Kenang Roehana Koeddoes, Menkomdigi Soroti Minimnya Jurnalis Perempuan

Jakarta, IDN Times - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid menyoroti masih minimnya keterwakilan perempuan di dunia jurnalistik Indonesia. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Meutya mengajak publik kembali menengok perjuangan panjang perempuan di dunia pers, yang menurutnya sudah dimulai sejak awal abad ke-20, namun hingga kini masih menyisakan pekerjaan rumah besar.
1. Perjuangan panjang sejak era Roehana Koeddoes

Meutya mengaku kehadirannya dalam acara tersebut menjadi pengingat kuat perjuangan perempuan di dunia jurnalistik bukanlah hal baru. Roehana Koeddoes, pendiri surat kabar Sunting Melayu disebut sebagai pionir yang membuka jalan di tengah keterbatasan besar pada masanya.
“Ini mengingatkan saya, memberi kekuatan saya rasa bagi kita semua, bahwa perjuangan itu ada dari sejak tahun 1900an,” ujar Meutya.
Ia menilai tantangan yang dihadapi perempuan saat ini, meski berbeda konteks, tetap terasa berat. Karena itu, kisah Roehana Koeddoes menjadi sumber semangat agar perempuan tidak berhenti mengambil peran di ruang publik, khususnya di bidang jurnalistik.
“Dari dulu memang tantangannya luar biasa untuk perempuan-perempuan. Dan Ibu Rohana Kudus menjadi pionir yang membuat kita semua harus terus semangat di era saat ini,” katanya.
2. Pengalaman Meutya sebagai jurnalis perempuan di wilayah konflik

Dalam kesempatan itu, Meutya juga membahas pengalamannya sebagai mantan jurnalis. Ia mengisahkan momen dirinya saat ditugaskan meliput wilayah konflik. Ia menuturkan, menjadi jurnalis perempuan kerap dipandang sebagai keputusan berisiko, bahkan dipertanyakan.
“Ketika saya dikirim ke Aceh waktu Darurat Militer tahun 2003, itu di kantor heboh. Kenapa seorang perempuan dikirim ke daerah konflik?” ungkapnya.
Situasi serupa kembali terjadi saat ia ditugaskan ke Irak. Bahkan ketika ia sempat disandera, faktor gender masih dijadikan alasan oleh sebagian pihak.
“Dan ketika disandera, semua orang mengatakan, ‘Tuh kan, perempuan sih,’” ucap Meutya.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari betapa sulitnya jalan perempuan untuk mencapai posisi strategis di media. Menurutnya, menjadi pemimpin redaksi merupakan impian banyak jurnalis perempuan, namun peluangnya masih sangat terbatas.
“Kenapa jadi impian? Karena saya tahu itu jarang sekali. Yang bisa menduduki posisi pemimpin redaksi hingga saat ini,” katanya.
3. Baru 25 persen jurnalis perempuan, digitalisasi jadi tantangan baru

Meski telah lebih dari satu abad sejak Roehana Koeddoes memperjuangkan ruang bagi perempuan di pers, Meutya menilai ketimpangan masih nyata. Berdasarkan catatan yang ada, jumlah jurnalis perempuan di Indonesia masih berkisar 25 persen.
“Kalau total jurnalis 250 ribu, maka perempuannya sekitar 62.500. Jadi menurut saya, PR kita untuk mengisi ruang-ruang informasi bagi perempuan itu masih belum pada fase yang cukup membuat kita bisa agak santai,” tegasnya.
Di sisi lain, Meutya menilai era digital seharusnya membuka peluang lebih besar bagi perempuan untuk berkarya. Namun, ia mengingatkan, kemudahan akses juga diiringi tantangan serius, terutama maraknya konten yang minim empati dan nilai.
“Sekarang ruangnya ada, fasilitasnya lebih mudah dengan digitalisasi, tapi persaingannya juga jadi jauh lebih ketat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan kembali karya jurnalistik yang penuh rasa, empati, dan data, sejalan dengan nilai yang diperjuangkan Roehana Koeddoes sejak awal.
“Di tengah digitalisasi ini, peran perempuan menurut saya semakin menjadi lebih penting lagi,” kata Meutya.
"Itu juga menjadi tantangan dan challenge untuk kita bersama. Terutama, karena dengan digitalisasi yang mengutamakan kecepatan di berbagai sektor informasi, tulisan, kepekaan itu tuh agak hilang terasa dari tulisan-tulisan," sambungnya.
Menutup pernyataannya, Meutya berharap semangat Roehana Koeddoes terus hidup dan menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan di dunia pers belum usai.
“Mari kita lengkapkan lagi upaya-upaya kita, genapkan ikhtiar-ikhtiar kita, untuk meneruskan terus dari semangat-semangat yang telah dilakukan dan juga dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” imbuh dia.
Adapun acara ini diselingi dengan pemutaran dokumenter singkat mengenai perjuangan Roehana Koeddoes. Sesi diskusi dipandu langsung oleh Pemred IDN Times, Uni Lubis dengan sejumlah pembicara di antaranya, Co-Funder Narasi, Najwa Shihab; Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat; Ketua Umum FJPI, Khairiah Lubis; Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu; dan Ketua AMSI, Wahyu Dyatmika.

















