Anggota Komisi II DPR Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Pansus Penyelesaian Konflik Agraria DPR, Azis Subekti (dok. Istimewa)
Azis menilai kehadiran presiden di May Day harus dimaknai sebagai awal dari komitmen yang lebih besar dalam memperbaiki kebijakan ketenagakerjaan.
“May Day pada akhirnya adalah ujian yang sunyi. Ia tidak mengukur seberapa keras negara berbicara, tetapi seberapa jauh ia mendengar—dan lebih dari itu, bertindak," jelasnya.
Ia juga menekankan, sejarah akan menilai langkah pemerintah bukan dari momen seremonial, melainkan dari tindak lanjutnya.
“Namun sejarah akan menilai bukan dari momen tersebut, melainkan dari apa yang mengikutinya: apakah ia menjadi pintu bagi reformasi kebijakan, atau berhenti sebagai gestur politik yang cepat dilupakan,” ungkapnya.
Dengan demikian, Azis menegaskan, kehadiran Presiden Prabowo di tengah buruh harus menjadi titik awal perubahan nyata. Negara, kata dia, tidak cukup hanya hadir secara simbolik, tetapi harus mampu menghadirkan kebijakan yang adil dan berkelanjutan bagi pekerja.