Momen persiapan modifikasi cuaca untuk ditaburkan di langit Jakarta dan Jawa Barat. (Dokumentasi BNPB)
Dikutip dari laman resmi IPB University, Sekretaris Pusat Pengelolaan Peluang dan Risiko Iklim Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik (CCROM-SEAP) IPB University, I Putu Santikayasa, mengatakan metode utama modifikasi cuaca adalah cloud seeding atau penyemaian awan. Caranya dengan menaburkan bahan semai biasanya garam (NaCl) ke dalam awan yang memiliki potensi hujan.
Lebih jauh, garam dipilih karena sifatnya yang higroskopis, atau mampu menarik dan menyerap uap air di sekitarnya. Partikel garam berfungsi sebagai inti kondensasi buatan. Saat disemai, partikel ini mempercepat proses penggabungan uap air di awan menjadi tetesan-tetesan air yang lebih besar dan berat.
Dengan demikian, hujan bisa dipaksa turun lebih cepat dari proses alaminya. Jadi, hujan deras diharapkan terjadi di atas laut sebelum mencapai wilayah padat penduduk, mengurangi risiko banjir di darat.
Selain itu, Putu mengatakan, modifikasi cuaca juga dapat dilakukan dengan metode penyemaian darat melalui menara Ground Based Generator (GBG). Kendati, sejauh ini baru diimplementasikan untuk pengisian waduk. Hal ini karena menara ditempatkan di daerah topografi tinggi, metode ini dapat dilakukan hanya jika awan target berada di jangkauan menara.
Selain garam, bahan yang umum digunakan dalam modifikasi cuaca adalah Perak Iodida (AgI), bahan ini meniru struktur es dan membantu pembentukan kristal es dalam awan serta bahan lain yang mengandung klorida dengan struktur yang memiliki kemampuan penyerapan air awan.