Comscore Tracker

Profil Ajip Rosidi, Budayawan Sunda dan Jasanya untuk Dunia Sastra

Orang Sunda, khususnya, perlu berterima kasih padanya

Bandung, IDN Times - Dunia sastra kembali berduka. Sastrawan dan budayawan Ajip Rodisi berpulang dalam usia 82 tahun, Rabu, sekitar pukul 22.30 WIB dalam perawatan pascaoperasi di RSUD Tidar Kota Magelang, Jawa Tengah.

Ajip Rosidi itu menjalani perawatan sekitar seminggu terakhir, usai terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Nama besar Ajip sebagai sastrawan tak lepas dari ratusan karya yang telah dilahirkannya. Dia berhasil menulis puluhan buku berbahasa Indonesia dan Sunda. Atas jasanya, Ajip meraih gelar doktor kehormatan, honoris causa, di bidang budaya dari Universitas Padjadjaran pada 2011.

Berikut catatan tentang perjalanan hidup Ajip Rosidi.

1. Kehidupan di Jepang menempa Ajip

Profil Ajip Rosidi, Budayawan Sunda dan Jasanya untuk Dunia SastraAjip Rosidi (Instagram/@puisihelvy)

Pertengahan 1981, Ajip Rosidi tengah sibuk-sibuknya. Sebagai orang Indonesia yang diutus mengajar ke Osaka, Jepang, dia mesti mempersiapkan segala hal untuk menuntaskan urusannya. Bayangkan, sastrawan berdarah Sunda satu ini mesti mengajar 18 jam selama dua hari dalam satu pekan, sementara lima hari yang tersisa ia pakai untuk membaca dan menulis.

Perjalanan hidup Ajip di Jepang, menjadi inspirasi para penulis Indonesia adalah ketika ia diutus untuk mengajar Bahasa Indonesia di Osaka dan Kyoto, Jepang. Mengajar Bahasa Indonesia adalah misi utamanya. Sampingannya, ia mengenalkan Budaya Sunda secara tidak langsung pada mahasiswa Jepang.

Menurut buku “Tokoh Sastra Indonesia” yang disusun oleh Laelasari dan Nurlailah (2007), Ajip diceritakan tak pernah kekurangan mahasiswa selama mengajar di Jepang. “Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60 mahasiswa di Tenri Daigaku,” tulis buku tersebut.

Di sana, Ajip mengajar Bahasa Indonesia, Sastra Indonesia, Budaya Indonesia, dan Islam di Indonesia. “Beberapa muridnya kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.”

Selama di Osaka, Ajip tidak main-main soal produktivitas. Sebagai sastrawan dengan berhasil menulis 50 buku berbahasa Indonesia dan Sunda.

Baca Juga: Sakit Sejak Seminggu Terakhir, Sastrawan Ajip Rosidi Meninggal Dunia  

2. Perjalanan Ajip dalam sastra sejak belia

Profil Ajip Rosidi, Budayawan Sunda dan Jasanya untuk Dunia Sastrahttps://en.wikipedia.org/wiki/Ajip_Rosidi

Bakat Ajip di bidang tulis menulis telah jelas terlihat sejak belia. Pada usia 15 tahun, Ajip telah menjadi Pemred majalah Suluh. Pada usia 17 tahun, yakni sekitar tahun 1955, Ajip mulai menyabet berbagai penghargaan nasional. Ia pernah menyabet Hadiah Sastra Nasonal BMKN untuk puisinya pada 1955-1966, dan untuk prosanya pada 1955-1956.

Pria kelahiran 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa barat ini dikenal luas oleh masyarakat Pasundan. Ia memiliki seorang istri bernama Patimah. Setelah Patimah berpulang pada 2017, Ajip menikahi aktris senior Nani WIjaya.

Ia merupakan seorang budayawan sekaligus sastrawan dengan segudang karya, dan menjadi pendiri dari Pusat Studi Sunda pada 2003. Tak hanya itu, Ajip juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981).

Dia juga pernah menjadi Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1958-1979), Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956), serta Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955).

3. Dalami sastra Sunda tapi tidak etnosentris

Profil Ajip Rosidi, Budayawan Sunda dan Jasanya untuk Dunia SastraAjip Rosidi (Instagram/@obrolanmajalengka)

Bagi sastrawan Indonesia, Ajip merupakan sosok yang paripurna. Buktinya, ia sempat mendapat hadiah Sastra Rancage, sebuah penghargaan untuk karya sastra Sunda, Jawa, dan Bali. Penghargaan itu rutin diterbitkan tiap tahun sejak 1988.

Ia tidak bisa dipandang sebagai sosok yang etnosentris, karena sebenarnya bukan hanya budaya dan sastra Sunda saja yang ia kenalkan kepada khalayak dunia.

Tapi, Ajip boleh jadi merupakan salah satu tokoh Sastra Sunda yang paling penting yang pernah ada. Ia dianggap telah memahami seluk beluk Sastra Sunda, mulai dari kelahirannya, perkembangannya, hingga tantangan-tantangannya. Pengetahuan luasnya soal ke-Sunda-an membuat orang kerap kali menyebutnya sebagai “arsip hidup” paling lengkap.

Dengan kecintaannya terhadap bahasa dan budaya Sunda, ia mendirikan Pusat Studi Sunda bersama para sastrawan dan budayawan Sunda, dengan salah satu program penerbitan jurnal ilmiah Sundalana.

Artikel di atas pernah dimuat oleh IDN Times Jabar pada 26 November 2019. 

Baca Juga: [BREAKING] Kabar Duka, Tokoh Sastra Ajip Rosidi Meninggal Dunia

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya