Menjenguk Sang Maestro Lukis Indonesia, Jeihan Sukmantoro

Jeihan menderita tiga penyakit sekaligus

IDN Times/Galih Persiana

Bandung, IDN Times – Atasi Amin mengantar saya masuk ke dalam Ruang Carolus 3-315, Rumah Sakit Santo Borromeus, Kota Bandung, tempat di mana bapaknya terbaring karena berbagai penyakit pada Rabu (24/7).

Dia adalah putra sulung dari maestro seni lukis Indonesia, Jeihan Sukmantoro, 81 tahun, yang mesti dibawa ke rumah sakit setelah pendarahan pekan lalu.

Atasi masuk dan menyibak gorden dalam ruangan, yang membatasi Jeihan dan sofa ruang inap VIP itu. Sang maestro terbaring di sana ditemani putra ketiganya. Ia tertidur pulas, dengan badan meringkuk ke arah kiri dan selimut yang hanya menutupi sebagian badannya. “Iya, beginilah kondisi bapak, sudah menghabiskan banyak labu darah,” kata Atasi.

Sinar matahari yang menyelinap masuk ke dalam ruangan ternyata membangunkan Jeihan. Ia langsung menutup mata dengan lengannya, sambil meminta Atasi menutup kembali gorden itu dengan suaranya yang tak jelas.

Setelah tahu bahwa ada pewarta dalam ruangannya, Jeihan memaksa duduk. Tapi tubuhnya terlalu ringkih untuk beranjak dari tidur. Alih-alih kembali istirahat, Jeihan malah meminta sulungnya mengambilkan kacamata. Ia terlihat sangat ingin berbicara kepada saya.

“Jadi beginilah, saya berjalan sepuluh langkah kemudian ambruk. Anak-anak bawa saya ke sini,” kata Jeihan, dengan suaranya yang parau, memulai wawancara selama 23 menit dengan IDN Times.

1. Ketika Jeihan dibawa ke rumah sakit

https://rsborromeus.com

Jumat, 19 Juli 2019 malam, Jeihan tiba-tiba ambruk. Beruntung, ketika itu Atasi sedang berada di rumah bapaknya di kawasan Cigadung, Kota Bandung.

Selain badannya tiba-tiba lumpuh, malam itu pelukis yang dikenal dengan karakter manusia bermata hitam kelam itu pun beberapa kali mengalami pendarahan. Tanpa pikir panjang, Atasi membawa sang bapak ke Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung.

Hari itu, Atasi dan keluarga tak tahu penyakit apa yang tengah dirasakan Jeihan. Yang terang, sejak 2007, Jeihan memang mengidap gangguan pada ginjalnya. Tak hanya itu, pada Desember 2018, sang maestro pun dipastikan mengidap kanker kelenjar getah bening pada lehernya.

Sebenarnya, Jeihan sudah gonta-ganti rumah sakit demi menyembuhkan penyakit-penyakitnya itu. Awalnya sekitar permulaan 2019, Jeihan dan keluarga memilih salah satu rumah sakit di Singapura yang dianggap memiliki teknologi paling modern guna menyembuhkan kanker. Namun, belakangan ia pindah menuju salah satu rumah sakit di Selangor, Malaysia, karena dinilai punya teknologi yang lebih mutakhir.

Ketika ditemui IDN Times, Jeihan sudah lima hari menginap di Rumah Sakit Santo Borromeus. Dokter baru akan mengemukakan hasil diagnosis mereka di hari keenam, atau pada Kamis (25/7).

Pada hari keenam, Jeihan pun menerima diagnosis dokter. Hasilnya ialah, selain mengidap kanker kelenjar getah bening dan gangguan ginjal, Jeihan pun memiliki benjolan di paru-parunya yang diduga merupakan tumor. Informasi itu didapat setelah Jeihan melakoni proses radiologi.

Baca Juga: Menengok Maestro Lukis Jeihan yang Dirawat karena Benjolan Paru-paru

2. ”Saya sudah selesai”, ujar sang maestro

IDN Times/Galih Persiana

Apa pun yang tengah dirasakan Jeihan saat ini, ia mengaku telah mempersiapkan semua fase hidupnya. Dalam keadaan sehat mau pun sakit, suka mau pun duka. Sebab, baginya, orang yang paling beruntung adalah mereka yang menyiapkan kematiannya, seperti yang tersurat dalam Hadis Riwayat Ibnu Majah.

“Saya sangat memercayai Rasululullah SAW, maka saya telah mempersiapkan kematian,” ujar Jeihan. Ia mengaku telah mempersiapkan keranda, kain kafan, memilih masjid tempatnya disalatkan, dan menyiapkan puisi untuk dibacakan putra-putrinya kelak di atas pemakaman.

“Saya juga sudah selesai,” kata Jeihan, melanjutkan wawancara seputar cita-citanya yang belum terealisasi. Jeihan mengatakan bahwa ia tak lagi punya harapan besar dalam berkarya. Baginya, semua yang ia cita-citakan telah tercapai.

