Presiden Prabowo Subianto Hadiri Konferensi Internasional di PBB terkait Palestina (dok. Sekretariat Negara)
Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 itu menegaskan, di tengah rivalitas global, Indonesia tak bisa terjebak dalam satu poros kekuatan tertentu.
“Stabilitas nasional saat ini bergantung pada kemampuan Indonesia membangun jejaring kerja sama lintas kutub tanpa kehilangan independensi arah kebijakan luar negeri,” kata Dave.
Ia menekankan pentingnya politik luar negeri bebas dan aktif sebagai prinsip strategis. Dalam perspektifnya, Indonesia perlu mendorong koeksistensi damai, membangun aliansi strategis, namun tetap berpegang pada prinsip anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain.
Dave juga menilai reformasi tata kelola global perlu diperjuangkan agar lebih setara, termasuk memperkuat prinsip persamaan kedudukan antarnegara dalam sistem multilateral.
Ia menyebut, politik luar negeri bebas dan aktif menjadi prinsip strategis untuk menolak kolonialisme, imperialisme, memperjuangkan kemerdekaan, serta membangun persahabatan internasional berdasarkan nilai Pancasila.
"Dalam ranah multilateralisme, gagasan ini juga tampak melalui dorongan reformasi tata kelola global agar lebih setara, termasuk kritik pada dominasi negara besar dan usulan agar PBB memperkuat prinsip persamaan kedudukan antarnegara. Tantangan Indonesia bukan hanya terletak pada besarnya ketidakpastian dinamika global, melainkan pada kemampuan kebijakan Indonesia dalam meresponsnya secara koheren dan konsisten," tegasnya.
Ia mengatakan, di tengah absennya kapasitas PBB untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah, bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BoP) memberikan harapan baru untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Menurut Dave, kebijakan ekonomi dan komunikasi publik yang kuat dapat menjadi peredam yang meminimalisir dampak dari ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi internasional di dalam negeri.