Sekjen Partai Golkar Muhammad Sarmuji. (IDN Times/Amir Faisol)
Sarmuji mengatakan, munculnya sentimen penolakan di ruang publik disebabkan oleh kekhawatiran bahwa pilkada melalui DPRD akan menghilangkan keterlibatan rakyat, seperti yang terjadi pada era Orde Baru.
“Publik menyangka pilkada yang lagi didesain, apakah ada perubahan nanti seperti pilkada di zaman Orde Baru, yang partisipasi publiknya itu hampir nihil. Padahal kalaupun itu nanti ada perubahan desain, misalkan melalui DPRD, itu sama sekali bukan pilkada melalui DPRD seperti pilkada zaman dulu,” kata Sarmuji saat ditemui di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Kamis (8/1/2026).
Menurut dia, Golkar justru berupaya mengambil unsur-unsur terbaik dari pilkada langsung untuk dimasukkan ke dalam sistem pilkada tidak langsung, apabila nantinya perubahan tersebut benar-benar terjadi.
“Kami Partai Golkar akan mengambil sisi-sisi terbaik dari pilkada langsung untuk diakomodir, dimasukkan ke dalam sistem pilkada tidak langsung melalui DPRD, itu seandainya nanti terjadi perubahan,” ujar Sarmuji.
Sarmuji menegaskan, desain pilkada yang diusulkan Golkar sama sekali berbeda dengan pilkada pada masa Orde Baru yang minim partisipasi masyarakat.
“Ini sama sekali berbeda dengan pilkada zaman Orde Baru yang partisipasi publiknya hampir nihil,” ucap dia.