Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia Koto Gadang, Trini Tambu saat menghadiri acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Trini menyebut ruang redaksi Sunting Melayu yang dipimpin Roehana sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah emansipasi. Di sanalah Roehana membuka ruang bagi suara perempuan untuk menjadi narator atas kisahnya sendiri.
“Dari ruang redaksi yang dipimpinnya, lahirlah infrastruktur emansipasi. Dari sekolah kerajinan yang didirikan, ia menunjukkan bahwa jalan paling efektif menuju kemajuan adalah melalui ilmu dan keterampilan,” ujarnya.
Ia menilai warisan Roehana masih terasa hingga kini, tercermin dari hadirnya perempuan di posisi strategis, mulai dari presiden perempuan hingga tokoh-tokoh di puncak dunia jurnalistik dan pemerintahan. Namun, Trini menegaskan, perjuangan itu belum selesai.
“Kita telah menempuh jalan yang sangat panjang, tapi masih banyak ruang untuk belajar dan bekerja keras. Warisan terbesar Roehana adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan bisa menggerakkan perubahan,” tuturnya.
“Sekarang, pena dan pikiran itu ada di tangan kita semua. Pertanyaannya, bagaimana kita akan menggunakannya?” pungkas Trini.