Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Az-Zubayr bin Awwam, Agen Intelijen Kaum Muslim Pendamping Setia Nabi
Ilustrasi perang Badar (Nano Banana 2/Rochmanudin)
  • Az-Zubayr bin Awwam termasuk delapan orang pertama yang memeluk Islam dan dikenal berani membela Nabi Muhammad sejak masa muda.
  • Dalam hijrah ke Habasyah, ia menyeberangi Sungai Nil untuk mencari kabar kemenangan Najasyi, membawa ketenangan bagi kaum Muslimin di sana.
  • Sebagai pejuang tangguh di Perang Badar dan Khaibar, serta pemimpin pasukan saat Fathu Makkah, Az-Zubayr menunjukkan kesetiaan hingga akhir hayatnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times -Az-Zubayr bin Awwam adalah salah satu dari delapan orang pertama yang menerima hidayah Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Mengutip Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Edisi Lengkap), sejak muda, Az-Zubayr bin Awwam telah menunjukkan keberanian yang luar biasa, demi membela risalah yang dibawa sepupunya, Nabi Muhammad salalahu'alaihiwasallam.

1. Misi berbahaya di Sungai Nil

Ilustrasi sungai Nil pada masa abad 600-an. (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Ketika tekanan kaum Quraisy di Makkah semakin berat, Az-Zubayr ikut serta dalam hijrah pertama ke negeri Habasyah (Etiopia). Di sana, sebuah konflik pecah yang mengancam kekuasaan Raja Najasyi, pelindung kaum Muslimin.

Saat para sahabat didera kecemasan tentang siapa yang akan memenangkan perang, Az-Zubayr, yang saat itu merupakan yang termuda di antara mereka, mengajukan diri untuk mencari berita.

Az-Zubayr mengikatkan tempat air di dadanya lalu berenang menyeberangi Sungai Nil, hingga tiba di titik pertemuan dua pasukan. Tak lama kemudian, ia kembali sambil berlari kencang dan melambaikan bajunya seraya berseru gembira, "Bergembiralah, Najasyi telah menang!" Kabar ini membawa ketenteraman bagi kaum Muslimin yang menetap di sana.

2. Singa di Medan Badar dan Khaibar

Ilustrasi perang Badar (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Keberanian Az-Zubayr semakin teruji di medan perang. Pada Perang Badar, ia bertugas sebagai mata-mata yang berhasil menangkap petugas pengambil air kaum Quraisy, untuk mendapatkan informasi strategis.

Di medan laga, ia memacu kuda tangguhnya yang bernama Al-Ya'sub untuk menerjang barisan musuh.

Kegagahannya kembali memuncak pada Perang Khaibar. Ketika jawara Yahudi bernama Yasir (saudara Marhab) maju menantang duel, Az-Zubayr segera menyongsongnya.

Ibundanya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, sempat khawatir dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah dia akan membunuh anakku?" Rasulullah menjawab dengan yakin, Az-Zubayr-lah yang akan menumbangkan lawannya, dan hal itu terbukti dengan kemenangan telak Az-Zubayr.

3. Kesetiaan hingga akhir

Ilustrasi kekalahan pasukan kaum Quraisy dalam perang Badar. (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Az-Zubayr bukan hanya seorang prajurit, ia adalah saksi sejarah dalam momen-momen krusial seperti Perjanjian Hudaibiyah. Saat pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah memberikan kehormatan kepadanya untuk memimpin pasukan sayap kiri menuju jantung kota suci tersebut.

Hingga detik-detik kewafatan Nabi, Az-Zubayr tetap berdiri sebagai pilar utama yang menjaga persatuan umat.

Editorial Team