BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering Akibat El Nino

- BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih kering dari biasanya akibat pengaruh fenomena El Nino yang memperlemah pembentukan awan dan menurunkan curah hujan di Indonesia.
- Musim kemarau diperkirakan mulai bertahap dari wilayah timur seperti NTT dan NTB, dengan Jakarta memasuki fase kemarau pada akhir Mei 2026 dan puncaknya terjadi sekitar Agustus.
- BMKG mengimbau masyarakat untuk beradaptasi sejak dini, seperti menampung air hujan, menjaga kualitas udara, serta melindungi diri dari paparan sinar matahari selama musim kemarau.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dibandingkan biasanya seiring meningkatnya potensi fenomena El Nino di Samudera Pasifik.
Berdasarkan kanal YouTube Info BMKG, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan, kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena dapat memengaruhi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Table of Content
1. Daerah Jakarta akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei

Sena mengatakan, saat ini Indonesia masih berada dalam masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau sehingga di sebagian besar wilayah Indonesia belum sepenuhnya memasuki musim kemarau.
Namun, beberapa daerah sudah mulai mengalami musim kemarau. Menurut Sena, masuknya musim kemarau di Indonesia tidak pernah terjadi secara serentak, tetapi berlangsung secara bertahap.
Dia mengatakan, Jakarta diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada akhir Mei 2026.
“Untuk Jakarta, pada akhir Mei baru mulai masuk kemarau. Ini masih masa transisi karena masih ada sisa uap air dari musim hujan yang kemarin. Akan tetapi, dikombinasikan dengan panas yang sekarang, jadi terasa hareudang (panas),” kata Sena.
Meski belum memasuki musim kemarau sepenuhnya, Sena menjelaskan suhu panas yang mulai terasa saat ini dipengaruhi sisa uap air dari musim hujan. Menurut dia, uap air menyimpan panas lebih banyak dibandingkan udara kering. Selama masa transisi, kata dia, masih ada potensi hujan di beberapa waktu ke depan.
2. Sejumlah wilayah sudah mulai mengalami kemarau

Sena mengatakan, musim kemarau terjadi secara gradual atau bertahap dimulai dari wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), lalu bergerak ke arah barat.
“Selalu NTT masuk kemarau duluan karena angin monsun Australia membawa udara kering, maka yang terpapar duluan adalah NTT,” kata dia.
Dia mengatakan, sejumlah wilayah yang telah memasuki musim kemarau antara lain sebagian NTT, NTB, Sulawesi Tengah, Gorontalo, hingga Maluku. Kondisi tersebut terlihat dari peta musim kemarau BMKG yang menunjukkan sejumlah wilayah sudah berada di fase kemarau definitif.
Selain pergerakan musim kemarau dari timur ke barat, Sena mengatakan, wilayah dataran rendah di pesisir utara Pulau Jawa juga cenderung mengalami kemarau lebih awal dibanding daerah dataran tinggi.
“Biasanya daerah pesisir utara, daerah yang dataran rendah itu kemaraunya duluan dibanding yang di pertengahan pulau yang datarannya lebih tinggi,” kata dia.
Dia mencontohkan wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, seperti Karawang hingga Bekasi bagian utara mulai mengalami kondisi yang lebih kering.
3. BMKG prediksi kemarau tahun ini lebih kering

Sena mengatakan, puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Meski begitu, beberapa daerah bisa mengalami puncak kemarau lebih awal maupun lebih lambat.
“Puncak musim kemarau di Indonesia itu Agustus, masih lama. Jadi sekarang masih transisi pelan-pelan menuju musim kemarau. Ada juga yang Juli atau September, tetapi sebagian besar Agustus,” kata dia.
BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan biasanya. Namun, kata Sena, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami gelombang panas ekstrem seperti yang akan terjadi di Eropa atau Asia Timur.
“Kalau panas itu relatif. Di kita kenaikannya masih reasonable, tetapi kondisinya lebih kering. Itu yang perlu kita perhatikan,” kata dia.
Menurut dia, peluang terjadinya heatwave di Indonesia masih kecil, karena kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan dan dikelilingi laut membuat pergerakan udara cenderung terus naik sehingga sulit memicu gelombang panas ekstrem.
4. El Nino diprediksi muncul pada tahun 2026

Sena mengatakan, BMKG melihat kecenderungan fenomena El Nino kembali muncul pada musim kemarau tahun ini. Fenomena tersebut diperkirakan akan memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Dia menjelaskan, El Nino merupakan fenomena perpindahan panas laut di Samudera Pasifik dari wilayah barat menuju Pasifik tengah hingga Timur. Perpindahan tersebut menyebabkan pusat pembentukan awan ikut bergeser menjauhi Indonesia.
Akibatnya, pembentukan hujan kecil hingga menengah di Indonesia menjadi terhambat sehingga musim kemarau terasa lebih panjang atau musim hujan datang lebih lambat.
“Ketika bertemu dengan musim kemarau, El Nino menekan hujan-hujan kecil hingga menengah, sehingga seolah-olah musim kemarau kita menjadi lebih panjang,” ucap dia.
5. BMKG minta masyarakat mulai beradaptasi

BMKG meminta masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang lebih kering. Salah satunya dengan mulai menyimpan air hujan selama masa transisi menuju kemarau.
Menurut Sena, air hujan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sekunder, seperti menyiram tanaman atau mencuci kendaraan.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai penurunan kualitas udara saat musim kemarau karena berkurangnya hujan membuat polutan lebih mudah menumpuk di udara.
“Ketika musim kemarau, bantuan dari hujan untuk mengurangi polutan ini berkurang. Jadi pakai masker, karena kita perlu mengantisipasi penyakit pernapasan,” kata dia.
BMKG juga mengimbau masyarakat menggunakan pelindung kepala dan sunscreen saat beraktivitas di luar ruangan, guna mengurangi paparan sinar ultraviolet yang lebih tinggi saat tutupan awan berkurang.



















