Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cegah Stroke, 130 Juta Warga Ditargetkan Ikut Cek Kesehatan Gratis
Cek Kesehatan Gratis untuk kader-kader Posyandu di Kalurahan Pendowoharjo Kapanewon Sewon.(IDN Times/Daruwaskita)
  • Pemerintah menargetkan 130 juta warga ikut Program Cek Kesehatan Gratis hingga 2026 untuk deteksi dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol sebagai langkah pencegahan stroke.
  • Strategi 80-80-80 diterapkan agar sebagian besar penduduk teridentifikasi, tertangani, dan mampu mengendalikan kondisi kesehatannya di tengah tingginya angka kematian akibat stroke.
  • Pemerintah memperkuat fasilitas kesehatan dengan CT scan dan cath lab di seluruh kabupaten/kota serta mendorong sinergi multidisiplin guna mempercepat diagnosis dan menekan angka kematian stroke.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
10 Juli 2026

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pentingnya pencegahan stroke melalui deteksi dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi dalam acara Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summits (ICONNS) 2026 di Jakarta.

12 Juli 2026

Pernyataan Menkes Budi dikutip dalam siaran pers yang menegaskan target Program Cek Kesehatan Gratis menjangkau 130 juta penduduk pada 2026 serta penerapan strategi 80-80-80 untuk pengendalian penyakit tidak menular.

2026

Pemerintah menargetkan pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis bagi 130 juta warga dan mempercepat penyediaan CT scan serta cath lab di seluruh kabupaten/kota. ICONNS 2026 juga menjadi forum pembahasan sinergi multidisiplin penanganan stroke.

lima tahun mendatang

Pemerintah menargetkan program skrining kesehatan menjangkau sekitar 280 juta penduduk atau 80 persen populasi serta meningkatkan usia harapan hidup dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah meluncurkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mendeteksi dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi guna menekan risiko stroke serta meningkatkan usia harapan hidup masyarakat.
  • Who?
    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Kementerian Kesehatan, didukung RS Pusat Otak Nasional dan tenaga medis di seluruh daerah.
  • Where?
    Program dilaksanakan secara nasional dengan peluncuran di Jakarta, mencakup seluruh 514 kabupaten/kota dan 38 provinsi di Indonesia.
  • When?
    Target pelaksanaan hingga tahun 2026, dengan pernyataan resmi disampaikan pada Jumat, 10 Juli 2026 dalam acara ICONNS 2026 di Jakarta.
  • Why?
    Dilakukan untuk menurunkan angka kematian akibat stroke yang mencapai sekitar 300 ribu kasus per tahun dan mengurangi beban pembiayaan kesehatan nasional.
  • How?
    Pemerintah menerapkan strategi 80-80-80, memperluas skrining kesehatan gratis, melatih dokter daerah, serta melengkapi fasilitas CT scan dan cath lab di seluruh wilayah Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pemerintah mau banyak orang cek kesehatan gratis supaya tidak kena stroke. Pak Menteri Budi bilang nanti 130 juta orang bisa ikut cek darah, gula, dan kolesterol. Kalau sakit cepat tahu, dokter bisa bantu lebih cepat. Sekarang rumah sakit juga mau punya alat CT scan di semua kota biar orang bisa sembuh lebih cepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Program Cek Kesehatan Gratis yang menargetkan 130 juta warga mencerminkan langkah nyata pemerintah memperkuat pencegahan penyakit serius seperti stroke. Pendekatan 80-80-80 dan pemerataan fasilitas CT scan di seluruh kabupaten/kota menunjukkan komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan berkualitas, sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga medis dan harapan hidup masyarakat secara menyeluruh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times -  Pemerintah menargetkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjangkau 130 juta penduduk pada 2026. Program ini digencarkan untuk mendeteksi secara dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang menjadi faktor risiko utama stroke

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, pemerintah tengah menggeser fokus penanganan kesehatan dengan memperkuat upaya pencegahan. Dalam lima tahun mendatang, program skrining kesehatan ditargetkan menjangkau 280 juta penduduk atau sekitar 80 persen populasi. 

