikan langit cerah selama Olimpiade Beijing 2008.

Sedangkan, Uni Emirat Arab (UAE) aktif melakukan cloud seeding untuk meningkatkan curah hujan di negara gersang mereka sebagai bagian dari strategi keamanan air. Lebih jauh, Amerika Serikat menerapkan teknologi ini untuk berbagai keperluan. Salah satunya, negara-negara bagian AS menerapkan penyemaian awan untuk mencoba mengatasi kekeringan.

Kendati, mengutip dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pontianak, efektivitas modifikasi cuaca  masih terus menjadi bahan penelitian dan evaluasi, karena sulit mengukur secara pasti kontribusinya dibandingkan proses alami.

Tantangan lain adalah pemantauan dampak lingkungan jangka panjang dari penggunaan bahan semai dan pentingnya regulasi ketat agar teknologi tidak disalahgunakan. Namun, jika diterapkan secara bijak dan berbasis data ilmiah, modifikasi cuaca terbukti menjadi alat mitigasi bencana yang berharga.

5. Sejarah dan perkembangan modifikasi cuaca

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). (Dok. Bpbd DKI)

Sementara, sejarah modifikasi cuaca modern dimulai pada 1946 oleh ilmuwan AS, Vincent Schaefer, yang berhasil menciptakan salju buatan dengan menyebarkan es kering dry ice ke awan. Pada 1947, Bernard Vonnegut menemukan keefektifan perak iodida (AgI) sebagai bahan semai alternatif. Proyek besar pertama, Project Cirrus, diluncurkan AS pada era Perang Dingin.

Di Indonesia, teknologi ini mulai diperkenalkan pada  1977 pada masa Presiden Soeharto, yang terinspirasi dari kesuksesan Thailand dalam mendukung pertanian. Awalnya fokus pada pengisian waduk untuk irigasi dan PLTA. Seiring meningkatnya bencana hidrometeorologi, penerapan modifikasi cuaca berkembang pesat untuk tujuan mitigasi bencana seperti yang kita saksikan sekarang.

Editorial Team