Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
GMNI Soroti Ancaman Perang Dunia III di Tengah Konflik Global
ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)

Intinya sih...

  • Konflik global berakar pada imperialisme modern

  • Indonesia seharusnya kembali berperan strategis sebagai pelopor Gerakan Non-Blok

  • GMNI desak pemerintah komitmen tidak gabung blok dan lantang menentang perang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menyoroti buruknya kondisi politik internasional yang ditandai dengan meningkatnya konflik bersenjata dan rivalitas geopolitik antarnegara adidaya. Situasi ini dinilai membuka kemungkinan nyata terjadinya Perang Dunia III yang akan membawa penderitaan luas bagi umat manusia, terutama negara-negara berkembang.

GMNI menilai eskalasi konflik di berbagai belahan dunia bukan lagi sekadar persoalan ideologis, melainkan cerminan dari perebutan kepentingan ekonomi-politik global. Dalam kondisi seperti ini, rakyat sipil kerap menjadi korban utama dari ambisi negara-negara besar.

1. Konflik global dinilai berakar pada imperialisme modern

Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Internasional, Cristian Viery Pagliuca (dok. Tim Media GMNI)

Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Internasional, Cristian Viery Pagliuca, menilai konflik global saat ini berakar pada imperialisme modern, perebutan sumber daya alam, dominasi ekonomi-politik, serta kepentingan kapitalisme global.

“Negara-negara kuat menggunakan perang, sanksi ekonomi, dan intervensi politik sebagai instrumen, untuk mempertahankan hegemoninya, sementara rakyat dunia menjadi korban utama,” kata dia.

Cristian mencontohkan sejumlah konflik internasional yang menunjukkan pola serupa, seperti perebutan wilayah Rusia–Ukraina, penguasaan sumber daya alam Venezuela oleh Amerika Serikat dengan dalih penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ketegangan Amerika Serikat dengan Denmark, hingga perseteruan wilayah antara Thailand–Kamboja.

2. Soroti keputusan Indonesia gabung Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk Donald Trump

Presiden Prabowo Subianto bersama pemimpin dunia saat penandatanganan Board of Piece atau Dewan Perdamaian Gaza di sela World Economic Forum (WEF) 2026, di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). (IDN Times/Uni Lubis)

Cristian juga menyoroti keputusan Indonesia yang menyatakan keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, hal ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk kembali berperan strategis sebagai pelopor Gerakan Non-Blok dan jembatan perdamaian dunia.

“Jika dunia dipaksa memilih kubu, maka Indonesia harus memilih kedaulatan. Jika ‘perdamaian’ dijadikan alat dominasi, maka melawannya adalah sikap politik yang sah,” tegasnya.

GMNI menilai politik luar negeri Indonesia harus tetap konsisten pada prinsip bebas dan aktif, serta tidak terseret dalam kepentingan blok kekuatan mana pun di tengah ketegangan global yang kian memanas.

3. GMNI desak pemerintah komitmen tidak gabung blok dan lantang menentang perang

Ilustrasi perang/konflik. (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam pernyataannya, GMNI mendesak tiga pihak untuk mengambil peran penting. Pertama, pemerintah Indonesia agar tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif, tidak terseret dalam blok kekuatan mana pun, serta berani bersuara lantang menentang perang dan agresi militer di forum internasional.

Kedua, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diminta tidak tunduk pada kepentingan negara-negara besar dan kembali pada mandat utamanya sebagai penjaga perdamaian dunia. Ketiga, GMNI menyerukan solidaritas internasional rakyat dunia, khususnya gerakan mahasiswa dan kaum tertindas, untuk melawan perang, imperialisme, dan segala bentuk eksploitasi global.

GMNI meyakini bahwa perdamaian dunia hanya dapat terwujud melalui keadilan sosial, kedaulatan bangsa-bangsa, serta penghormatan terhadap hak menentukan nasib sendiri. Sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 dan semangat Dasasila Bandung, GMNI menyerukan: hentikan perang, lawan imperialisme, dan bangun dunia yang adil, damai, serta berperikemanusiaan.

“Perdamaian bukan hadiah dari negara kuat, melainkan hak seluruh umat manusia," tulis GMNI dalam keterangannya.

Editorial Team