Bogor, IDN Times – Hiruk pikuk Tahun Baru Imlek sering kali identik dengan kemeriahan lampion dan atraksi barongsai. Namun, bagi umat Khonghucu di Kota Bogor, Imlek 2577 Kongzili adalah perjalanan spiritual yang jauh lebih dalam daripada sekadar perayaan fisik.
Bukan tentang hura-hura, Imlek adalah momen transisi jiwa dan pembersihan batin. Ketua MAKIN Bogor, Yulyanto, dan Ketua MATAQIN Kota Bogor, Wangsa Suryadinata, membagikan esensi sebenarnya dari rangkaian ibadah yang mereka jalani.
Bagi umat Khonghucu, Imlek adalah garis start untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Yulyanto menekankan bahwa esensi tahun baru adalah lahirnya harapan dan jiwa yang baru untuk melangkah maju.
"Di tahun Baru Imlek ini, kita bersama-sama memasuki lembaran baru. Kita berharap dengan harapan yang baru dan jiwa yang baru, kita bisa menjadi umat yang lebih baik dan lebih maju lagi," ungkap Yulyanto.
Menariknya, semangat ini tak hanya untuk orang tua, tapi juga ditanamkan pada generasi muda agar Indonesia bisa maju bersama.
Ini 3 Makna Imlek bagi Umat Khonghucu di Bogor

Intinya sih...
Ritual ibadah yang mengutamakan kehangatan keluarga
Ada masa "puasa" emosi selama 8 hari
Memahami bedanya Imlek dan Tradisi Ziarah Cheng Beng
1. Ritual ibadah yang mengutamakan kehangatan keluarga
Wangsa Suryadinata menjelaskan bahwa jadwal ibadah sekitar jam 19.00 WIB sengaja diatur untuk menjaga tradisi silaturahmi.
"Mengapa jam segitu? Karena setelah ibadah, umat biasanya langsung berkumpul di rumah kerabat masing-masing untuk silaturahmi. Itulah tradisi yang kita jalani," tutur Wangsa.
Baginya, ibadah dan keluarga adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam menyambut tahun baru.
2. Ada masa "puasa" emosi selama 8 hari
Ini yang jarang diketahui, menjelang puncak perayaan, umat Khonghucu diajarkan untuk menahan diri dari hawa nafsu. Ada masa sekitar 7 sampai 8 hari di mana pengendalian diri menjadi fokus utama.
"Yang paling utama adalah kita tidak boleh emosi berlebihan. Kita belajar untuk memperbaiki diri dan memperhatikan apa yang harus diperbaiki dalam hidup kita," jelas Wangsa.
Ritual ini merupakan bentuk penyiapan diri agar saat menghadap Tian (Tuhan YME), hati benar-benar dalam keadaan tulus dan bersih.
3. Memahami bedanya Imlek dan Tradisi Ziarah Cheng Beng
Banyak orang salah kaprah mengira ziarah makam harus dilakukan tepat saat hari Imlek.
Faktanya, ziarah serentak atau Cheng Beng memiliki jadwalnya sendiri yang mengikuti penanggalan masehi.
"Ziarah makam secara serentak yang disebut Cheng Beng itu biasanya jatuh di sekitar tanggal 4 atau 5 April," kata Wangsa.
Perbedaan ini terjadi karena umat Khonghucu menggunakan dua sistem penanggalan, yakni Lunar (Imlek) dan Masehi (Yang-lek). Jadi, ziarah saat hari H Imlek sebenarnya kembali ke pilihan pribadi tiap keluarga, bukan sebuah keharusan organisasi.