Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas bersama Wakil Ketua Dewan Ekonomi Republik Indonesia Mari Elka Pangestu saat mengisi sesi diskusi Indonesia Summit 2025 yang digelar di The Tribrata, Jakarta, pada Rabu (27/8). (dok. IDN)
Kalau berbicara tren energi bersih untuk masa depan, ternyata tembaga akan jadi bintang utamanya. Dengan semakin banyak negara yang mengembangkan renewable energy dan mobil listrik (EV), otomatis permintaan tembaga pun akan ikut meroket.
Menurut Tony Wenas, kebutuhan tembaga global diprediksi bisa tembus 35–40 juta ton per tahun pada 2030. Sementara itu, tambang tembaga baru yang besar hampir gak ada dalam 10 tahun ke depan. “Padahal permintaan terus naik, supply terbatas, harga pasti akan cenderung naik. Which is good for the country,” ujarnya.
Indonesia diuntungkan karena punya cadangan tembaga yang besar. Freeport misalnya, sudah berhenti ekspor konsentrat mentah, tapi justru memproduksi katoda tembaga. “Akhir 2025, kapasitasnya bisa ramp up 100 persen ke 800 ribu ton per tahun,” tambah Tony.
Ia pun membandingkan dengan Chile sebagai produsen tembaga terbesar dunia, yang menguasai 25 persen suplai global. Mereka produksi katoda tembaganya tidak sampai 2 juta ton. Sementara Indonesia, dari satu perusahaan saja sudah bisa menghasilkan 800 ribu ton. Jumlah sebesar itu bisa dipakai buat bikin 8 juta mobil listrik, lho!
Menariknya lagi, potensi ini bikin investor asing makin melirik RI. Tony cerita, sudah ada pabrik copper foil asal Tiongkok, Heiliang, yang akan buka di Jawa Timur dengan kapasitas 100 ribu ton. Bahan ini penting banget untuk bikin baterai EV. Artinya, tembaga Indonesia bukan cuma dipakai buat diekspor, tapi juga bisa menarik industri hilir datang ke sini.