“Prevalensi hipertensi di Indonesia hampir 20 persen dan diabetes lebih dari 10 persen. Daripada menunggu sampai stroke terjadi, kita harus mengendalikan faktor risiko ini sedini mungkin,” ujar Budi dalam Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summits (ICONNS) 2026 di Jakarta, Jumat (10/7/2026), dikutip dari siaran pers, Minggu (12/7/2026).

1. Pemerintah terapkan pendekatan 80-80-80

ilustrasi gejala stroke (IDN Times/Novaya Siantita)

Dalam upaya menekan kasus stroke, pemerintah menerapkan pendekatan 80-80-80. Strategi tersebut menargetkan 80 persen penduduk dapat teridentifikasi kondisi kesehatannya, 80 persen dari mereka yang teridentifikasi mendapat penanganan, serta 80 persen dari pasien yang ditangani berhasil mengendalikan kondisi kesehatannya. 

Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya angka kematian akibat stroke di Indonesia. Budi menyebut, sekitar 300 ribu orang meninggal akibat stroke setiap tahun. 

Menurut Budi, angka kematian sebenarnya di lapangan diperkirakan dapat mencapai dua hingga tiga kali lebih besar karena masih banyak kasus di berbagai daerah yang belum tercatat dalam sistem registrasi nasional. 

Stroke juga disebut menjadi beban pembiayaan kesehatan terbesar ketiga dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan total klaim lebih dari Rp5 triliun setiap tahun. 

“Setiap tahun sekitar 300 ribu orang meninggal akibat stroke. Saya sangat terlibat secara pribadi karena ibu saya sendiri mengalami stroke ketika berusia 70 tahun. Saat itu, di kota kami bahkan belum tersedia CT scan sehingga harus dibawa ke kota lain dan sudah terlambat. Ibu saya mengalami kelumpuhan selama sembilan tahun,” kata Budi.

2. Seluruh kabupaten/kota ditargetkan punya CT scan dan cath lab

CT Scan Dual Source. di RSUP Prof Ngoerah. (Dok.IDN Times/istimewa)

Selain memperkuat pencegahan, pemerintah juga mempercepat kesiapan fasilitas kesehatan untuk menangani pasien stroke. Pemerintah menargetkan seluruh 514 kabupaten/kota memiliki fasilitas CT scan dan cath lab.

Penyediaan fasilitas tersebut dinilai penting karena keberhasilan penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan tindakan medis dalam periode emas atau golden period. 

Kemenkes mengklaim akan mendorong kompetensi tenaga medis. Dokter bedah umum di tingkat kabupaten/kota akan dilatih melakukan prosedur kraniotomi untuk mengevakuasi hematoma pada kasus stroke hemoragik. 

Sementara itu, di tingkat provinsi pemerintah menyiapkan peralatan Cavitron Ultrasonic Surgical Aspirator (CUSA), neuronavigasi, dan mikroskop operasi di seluruh 38 provinsi. Upaya pencegahan hingga penguatan layanan stroke tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan usia harapan hidup masyarakat dari 72 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun mendatang.

3. Penanganan stroke membutuhkan sinergi multidisiplin

Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summit (ICONNS) 2026 di Jakarta, Jumat (10/7/2026). (dok. Kementerian Kesehatan)

Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Adin Mulkasana, mengatakan, penanganan penyakit neurologi seperti stroke membutuhkan kecepatan diagnosis dan sinergi lintas disiplin medis. 

“Melalui ICONNS 2026, kita membangun standarisasi klinis yang seragam di seluruh daerah. Sinergi multidisiplin ini menjadi kunci utama untuk menurunkan angka kematian dan kecacatan permanen akibat stroke di Indonesia,” ucap Adin. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article