Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Demo Kemendikti, BEM UI Tolak Pembangunan SPPG di Kampus
BEM UI saat demo di Kemendikdasmen pada Senin (2/5/2026). (Dok. Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan)
  • BEM UI menolak rencana pembentukan SPPG di kampus karena dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi dan mengabaikan masalah biaya kuliah serta kesejahteraan tenaga pendidik.
  • Dalam aksi di depan Kemendikdasmen, BEM UI menyampaikan lima tuntutan utama, termasuk pencabutan anggaran MBG, pemerataan kualitas pendidikan, dan penolakan komersialisasi pendidikan.
  • Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas ikut demo sambil membawa poster yang mengecam pemborosan dana MBG dan menuntut prioritas anggaran untuk kesejahteraan guru serta peningkatan mutu pendidikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
4 Mei 2026

Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan menyatakan penolakan terhadap rencana pembentukan SPPG di kampus dan menilai kebijakan tersebut salah prioritas. Pada hari yang sama, BEM UI menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kemendikti menolak pendirian SPPG dan menyampaikan lima tuntutan terkait kebijakan pendidikan. Dalam aksi tersebut, ratusan mahasiswa membawa poster yang mendesak penghentian program MBG dan mengkritik penggunaan anggaran pendidikan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Mahasiswa Universitas Indonesia menggelar aksi menolak rencana pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kampus yang dinilai tidak sesuai prioritas kebutuhan pendidikan tinggi.
  • Who?
    Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah mahasiswa dari BEM SI Rakyat Bangkit, Universitas Pancasila, dan Universitas Nasional.
  • Where?
    Aksi berlangsung di depan kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti), Jakarta.
  • When?
    Kegiatan unjuk rasa dilakukan pada Senin, 4 Mei 2026.
  • Why?
    BEM UI menilai pendirian SPPG tidak tepat sasaran karena masalah utama pendidikan adalah biaya kuliah tinggi, kesejahteraan tenaga pendidik rendah, serta fasilitas akademik yang stagnan.
  • How?
    Ratusan mahasiswa berorasi dan membawa poster berisi kritik terhadap kebijakan MBG serta tuntutan pencabutan anggaran dan perbaikan sistem pendidikan nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak mahasiswa dari Universitas Indonesia datang ke kantor Kemendikti. Mereka marah karena pemerintah mau buat tempat gizi di kampus. Ketua BEM bilang uangnya lebih baik untuk guru, dosen, dan fasilitas belajar. Mahasiswa bawa poster dan minta pemerintah tidak boros uang. Sekarang mereka masih menunggu jawaban dari pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Aksi BEM UI menolak pendirian SPPG menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap arah kebijakan pendidikan tinggi. Dengan menyuarakan isu kesejahteraan tenaga pengajar, pemerataan akses, dan penolakan komersialisasi pendidikan, mahasiswa memperlihatkan semangat kritis yang konstruktif untuk memastikan anggaran negara digunakan secara lebih adil dan berpihak pada peningkatan kualitas pendidikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menolak rencana pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kampus.  Kebijakan itu dinilai tidak tepat sasaran bagi perguruan tinggi.

Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan menilai, pembentukan SPPG di kampus adalah kesalahan pemerintah dalam menentukan prioritas.

“BEM se-UI menolak pendirian SPPG di kampus dan menganggap itu adalah kesalahan dalam menentukan prioritas karena sekarang biaya pendidikan masih mahal, kesejahteraan dosen dan tendik masih rendah, dan fasilitas pendukung pendidikan baik akademik maupun nonakademik masih stagnan,” kata Athof kepada IDN Times, Senin (4/5/2026).

1. Pemerintah dinilai gagal menyelaraskan lulusan dengan lapangan kerja

Angkatan kerja Indonesia terus meningkat dan harus dibarengi dengan penciptaan lapangan kerja, Selasa (9/12/2025).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Athof menilai, para pengambil kebijakan pendidikan tinggi adalah orang-orang yang malas berpikir. Menurut dia, negara yang gagal menciptakan lapangan kerja, tetapi malah menyalahkan kampus dan mahasiswa.

“Kemudian kemalasan berpikir itu juga menyebabkan, bukannya alih-alih fokus memperbaiki kualitas pendidikan tinggi agar matching dengan lapangan pekerjaan. Mereka malah mendorong pendirian SPPG di tiap kampus,” ujar dia.

“Ini semua persis seperti nakhoda (Mendikti) yang mabuk (MBG) dan menabrakkan kapalnya ke karang (kebijakan pendidikan tinggi yang gagal me-matching lulusan dengan lapangan kerja), lalu menyalahkan para penumpang (kampus dan mahasiswa) karena tidak bisa berenang! (Tidak terserap),” lanjut dia.

2. Lima tuntutan BEM UI dalam demo di Kemendikti

Sejumlah siswi SMP IT Al Fateeh Tahfidz dan Entrepreneur, Pedurungan Semarang mengonsumsi masakan MBG. (IDN Times/bt)

Penolakan SPPG oleh BEM UI ini disampaikan dalam aksi unjuk rasa di depan kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti) pada Senin (4/5/2026).

Ada lima poin tuntutan BEM UI yang disampaikan sebagia berikut:

1. Menuntut pencabutan anggaran MBG dari anggaran pendidikan dan mengevaluasi total MBG

2. Wujudkan kesejahteraan guru, guru honorer, dosen, dosen honorer, dan seluruh tenaga pendidikan

3. Menuntut pemerataan kualitas pendidikan nasional yang berkeadilan melalui perbaikan infrastruktur, pemerataan guru,  dan pemerataan akses serta fasilitas yang terjangkau di seluruh Indonesia

4. Menuntut pendidikan yang aman dari kekerasan, dan bias gender dalam kurikulum tata laksana dan penanganan kasus kekerasan

5. Menolak komersialisasi dan neoliberalisasi pendidikan yang membebani ekonomi masyarakat serta memandang pendidikan semata sebagai pabrik sumber daya manusia

3. Mahasiswa membawa poster desakan penghentian MBG

BEM UI saat demo di Kemendikdasmen pada Senin (2/5/2026). (Dok. Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan)

Adapun peserta aksi terdiri dari ratusan mahasiswa yang berasal dari BEM SI Rakyat Bangkit dan Kerakyatan, Universitas Pancasila dan Universitas Nasional.

Dalam aksi demo tersebut, para mahasiswa tampak membawa poster yang memuat desakan menghentikan MBG. Mereka menenteng poster yang menyindir pemborosan anggaran negara untuk MBG.

Misalnya 'Bayar SPPG mampu, bayar guru tidak mampu', 'Pendidikan dirampas, MBG oke gas!’ dan ‘Dana MBG dimaksimalkan, dana pendidikan diminimalkan’.

Editorial Team