Komoditas bawang merah dan bawang putih di Pasar Pabaeng-baeng Makassar, Sabtu (1/3/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)
BMKG juga meminta penyesuaian di sektor pangan sesuai karakteristik iklim masing-masing daerah. Ardhasena menjelaskan, wilayah seperti Nusa Tenggara dan sebagian Jawa yang diprediksi mengalami kondisi lebih kering, perlu mempertimbangkan komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan.
“Untuk wilayah Nusa Tenggara atau wilayah Jawa misalkan nanti kering, mungkin kita perlu mempersiapkan diri untuk sektor pangan misalkan dengan menanam komoditas yang lebih tahan kekeringan. Kalau padi agak sulit, mungkin jagung atau komoditas hortikultura yang lain, atau bawang,” ujar dia.
Ardhasena juga mengatakan musim kemarau panjang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi garam di sejumlah daerah. Selain sektor pangan, Sena menyebut, fenomena El Nino juga berpotensi memberikan dampak positif bagi sektor perikanan. Menurutnya, saat musim kemarau dan El Nino terjadi, nutrisi dari dasar laut naik ke permukaan, sehingga plankton ikut meningkat dan menarik ikan mendekati permukaan laut.
“Nah, biasanya ikan lebih senang laut yang dingin dari pada panas. Jadi ada potensi tangkapan ikan lebih banyak terjadi juga saat laut mendingin ketika di Indonesia,” jelasnya.
Ardhasena menilai dampak El Nino tidak selalu negatif dan dapat berbeda di tiap wilayah, tergantung karakteristik iklim setempat.