Paslon nomor 02 Prabowo-Gibran (Dok. Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran)
Azis menegaskan, perubahan posisi itu menggeser cara publik melihat Prabowo, dari figur perlawanan menjadi sosok yang bekerja dalam sistem dan berbicara dengan bahasa stabilitas. Transformasi tersebut, menurutnya, berjalan seiring dengan perubahan cara partai mengelola pesan.
Di balik itu semua, ada kerja sunyi yang jarang terlihat publik. “Yang kerap luput dibicarakan adalah kerja sunyi yang menopang semua itu. Pendidikan kader yang konsisten, perawatan struktur yang tidak tergesa, kerja senyap tokoh-tokoh kunci dan disiplin organisasi yang dijaga bahkan ketika tidak disorot kamera,” ujarnya.
Karena itu, kemenangan 2024 dinilai sebagai buah dari proses panjang. “Kemenangan 2024 akhirnya hadir sebagai akumulasi, bukan kejutan. Ia terasa ‘pasti’ bukan karena diramalkan, melainkan karena dipersiapkan lama,” kata Azis.
Ia menambahkan, bagi Gerindra, usia 18 tahun harus menjadi pengingat, bukan garis finis. Sementara bagi publik, perjalanan ini menunjukkan bahwa dalam politik yang serba cepat, yang paling bertahan bukan yang paling keras, melainkan yang paling tekun mengelola waktu.