Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026). (YouTube/YLBHI)
Dalam kesempatan yang sama, Islah mengungkapkan pengalamannya yang merasa menjadi target penguntitan oleh OTK yang diduga memiliki keterkaitan dengan aparat.
Dia mengatakan, peristiwa tersebut berlangsung secara berulang, sistematis, dan semakin intens dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir. Kejadian ini membuat dirinya mengambil langkah pengamanan dengan mengevakuasi keluarga serta meninggalkan rumah untuk sementara waktu karena situasi dinilai tidak lagi aman.
Islah menceritakan, awal mula dirinya menyadari adanya aktivitas mencurigakan justru berasal dari laporan warga sekitar rumahnya yang melihat sejumlah orang tidak dikenal mondar-mandir di lingkungan tempat tinggalnya saat dirinya sedang berada di luar kota. Aktivitas OTK ini terekam jelas melalui CCTV di rumah Islah maupun tetangganya.
"Sepulang dari acara peringatan 28 tahun reformasi di Universitas Islam Indonesia di Jogja, saya didatangi, saya pulang itu tanggal 21 Mei 2026, saya didatangi oleh tetangga kanan kiri, banyak sekali kurang lebih lima orang. Dia bercerita, ketika saya berangkat ke Jogja, ternyata di kampung saya itu udah diserbu oleh yang kita duga tentara," kata dia dalam jumpa pers yang sama.
Dia mengatakan, para OTK itu bergerak dengan kendaraan berbeda-beda, diduga menggunakan pelat nomor palsu, serta melakukan aktivitas pemantauan yang tidak biasa seperti memotret rumah, merekam situasi sekitar, hingga menanyakan detail pribadi keluarganya kepada tetangga secara langsung.
“Jadi ternyata mereka itu terdiri dari kurang lebih sekitar sembilan orang yang bergantian dengan motor yang berbeda-beda, kendaraan berbeda-beda dan semua plat nomornya palsu. Saya pastikan palsu,” ujar Islah.
Dia mengatakan, para OTK tersebut bahkan masuk ke ranah yang sangat personal. Mereka menggali informasi mengenai aktivitas harian anggota keluarganya, mulai dari jumlah anggota keluarga, pekerjaan, jam kerja, hingga pola aktivitas asisten rumah tangga. Menurut Islah, kegiatan ini sudah menyerupai proses profiling dan pemetaan target secara terstruktur terhadap dirinya dan lingkungan rumahnya.
“Menurut laporan tetangga juga, mereka (OTK) bertanya-tanya tentang anak saya. Anak saya berapa orang, mereka ada di mana, mereka ngantornya di mana, kerjanya di mana, Pak Islah kalau berangkat kerja jam berapa, Pak Islah kerja di mana dan seterusnya. Ada berapa orang di rumahnya Pak Islah itu anggota keluarganya, pembantunya ada berapa, pembantunya kalau datang jam berapa, apa yang dilakukan oleh pembantunya kalau pagi hari, siang hari, sore hari, dan seterusnya," kata dia.
Islah kemudian menjelaskan dugaan penguntitan tidak hanya terjadi di sekitar rumah, tetapi juga berlanjut ke aktivitas mobilitasnya bersama keluarga. Termasuk saat dia menjemput anaknya yang libur kuliah di Malaysia hingga melakukan perjalanan ke beberapa lokasi di Jakarta. Dia menuturkan adanya satu mobil yang terus mengikuti pergerakan mereka secara konsisten, mulai dari titik keberangkatan, tempat makan, hingga perjalanan kembali menuju rumah tanpa terputus.
“Saya menjemput anak saya yang liburan. Karena anak saya kuliah di Malaysia, dia libur Idul Adha, saya jemput ke bandara. Saya belum sadar (dibuntuti OTK). Nah ketika ponakan saya itu duduk di barisan belakang karena seven seater. Ponakan saya itu curiga. Ketika keluar dari rumah, ada mobil Avanza ini," kata dia.
Dia mengatakan, kendaraan tersebut terus membuntuti hingga perjalanan kembali ke rumah, termasuk saat dirinya berhenti di beberapa titik kecil seperti toko swalayan, sebelum akhirnya kendaraan itu menghilang ketika dia sudah memasuki area gang rumah. Dia menduga adanya pola pengawasan terarah semakin menguat.
“Jadi mulai dari berangkat ke bandara sampai saya mampir di restoran untuk menjamu anak saya yang baru pulang dari Malaysia di PIK 2 itu, mereka juga ikut parkir tapi tidak ikut makan. Ketika saya pulang dari Pagi Sore ke arah rumah, dia juga mengikuti terus sampai keluar pintu tol. Saya keluar dari tol, saya beli rokok, rokok saya habis, dia juga ikut berhenti dan kemudian sampai ke rumah, dia baru melepas saya ketika saya masuk ke gang rumah," kata Islah.