Ketika Imlek Pertemukan Bunga dan Doa di Wihara

- Bunga digunakan untuk sembahyang
- Penjualan bunga meningkat saat Imlek
Jakarta, IDN Times - Kawasan sekitar Wihara Dharma Bakti, Glodok, Jakarta Barat, dihiasi warna merah dan aroma bunga pada perayaan Imlek 2577 Kongzili ini. Bunga sedap malam, mawar, krisan, lili hingga carnation berjejer di lapak-lapak dadakan.
Jelang Imlek, warga Tionghoa berburu bunga segar untuk dirangkai dalam pot dan diletakkan di altar sembahyang.
Di depan wihara, ada Nursahid, pedagang yang lama yang setia bertahan di sekitar wihara. Sudah puluhan tahun dia berjualan di depan wihara. Namun, tahun ini dia merasakan tantangan berbeda.
“Cuma kalau rame, rame tahun kemarin, sekarang kita belinya mahal, cuma menjualnya, pembeli tuh sama aja kayak biasa gitu,” katanya kepada IDN Times, Selasa (17/2/2026).
1. Bunga untuk altar

Bagi para pembeli, bunga bukan sekadar hiasan.
“Banyaknya buat sembahyang,” kata Nursahid ketika ditanya soal tujuan pembelian.
Bunga-bunga itu memang dipersembahkan di altar. Seorang pembeli, membeli seikat bunga dari lapak Nursahid. Seikat kembang itu dihargai Rp35 ribu yang terdiri dari beberapa jenis bunga. Salah satunya adalah sedap malam.
2. Ada 200 ikat bunga bisa laku saat Imlek

Nursahid mengatakan, sebagian orang memilih bunga yang sudah dirangkai rapi agar praktis saat dibawa langsung ke dalam wiihara.
“Tapi kebanyakan belinya yang udah dirangkai,” ujar dia.
Dalam suasana ramai menjelang Imlek, angka penjualan dagangannya bisa meningkat signifikan, meski tak selalu pasti.
“Gak bisa tentu sih ya. Ya, nyampe lah 200 ikat," ujar dia.
Pada hari terakhir sebelum puncak perayaan, dia tetap melayani pembeli tanpa lelah.
“Ya, sampai jam 9. Semalam 24 jam. ini Hari terakhir lah ya,” kata dia.
3. Sudah berdagang sekitar 30 tahun

Perjalanan panjang Nursahid mengais rezeki di Wihara Dharma Bakti, bukan hitungan singkat.
“Gak cuma bulan, tahun. Ya, kurang lebih lah 30-an tahun," kata dia
Tiga dekade sudah Nursahid menyatu dengan riuhnya Imlek di halaman wihara, menyaksikan generasi berganti.
Wihara Dharma Bhakti merupakan kelenteng tertua di kota Jakarta. Awalnya kelenteng ini dibangun tahun 1650 dengan nama Kwan Im Teng. Bangunannya sempat hancur dalam kerusuhan 1740. Kelenteng ini kemudian dibangun kembali pada 1755 dengan nama Kim Tek Ie (Kebajikan Emas) yang menjadi pusat kehidupan komunitas Tionghoa di Batavia.
Seiring waktu, tempat ini dikenal sebagai Wihara Dharma Bhakti meski nama lamanya seringkali masih digunakan. Sebagai situs bersejarah, kelenteng ini menjadi saksi perkembangan budaya dan toleransi beragama di Jakarta selama berabad-abad.


















