Bogor, IDN Times – Salah satu orator demonstrasi penolakan penghapusan operasional angkot berusia 20 tahun di Kota Bogor, Jawa Barat, yang menyuarakan keresahannya adalah Syahrul, sopir angkot trayek 16.
Sopir 54 tahun itu merasa kebijakan penghapusan kendaraan yang berusia di atas 20 tahun pada 2025 sangat merugikan. Menurutnya, mayoritas unit angkot yang beroperasi saat ini adalah keluaran 2000 hingga 2005.
"Kalau yang usia angkot 20 tahun itu 2025, itu kami tolak asli. Pokoknya yang akan dihapus kami tolak semua 2025 ke bawah. Kami akan bergerak," kata Syahrul di tengah kerumunan massa demo di Balai Kota Bogor, Kamis (22/1/2026).
Demo Balai Kota, Ini 3 Tuntutan Sopir Angkot di Bogor

Intinya sih...
Persoalan utama yang dihadapi para sopir angkot di Bogor bukan sekadar peremajaan, melainkan beban finansial. Cicilan untuk unit baru mencapai lebih dari Rp3 juta per bulan.
Para sopir meminta pemerintah memberikan kelonggaran kebijakan untuk meremajakan unit dengan mobil bekas yang kondisinya masih layak namun memiliki nilai angsuran yang masuk akal.
Sopir merasa marah karena merasa aset mereka tidak dihargai. Mereka menekankan bahwa angkot-angkot tersebut dibeli dengan hasil keringat sendiri.
1. Keberatan dengan skema cicilan mobil baru yang mencekik
Persoalan utama yang dihadapi sopir bukan sekadar peremajaan, melainkan beban finansial. Syahrul menyebut cicilan untuk unit baru atau "mobil tayo" mencapai lebih dari Rp3 juta per bulan, angka yang mustahil tertutup oleh pendapatan harian mereka.
"Cicilannya melebihi dari target pendapatan kita. Kalau sampai Rp3 juta lebih selama empat tahun kita gak mampu. Kalau Rp2 juta ke bawah, barang kali kita dan kawan-kawan masih mampu," ungkapnya.
2. Meminta solusi berupa pengadaan mobil bekas yang terjangkau
Dibanding dipaksa mengambil unit baru yang mahal, para sopir meminta pemerintah memberikan kelonggaran kebijakan.
Mereka berharap diperbolehkan meremajakan unit dengan mobil bekas yang kondisinya masih layak, namun memiliki nilai angsuran yang masuk akal.
"Kita minta peremajaannya di atas 2030, nah baru minta peremajaan. Dan tidak bisa istilahnya mobil baru, kita minta mobil bekas yang bisa kejangkau dengan bulanan," tambah Syahrul.
3. Angkot adalah aset yang dibeli dengan kerja keras
Kemarahan para sopir juga dipicu perasaan soal aset mereka tidak dihargai. Mereka menegaskan angkot-angkot tersebut dibeli dengan hasil keringat sendiri, bahkan banyak yang melalui proses cicilan panjang.
"Angkot kami mau dianggap apa? Kami itu boleh beli, boleh cicilan itu. Nah, kalau sekarang mau dihapus begitu saja, maka kami tidak setuju. Dari (trayek) 16 kami berteriak tidak setuju," pungkasnya.