Comscore Tracker

Ada Toleransi dalam Hangatnya Imlek di Kampung Tambak Bayan

Kampung pecinan di Surabaya ini selalu meriah saat Imlek

Surabaya, IDN Times - Tergopoh-gopoh, Nurul tiba di kampung pecinan itu. Dengan seorang bayi di dekapannya anak laki-laki dalam gandengan tangannya yang lain, pandangan Nurul menyapu dengan cepat ke sekitarnya.

"Me, wes buyar to?" (sudah bubar ya?) tanyanya kepada seorang perempuan berbaju congsam. Anggukan perempuan itu membuat Nurul kecewa. Penampilan barongsai yang ditunggu-tunggu ternyata sudah selesai.

Hari ini, Nurul menghabiskan hari libur Imlek di Kampung Pecinan Tambak Bayan. Nurul yang menikah dengan pria keturunan Tionghoa, ingin menikmati atmosfer berada di Negeri Tirai Bambu. Tapi sayang, anak bungsunya bangun kesiangan sehingga mereka kelewatan atraksi barongsai.

1. Kampung Tambak Bayan, lokasi langganan wisatawan saat Imlek

Ada Toleransi dalam Hangatnya Imlek di Kampung Tambak BayanNurul bersama anak-anaknya saat mengunjungi Kampung Tambak Bayan, Sabtu (25/1). IDN Times/Fitria Madia

Nurul tak sendiri, banyak wisatawan yang tertarik menikmati suasana Imlek di Kampung Tambak Bayan. Kampung ini sudah menjadi kawasan langganan untuk dikunjungi bagi para wisatawan.

Setiap Imlek selalu dimeriahkan dengan berbagai penampilan seperti barongsai dan tari-tarian. Adat setempat mempercayai barongsai membawa berkah saat menghampiri rumah-rumah warga. Tak hanya itu, anak-anak pun selalu heboh menyaksikan atraksinya.

Meski ramai wisatawan, warga setempat tidak menarik biaya untuk tiket masuk maupun parkir bagi roda dua. Bahkan, para wisatawan, fotografer, vlogger, hingga jurnalis juga diberi makanan dan minuman secara cuma-cuma.

2. Kampung ini bernuansa adat Tionghoa yang masih kental

Ada Toleransi dalam Hangatnya Imlek di Kampung Tambak BayanSuasana penampilan saat perayaan Imlek di Kampung Tambak Bayan, Sabtu (25/1). IDN Times/Fitria Madia

Kampung yang terletak di tengah Kota Surabaya itu dihuni mereka yang menempati kediaman turun-temurun, sejak beberapa generasi. Salah satunya adalah Suseno Karja yang merupakan Ketua RT setempat.

"Saya ini sudah keturunan ketiga. Kakek-nenek saya dari dulu sudah di sini," tuturnya sembari membagikan roti kepada para pengunjung, Sabtu (25/1).

Dengan warga yang sebagian besar penduduk asli itu, perayaan tahun baru Imlek tak kalah meriah dengan perayaan hari raya keagamaan biasanya.

"Tahun ini memang penampilannya selesai lebih cepat. Soalnya barongsainya banyak orderan. Kami gak enak, kami kan gak bayar," jelas Suseno.

3. Bukan untuk bisnis, kampung ini dijadikan tempat promosi toleransi

Ada Toleransi dalam Hangatnya Imlek di Kampung Tambak BayanKetua RT Kampung Pecinan Tambak Bayan, Suseno Karja saat perayaan Imlek, Sabtu (25/1). IDN Times/Fitria Madia

Suseno menganggap ramainya Kampung Tambak Bayan bukan sebagai potensi bisnis. Melainkan, potensi penyebaran nilai-nilai toleransi yang selama ini ada di kampung tersebut. Warga setempat ingin pihak luar melihat bagaimana warga kampung baik yang beretnis Tionghoa, Jawa, dan lainnya hidup berdampingan dengan damai.

"Kami di sini hidup tenang. Gak ada ribut-ribut gara-gara kamu keturunan China apa gimana. Gak ada," imbuh Suseno.

Suseno yang merupakan keturunan campuran Tionghoa-China pun merasa diterima dengan baik di kampung ini. Ia pun melayani warga dengan baik selama bertahun-tahun tanpa membeda-bedakan ras atau etnis tertentu.

Baca Juga: Imlek 2571 Disambut Hujan, Gubernur Anies Sebut Itu Penanda Suci

4. Hangatnya Kampung Tambak Bayan

Ada Toleransi dalam Hangatnya Imlek di Kampung Tambak BayanSuasana penampilan saat perayaan Imlek di Kampung Tambak Bayan, Sabtu (25/1). IDN Times/Fitria Madia

Selain meriahnya penampilan yang disuguhkan di sebuah gang lebar, kehangatan kampung ini juga terasa di dalam gang sempit mereka. Setiap rumah pasti membukakan pintu, kecuali rumah yang tengah ditinggal pemiliknya mudik atau pergi. Siapa pun bisa berkunjung ke rumah warga, orang asing sekali pun.

"Tadi saya mau ke rumah itu, mau wawancara. Eh ditawari makan sayur asem. Ya sudah saya makan sama teman-teman," celoteh seorang jurnalis, Deni Prasetyo.

Nurul pun merasakan hal yang sama. Meski bukan warga sana, tiap orang lewat menyapanya dengan ramah. Anak-anaknya pun dengan cepat berbaur dengan anak-anak warga sekitar. Mereka tampak bahagia memamerkan jajanan atau angpao yang didapat hasil unjung-unjung.

"Semoga bisa terus seperti ini, ya," tuturnya.

Baca artikel menarik lainnya di IDN Times App. Unduh di sini http://onelink.to/s2mwkb

Baca Juga: Ketupat Sayur Imlek di Tangerang dan Sejarah Singkat Cina Benteng

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya