Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
DPR Akan Panggil Bos Agrinas Buntut Impor 105 Ribu Mobil India
Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron sebut pihaknya bakal panggil Bos Agrinas imbas impor mobil India. (IDN Times/Amir Faisol).
  • Komisi VI DPR akan memanggil Bos Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, untuk meminta penjelasan terkait impor 105 ribu mobil India bagi Koperasi Desa Merah Putih.
  • Anggota DPR Herman Khaeron menilai impor tersebut tidak sejalan dengan prioritas Presiden Prabowo yang mendukung industri lokal dan meminta Agrinas lebih transparan dalam penggunaan keuangan negara.
  • Joao mengklaim pengadaan kendaraan dari India bisa menghemat Rp46,5 triliun dari total anggaran Rp200 triliun dan menyatakan siap menghentikan impor jika pemerintah memerintahkannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron menyatakan, pihaknya akan memanggil Bos Agrinas Joao Angelo De Sousa Mota terkait impor 105 ribu unit mobil India untuk keperluan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Dia mengatakan, Agrinas telah dua kali mengundang Agrinas untuk membahas Swasembada Pangan dan KDMP. Ia juga mengatakan, tidak pernah ada pembahasan terkait pengadaan sarana transportasi dari India untuk kebutuhan KDMP.

"Nah, yang kedua tentu ini sudah menjadi isu publik. Kalau sudah menjadi isu publik, Komisi VI wajib untuk memanggilnya dan meminta keterangan, minta penjelasan apa yang terjadi," kata Herman di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (26/2/2026).

1. Dukung impor mobil India disetop

Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron sebut pihaknya bakal panggil Bos Agrinas imbas impor mobil India. (IDN Times/Amir Faisol).

Herman sepakat agar pengadaan ratusan ribu mobil India untuk KDMP dihentikan. Terlebih, dia mengatakan, kebijakan ini tidak selaras dengan semangat Presiden Prabowo Subianto yang memprioritaskan kemampuan lokal.

Ia pun memandang kebutuhan 105 ribu unit mobil pikap ini seharusnya menjadi kesempatan untuk menggenjot industri manufaktur dalam negeri.

"Kita kan banyak mobil-mobil di kala sekarang sedang stagnan, penjualan mobil stagnan, kalau ada program yang kemudian ini bisa meningkatkan penjualan sekaligus ini akan meningkatkan putaran ekonomi, ada value added, ada nilai tambah nanti yang dapat diberikan dari stimulus anggaran negara yang diberikan dalam bentuk mobil pick-up," kata dia.

2. Ingatkan Bos Agrinas transparan kelola keuangan negara

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Demokrat Herman Khaeron. (IDN Times/Amir Faisol)

Sebagai lembaga negara, ia mewanti-wanti Bos Agrinas lebih berhati-hati dalam menyusun kebijakan, termasuk pengadaan barang-barang secara impor.

Herman juga mengingatkan Bos Agrinas agar mengedepankan asas transparansi dan akuntabilitas keuangan negara serta memenuhi kajian-kajian teknis yang memadai.

"Saya kira juga harus betul-betul memenuhi asas transparansi dan akuntabilitas keuangan negara, memenuhi terhadap kajian-kajian teknis yang memadai untuk dapat dijalankan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan taraf hidup masyarakat utamanya di desa-desa," kata Sekjen Partai Demokrat itu.

3. Bos Agrinas klaim bisa efisiensi anggaran Rp46,5 triliun

Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, berbagi pandangan strategis dan arah bisnis perusahaan dalam wawancara eksklusif di program Real Talk bersama Uni Lubis. (IDN Times/Triyan)

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), Joao Angelo De Sousa Mota, mengklaim pihaknya mampu melakukan efisiensi hingga Rp46,5 triliun dari pengadaan 105 ribu unit kendaraan pikap dan truk ringan dari India.

Adapun efisiensi tersebut berasal dari anggaran pengadaan sarana dan prasarana perseroan yang diperoleh dari pinjaman bank-bank anggota Himbara sebesar Rp200 triliun.

"Secara singkat saja bahwa dengan pengadaan sarana-prasarana ini Agrinas Pangan bisa melakukan efisiensi sebesar Rp46,5 triliun," kata Joao saat konferensi pers di Yodya Tower, Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Menurut dia, selama ini yang menolak impor pikap adalah individu-individu, bukan pemerintah maupun masyarakat itu sendiri.

"Yang menolak ini siapa? karena saya ini kan BUMN. Saya pasti taat kepada pemerintah dan taat kepada pemerintah dan rakyat jadi kami hanya setia kepada negara dan rakyat, tidak kepada individu atau kelompok tertentu," kata Joao.

Kendati begitu, Joao memastikan jika pemerintah memutuskan menghentikan impor pikap, maka dirinya juga akan mematuhi perintah tersebut.

"Selama negara berpihak mendukung apa yang kami lakukan akan kami laksanakan, tapi kalau negara dan DPR mengatakan bahwa kami harus hentikan, kami hentikan dengan segala risiko yang tadi saya sudah sampaikan," ujar Joao.

Editorial Team