Jakarta, IDN Times - Permasalahan sampah di DKI Jakarta masih menjadi tugas yang belum terselesaikan secara tuntas. Setiap hari, ribuan ton sampah dari rumah tangga, pasar, hingga perkantoran, harus diangkut dan diproses agar tidak menumpuk di tengah kota.
Namun, hingga kini pengelolaan sampah Jakarta masih mengandalkan sistem lama, yakni pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan sampah. Sistem ini membuat sebagian besar sampah akhirnya bermuara di TPST Bantargebang yang kapasitasnya semakin kritis.
Bahkan, tinggi timbunan sampah di area dumping site disebut sudah menggunung, mencapai sekitar 50 meter. Kondisi tersebut membuat kawasan TPST Bantargebang rentan risiko bencana, seperti yang terjadi pada Minggu (8/3/2026).
Lalu, bagaimana sebenarnya alur perjalanan sampah warga DKI Jakarta hingga berakhir di tempat pembuangan akhir Bantargebang?