Salah satunya, Jeihan sudah melukis tujuh Presiden Indonesia yang akhirnya ia himpun dalam sebuah buku autobiografi. Buku tersebut bisa dibilang menjadi salah satu langkah besar Jeihan di masa senja.

Dalam autobiografi yang telah diminta Sekretariat Negara itu, lukisan Jeihan menjabarkan satu per satu Presiden Indonesia dari masa ke masa.

“Bapak Ir. Soekarno sebagai tokoh besar NKRI. Bapak Seoharto sebagai Bapak Pembangunan. Bapak B.J. Habibie sebagai Bapak Reformasi,” kata Jeihan yang masih tertidur di ranjang rumah sakit.

Semua berita yang kamu suka #AdadiIDN

Baca berita sesuai topik yang kamu pilih dan
lebih nyaman di IDN app

Download Yuk!

Dalam buku tersebut, ada pula Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Bapak Toleransi, Megawati Soekarnoputri sebagai Ibu Demokrasi, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Bapak Harmonisasi, dan Joko Widodo sebagai Ratu Adil. “Ratu Adil itu bukan sosok, tapi zaman kemakmuran yang akan diberkahkan pada Indonesia,” katanya.

Kini, buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam 8 bahasa dunia, di antaranya Inggris, Spanyol, Tiongkok, dan Arab. Selain soal autobiografinya, Jeihan juga sudah merasa puas karena karya lukisannya telah dipajang di salah satu sudut markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, sebagai perwakilan lanskap Indonesia.

Dengan berbagai prestasi itu, siapa berani menampik bahwa Jeihan belum paripurna sebagai seorang maestro?

3. Tidak ada karya yang tak rampung dibuat

IDN Times/Galih Persiana

Jeihan dikenal sebagai seniman lukis senior yang tak pernah berhenti berkarya. Atas dasar itu, maka saya bertanya pada Jeihan: Adakah karya yang terpaksa ia tinggalkan karena mesti dirawat inap di rumah sakit?

Sang maestro tak langsung menjawab. Ia malah meminta sulungnya untuk membawakan selembar kertas dan alat tulis. Atasi pun beranjak menuju resepsionis rumah sakit dan kembali dengan selembar kertas kasir berukuran 28x24 sentimeter juga bolpoin.

Ia kemudian meminta saya duduk di sebuah kursi kosong yang berada di samping ranjangnya, dan memulai melukis saya dalam waktu tiga menit. “Ini. Saya telah menyelesaikan sebuah karya. Tidak ditunda-tunda,” tutur dia, sambil memberikan hasil coretannya pada Saya.

Tak dirasa, saya dan Jeihan telah berbincang selam 23 menit. Sepanjang waktu itu, ia menunjukkan berbagai ekspresi, mulai dari bahagia dengan senyum merekah, marah, hingga ekspresi cemas.

Ia pun memulai percakapan dengan suara parau yang sama sekali tak bisa didengar dengan baik. Namun, di akhir wawancara, suaranya begitu lantang dan jelas. Jeihan seperti telah sembuh.

4. Jeihan di mata putranya

https://artspace.id

Sebagai seorang sulung, Atasi tahu betul sikap bapaknya dalam menghadapi setiap masalah, termasuk dalam urusan mempersiapkan kematian. Tapi, acap kali Jeihan mengutarakan kematian, Atasi tak pernah mau berpikir buruk.

“Sebagai anak pertama, saya hanya bisa berupaya maksimal agar bapak sembuh dari penyakitnya. Kami akan melakukan semua upaya untuk itu, gak pernah berpikir macam-macam,” ujar Atasi.

Termasuk ketika Jeihan ambruk di rumah, Atasi adalah orang pertama yang memaksa membawanya ke Instalasi Gawat Darurat. “Saya pikir takutnya ada apa-apa,” katanya.

5. Jeihan yang menginspirasi

https://indonesia.go.id

Selain berhasil menginspirasi banyak orang, termasuk seniman-seniman lukis millennials, Jeihan juga menjadi inspirasi bagi empat putra dan dua putrinya. Di mata sulungnya, Jeihan merupakan sosok pekerja keras.

“Sudah setua ini beliau masih tetap berkarya. Dia cerdas dan kuat, itu yang membuat kami selalu merasa salut dengan beliau,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Atasi, bapaknya juga merupakan seseorang yang tak pernah mau berhenti berpikir. Itu pula yang menginspirasi Atasi, dalam posisinya saat ini sebagai pemimpin di sebuah galeri seni bernama Studio Jeihan, di Kota Bandung.

“Saya tidak mengerti kenapa otaknya terus berjalan. Pikirannya gak bisa diam,” tutur Atasi.

Memang, kini raga Jeihan boleh disebut gawat. Tapi, saya sudah membuktikan, bahwa pikiran di kepalanya tak pernah istirahat.

Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani: ARTJOG MMXIX Ajak Manusia Jaga Bumi Lewat Seni

Just For You