Ilustrasi Pendidikan (IDN Times/Arief Rahmat)
Azis menilai, dalam satu tahun terakhir, pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto mulai menempatkan pendidikan sebagai poros pembangunan nasional.
“Program makan bergizi bagi anak sekolah, santri pesantren, ibu hamil, dan balita merupakan langkah mendasar yang berangkat dari fakta ilmiah, kecerdasan tidak mungkin berkembang optimal tanpa pemenuhan gizi. Bangsa yang ingin maju harus terlebih dahulu memastikan generasinya tumbuh sehat secara fisik dan mental,” kata Azis.
Selain itu, pemerintah juga memperluas penerima beasiswa, memperbaiki sekolah-sekolah rusak, membangun infrastruktur dasar di wilayah terpencil, serta mendirikan sekolah rakyat berasrama gratis bagi anak dari keluarga miskin. Di sisi lain, pembangunan sekolah unggulan, perluasan SMA berstandar nasional, serta kerja sama dengan universitas terkemuka di Inggris dinilai sebagai upaya meningkatkan daya saing global pendidikan nasional.
Meski demikian, Azis mengingatkan, keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya bergantung pada negara.
“Pemerintah dapat membuka jalan, tetapi akal budi hanya akan berkembang bila kita semua ikut menumbuhkannya. Saatnya berhenti sekadar mengamati perubahan, dan mulai mengambil peran di dalamnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, tanpa partisipasi kolektif, pembangunan manusia tidak akan berjalan optimal dan berkelanjutan.